Monday, April 28, 2014

Rape is Never the Victim's Fault?

Beberapa hari ini satu berita yang menghiasi TV dan media lainnya. Menghiasi, tapi gak bikin indah. Iya, beritanya menyakitkan, menyedihkan. Pemerkosaan terhadap anak-anak. Yes, gak cuma satu, banyak kasus akhirnya menguak sejak (yang pertama aku tau) pelecehan seksual terhadap anak TK di JIS. Sedih. Sedih banget. Tapi gak mengagetkan toh memang dunia akan semakin jahat. Ayah bunuh anak, anak bunuh ibu, mutilasi, pembunuhan, could it be worse? Please no. But it will. :(

Kejahatan dunia sekarang juga bukan hal yang baru, toh di Alkitab udah dibilang "Tidak ada yang baru di bawah kolong langit." Kriminalitas sekarang juga gak lebih jahat dibanding jaman Abraham dulu, sampe-sampe tuhan kasih air bah. Bedanya, sekarang ga akan ada air bah. Aku pernah bertanya-tanya, kek gimana ya sucinya hidup si Henokh ini sampe-sampe diangkat ke surga tanpa mengalami kematian. Kupikir jamannya dia gak ada yang jahat kalik ya. Setelah diulik, Alkitab dan Roh Nubuat bilang NOPE. Sama jahatnya. Bedanya, dia memilih untuk tetap bergaul dengan Tuhan. WOW. Can I?

Kemarin ada selebtweet yang posting gambar ini yang tentunya langsung ramai diRT setimeline. RAPE IS NEVER THE VICTIM'S FAULT. Ya, emang sih siapa yang mau dan berencana buat diperkosa? None. Tidak ada wanita atau pria waras yang menginginkannya. Tapi, gambar ini bisa bermakna lain. Bisa bikin wanita yang kurang bijak menangkap sebagai "I'll dress as I want, as the pictures describe, but I dont want to be raped."

Sure we all know that men are visual. Ini gak membenarkan tindakan perkosaan. DENGAN ALASAN APAPUN. Tapi please girls, cara kita berpakaian sangat sangatlah menentukan. Untuk apa kita berdandan? Tanpa munafik, aku bisa bilang untuk terlihat menarik. Kalau cuma terlihat layak, come on, kita gak akan menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit, beratus-ratus ribu, cuma demi terlihat pantas tok. Kita ingin terlihat menarik, oleh sesama jenis, atau lawan jenis. Dan kemudian menggunakan pakaian kurang bahan? Rela kena masuk angin, duduk gak nyaman, BUAT APA? Dan kalau masih bersikeras dengan tipe pakaian ini, terima resikonya. Sorry to say. Pake rok mini tapi kalo ada yang lirik-lirik tersinggung. Girls!

Tapi jangan juga sampe bilang aku picik, bilang kasus perkosaan cuma salah si korban dan pakaiannya. Baca baik-baik. Appearance kita itu bisa 'memancing'. Lalu bagaimana dengan kasus yang diperkosa padahal pakaiannya baik-baik saja? Dan di tempat yang tidak diduga. Nah kalau itu di luar kuasa kita. Setan itu bisa di mana aja. Yang perlu kita lakukan adalah berhati-hati dan mengusahakan apa yang bisa kita usahakan. Salah satunya, berpakaian yang layak. Mau tau bagaimana yang layak? Seharusnya sih kita semua tau. For Adventist, we are instructed very very clearly on the Bible and Spirit and Prophecy. Itu bukan cuma alasan sopan gak sopan, Tuhan ga sedangkal itu. Itu buat kesehatan, dan keselamatan. Ya, pakaian ada hubungannya sama keselamatan. Eternal Life.

Dan satu lagi, bagaimana kita berpakaian mencerminkan siapa Tuhan kita. Apakah tuhan kita fashion? Pacar kita? Gebetan kita? Uang kita? Pujian untuk kita? Sampe-sampe banyak kasus terlambat kebaktian gara-gara kelamaan dandan. I've been there. And I don't want to stay there. And last quote..

"Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Tuhan." 
"Whose adorning let it not be that outward adorning of plaiting the hair, and of wearing of gold, or of putting on of apparel; But let it be the hidden man of the heart, in that which is not corruptible, even the ornament of a meek and quiet spirit, which is in the sight of God of great price." 1 Pet 3:3,4

(diketik 22 April 2014) 



No comments: