Tuesday, October 25, 2016

Menikah. Ciyee..

Menikah. Satu kata yang sakral, tapi kayaknya udah jadi perbincangan receh untuk jaman sekarang. Apa nilainya udah berubah? Atau emang udah dari dulu begitu cuma aku aja yang berubah? Entahlah. 

Kenapa tiba-tiba pengen ngomongin nikah? Sebenernya nggak tiba-tiba sih, udah dari dulu cuma jadi benar-benar direalisasikan setelah kejadian 2 minggu lalu di Samosir.

Jadi 2 minggu yang lalu opung boru meninggal dan aku ikutan pulang kampung setelah terakhir ke sana 4 tahun yang lalu. Seneng sih, tapi sedih karena pulangnya dalam rangka kedukaan. Dan, sedihnya lagi aku satu-satunya cucu perempuan yang pulang dan ikut acara pemakaman sampai habis. Sebenernya ada cucu perempuan satu lagi yang pulang, tapi, nah ini dia topiknya, dia sudah menikah. Well, hampir semua sih cucu perempuan opung yang (katanya) cukup umur udah pada married. Tinggal aku lah yang tertua di antara para cucu perempuan yang belum menikah. Dan di sinilah topik itu dimulai.

Sebenarnya sejak aku menginjakkan kaki di rumah duka, itu udah jadi topik hangat.

"Kamu sendiri ke sini, Dek? Mana kawanmu?"
"Kawan-kawan ya di rumahnya, bou. Masa ikut-ikut ke sini? Hehehe.."

"Kapan kita pesta?"
"Kan besok kita pesta, nanguda."
"Pestamu lah.."
"Hehehe.." *melipir

"Marga apa calonnya Adek?"
"Masih dirahasiakan yang Maha Kuasa, nanguda."

"Adek, cepat-cepatlah ya biar namboru ke Bandung."
"Namboru ke Bandung aja sini main-main."
"Harus ada acara lah.."
"Tinggal dibikin acaranya, namboru. Isni bentar lagi wisuda."
"Acara kamu lah, menikah."
Dhuar. Skak mat. Kode-kodean berakhir.
"Hehehe sabar-sabar aja namboru, belum saatnya."
"Sudah saatnya dong, Adek kan udah 27. Udah harus menikah itu."
"Jangan dipaksa umur lah, namboru. Tunggu waktunya Tuhan aja."
"Makanya Adek jangan cuek-cuek lah. Jangan tinggi-tinggi standardnya. Lirik-lirik sedikit. Gak ganteng-ganteng banget juga nggak apa-apa lah, asal baik dan beriman."
"Amin, namboru. Doakanlah."
Penutup yang manis? Ternyata tidak.
"Iya, selalu namboru doakan kok. Tinggal Adeknya aja buka hati."
#eaaaaak skak mat lagi.

BEgitulah setiap hari selama di Samosir. Adaaa aja nyerempet-nyerempet ke sana. Hingga detik-detik menunggu travel menjemput. Gak tanggung-tanggung, dibicarakan di depan semua keluarga besar.

".... bla bla bla.. Adek, kamu adalah salah satu cucu opung yang cukup umur untuk menikah. Bapauda sarankan, segeralah. Doakan itu khusus, jangan sampai kelamaan. Wanita nggak bagus lama-lama, bisa jadi perbincangan orang. bla.. bla.. bla.. Oke, travelnya sudah mau datang, mari kita berdoa."

Fiuh, tinggal berdoa.

Tapi.

Di dalam doapun disebutkan lagi.


"... Anak kami Adek sudah cukup umur untuk menikah. Kiranya berikanlah Ia jodoh yang tepat untuk dapat melengkapi hidupnya, menemaninya dalam pelayanan.. dst.. dst.."

Sampe apal. Sepupu di sebelah udah nahan-nahan ketawa. Hmmmmmmm... Good job, bapauda.

*menangis di pojokan*

Mungkin kerinduan keluarga besar supaya aku menikah ini sudah membuncah ya, sampai-sampai pas bapauda datang ke Bandung seminggu kemudian, ini kembali menjadi topik. Di renungan pagi.

"Adek, boleh pimpin ya renungannya."
Waktu itu renungannya tentang Yesus disalibkan, di mana Yesus sudah menyelesaikan tugasnya di bumi ini, hingga akhirnya bisa mengatakan, "It is finished." 
"Jadi, sebagaimana Yesus di dunia ketika hidup mempunyai misi, yaitu melakukan kehendak Tuhan, begitu juga kita. Kita hidup bukan tanpa tujuan, ... mengabarkan injil.. bla bla bla.. Ada tambahan?"
"Oke, uda mau sedikit menambahkan."
Duh, perasaan saya tidak enak.
"Sebagaimana Yesus juga memiliki misi dalam hidupnya, kitapun demikian. Ada proses-proses yang harus kita jalani. Mulai dari lahir, sekolah, kuliah, bekerja, menikah.."

Ehmmmm...

Tidak usah diketik di sini lagi deh ya. Sama kayak di atas kok. Mungkin bapauda belajar teori media exposure ya. Harus diulang, diulang, diulang supaya akhirnya terhipnotis. Oke, saya menikah. Well, not yet, bapauda. Nice try.

Well, aku juga agak merasa bersalah sih. Aku adalah korban pertanyaan "Kapan wisuda?" yang akhirnya tanpa sadar ikut membalas dengan "Kapan nikah?" Untung kalau ada pemakaman aku masih bisa menahan diri untuk nggak bilang, "Kapan nyusul?"

Iya, itu nggak lucu. :(

Jadi, kapan aku menikah? Ya kalau sudah waktunya. Menikah itu keputusan sekali seumur hidup. Menyangkut kehidupan sekarang dan yang akan datang. (ciyeh gitu..) Kalau salah, ga bisa diundo. Ya kan?

Kemaren aku ketemu seorang temen. Kakak-kakak sih tepatnya.

"Kak, mau ke mana? PA yuk."
"Ga bisa euy, aku mau ke rumah si X. Aku biasanya sekali seminggu memang ke rumah dia."
"Ngapain kak?"
"Ya nemenin dia aja, kasihan sendirian."
Aku lupa bagaimana percakapan kami persisnya seperti apa (maafkan penyakit short-term memory aku please..), intinya sih dia bilang si X ini udah menikah.
"Oh udah menikah? Suaminya ke mana kak kok aku gak pernah lihat?"
"Entahlah udah sama cewek lain, gak jelas."
"Oh jadi mereka udah nggak tinggal bareng?"
"Ngga. Huhuhuu.. Aku kapan ya nikah?" (Fyi, usia kk ini kayaknya hampir 40)
"Tenang aja kak, ada waktunya."
"Dia udah nikah, aku belum. Huhuhuu.. Aku kan pengen juga."
"Ya sabar aja kak, mending belum menikah kan dari pada berakhir kayak gitu?"
"Tapi kan yang penting udah menikah, aku belum.."
"Kakak lebih memilih menikah tapi gak bahagia dan bahkan ditinggalkan dari pada single gini?"
"Enakan menikah lah.."

Well, aku nggak ngerti sama jalan pikirannya kk ini. Masih aja ngiri sama temennya yang menikah walaupun ditinggal dari pada mensyukuri ke-single-annya dan waktu yang masih dia punya untuk meminimalisir kegagalan di masa depan. Entahlah, mungkin dia sudah terlalu tertekan dengan teman-teman seumurannya yang udah pada menikah dan mungkin juga sudah bosan dengan pertanyaan "Kapan nikah?" dari orang-orang sampe-sampe berpikir lebih baik menikah dan gagal daripada tidak sama sekali. Ck. Ngeri uga.

Yes, menikah adalah keputusan seumur hidup, menyangkut kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Menikah bukan tanaman yang bisa dikarbit. Menikah gak semudah bikin vector di Adobe Illustrator yang kalau salah tinggal ctrl-Z sesuka hati. Aku sudah melihat terlalu banyak contoh pernikahan yang 'dipaksakan' dan gak sedikit berakhir dengan perceraian. Banyak juga contoh pernikahan tanpa perceraian tapi sangat terlihat 'mencoba bahagia'. Mencoba bahagia kan menguras energi juga yak. *ciyee pernah..*

Aku sih lebih memilih menikah 'terlambat' dari standard 'sosial' dari pada dikejar umur yang membuat sisa hidup penuh penyesalan. Aku tau maksud baik dari para orang tua yang terkesan mendesak anak-anaknya segera menikah setelah mencapai usia tertentu. Tapi, please sekali dua kali cukup lah. Percayalah, anakmu juga sedang mendoakan yang terbaik. Aku lebih gak mau orang tuaku malu karena pernikahan anaknya berantakan dari pada anaknya menikah lama. Tidur dengan lampu mati apa nyala aja bisa jadi masalah, belum lagi soal nanti nikahnya gimana, tinggalnya di mana, anaknya dibesarkan dengan cara gimana, duit siapa yang megang, ngatur duitnya gimana, ini masaknya gimana? HAHAHA. Dan gimana-gimana lainnya. Aku juga gak bisa menjamin pernikahanku nanti seperti apa, tapi berusaha meminimalisir kegagalan itu. Buat para orang tua, bersabarlah. Dan janganlah lelah mendoakan.

Untuk yang suka nanyain "Adek kapan nikah?", jika kalian becanda, bertobatlah. Iya aku juga suka nanyain gitu ke orang, aku juga mau tobaaat. :( Menikah itu bukan becandaan. Kalau benar-benar menginginkan teman segera menikah, bantulah. Kenalin sama yang baik-baik. Taulah ya, baik maksudnya gimana. Dan kalau bisa ganteng-ganteng. Hihihiii.. Kalau udah umur 25 ke atas, jangan lah dicengcengin gitu. Atau digosipin gitu. Dicengcengin bisa baper loh. :( Digosipin bikin hubungan rusak loh. :(
(haduh, aku jadi kelatahan pake emot Andre!)

Biarlah semua mengalir apa adanya. Walaupun sampai sekarang akupun masih belum ngerti bagaimana mengawali sebuah hubungan seperti itu. Tapi seiring berjalannya waktu, Tuhan pasti kasih pencerahan kan. Mungkin aku sudah berbeda dengan aku yang beberapa tahun lalu. Aku dulu masih berpikir menikah itu nggak begitu penting. Nggak menikah juga nggak apa-apa. Tapi aku sekarang aku tau, ini bukan hanya tentang aku. Ini tentang keluargaku, teman-temanku, pelayananku, yang nggak bisa selama-lamanya begini terus. Tuhan sudah menciptakan pasangan bagi Adam, menjadi penolong buat dia. Aku nggak bisa egois hanya menolong diriku sendiri. Aku harus jadi penolong buat orang lain. Yah, walau sampai sekarang aku masih berpikir, aku bisa nolong apaa? Ada juga nambahin kerjaan. 

Tapi aku sudah mulai melihat betapa indahnya Tuhan merancang pernikahan itu. Punya partner pelayanan yang bisa saling mengandalkan, ada temen doa bareng, temen belajar Alkitab bareng tiap hari, temen curhat, temen yang mau dengerin ide-ide konyol kamu, temen yang menerima kesalahan kamu dan sabar menunggu kamu belajar berubah, temen masak dan beres-beres rumah (please yang jago masak, please..), temen cuci piring, temen hiking (please banget, Tuhan...), dan yang terpenting, temen untuk sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan. Aduh. indahnya pernikahan itu. *Tolong jangan ada yang ingetin soal bayar listrik dan sakitnya melahirkan, tolong*

Yes, I want to get married someday. But until the day comes, please stop asking and start praying. And helping. Hehehehehe... Oke, ini tulisannya udah kepanjangan. Mari kita akhiri segera dengan ikrar SAYA AKAN BERHENTI NANYA ADEK KAPAN KAWIN DAN BAKAL NGEDOAIN ADEK DAPET JODOH YANG SEPADAN. DAN SUKA MEMIMPIN SEKOLAH SABAT. DAN SUKA HIKING. HEHEHE... DAN SUKA MASAK. DAN BISA MELAHIRKAN. Eh itu ga bisa ya? Ya udah deh. YANG SUKA BANGUN PAGI. DAN SUKA PIZZA. Hihiw... Mantips.

AMIN YA ROBBALALAMIN...

Monday, October 17, 2016

Tidak Jelas

Lama ga nulis, selalu bingung harus memulai dengan bagaimana.
Dan mulai menulis selalu dimulai oleh alasan yang sama:
Ga tau mengadu sama siapa selain doa.

Kenapa tumblr? Karena followersnya ga banyak, jadi ga banyak yang baca. He he he..

Lah, kenapa publish kalo ga pengen ada yang baca? Kenapa ga nulis di kertas trus dibuang ke laut biar ga ngabisin kuota?

Jangan, ntar bu Susi marah.

Oke, apa gerangan penyebab kegelisahan hati kali ini?
Ah, ternyata ga oke juga buat dipublish. Yasudahlah ga jadi.


HA HA HA HA...


(Adek, 27 tahun, masih labil)


*dan akhirnya jadi ngepost di blogspot gegara judul tumblr terlalu berat*
*menatap diri tak percaya di depan cermin*

Wednesday, April 13, 2016

Weekend with Siblings

It's been years not in a full team siblings! And become a tourist in my own town and it feels so good!

Wednesday, March 30, 2016

Promise Me

I thought of you again today, wherever you may be
I know you're out there in the world, and I know you're meant for me
Though I don't know when we'll meet, (to me you are just a prayer)
I pray you're walking close to God, and that He'll keep you in His care

Promise me forever, forever and a day
I promise I will wait for you, oh will you wait for me?
So many people come to this with only pieces
I promise I'll stay true to you, in everything that I do, Forever...

So many things uncertain, so shaky is the world
But I am standing safety, sheltered in His hand
I know His timing's perfect, and I know His will is true
And so I'm growing as I wait, as He's preparing me for you.

Nebblett Family - Promise Me


(Adek is feeling zupahexcited!)

Monday, March 28, 2016

Ekspedisi Gunung Manglayang

"Ah, cuman 3km kok hikingnya," kata kami sambil menggendong rumah di punggung
Peristirahatan pertama, masih beberapa puluh meter dari titip pendakian awal.
Infused(ion) Water in making. Pendakian awal masih kelihatan loh dari sini..
Levitasi? Bukan. Ini sudut kemiringan pendakian kita yang mengejutkan! 70 derajat!
Levitasi? Bukan. Ini sudut kemiringan pendakian kita yang mengejutkan! 70 derajat!
Semangat! Semangat! (Udah sempet kepeleset sampe 6 meter cobaaa..)
Pemandangannya, priceless! Sekaligus mengerikan. #acrophobiaproblem
Sampai lokasi perkemahan, gerimis. Tenda berdiri tepat waktu! Mari makan wahai pasukan kelaparan!
Mumi di pagi buta.
Makam eyang. Permisi, eyang..
Berjemurlah sebelum berjamur.
Sarapan pagi di tengah hutan
Di pagi yang cerah, indomie merekah.
Pasukan siap pulang!
Tangan-tangan gatal.
Iya, di batu ini aku hampir menyerah,
Sana sini pohon dan kabut.
Jangan menyerah, jangan menyerah..
Penghuni pohon keramat
Batu Keramat
Trio Tidak Takut Kepeleset
Penyanyi Batu
Panorama
I'm coming back home

Wednesday, February 3, 2016

Bow the Knee

Bow the Knee
There are moments on our journey following the Lord
Where God illumines ev’ry step we take.
There are times when circumstances make perfect sense to us,
As we try to understand each move He makes.
When the path grows dim and our questions have no answers, turn to Him.
Bow the knee;
Trust the heart of your Father when the answer goes beyond what you can see.
Bow the knee;
Lift your eyes toward heaven and believe the One who holds eternity.
And when you don’t understand the purpose of His plan,
In the presence of the King, bow the knee.
There are days when clouds surround us, and the rain begins to fall,
The cold and lonely winds won’t cease to blow.
And there seems to be no reason for the suffering we feel;
We are tempted to believe God does not know.
When the storms arise, don’t forget we live by faith and not by sight.