Monday, August 19, 2013

Dilema Jadi Orang Batak (part 1)


Pernikahan jadi topik siang kemarin antara aku dan mama, dengan papa yang pura-pura gak denger, tapi PASTI banget nyimak.

Intinya sih, papa keukeuh nikahan abang itu kudu dipestain. Secara, abang cucu laki-laki pertamanya opung dari papa. Sedangkan abang, pengennya sederhana aja, jadi duitnya juga bisa dipake buat yang lain.

Hmmphh.. Ini salah satu dilema jadi orang Batak. Aku ngerti pemikiran papa, kenapa musti diadatin, dipestain, undang banyak keluarga dan kerabat. Dan aku juga ngerti pertimbangan abang. Dan tentunya mendukung 100%. Ngapain spend banyak duit di satu hari, tapi kemudian di hari berikutnya malah jadi nyusahin. Pesta heboh, tapi besoknya luntang-lantung mikirin pengeluaran selanjutnya. Dan yang paling penting, uang terbuang sia-sia, sama sekali gak disenangi Tuhan.

Selain itu, sangat menyedihkan melihat beberapa pernikahan adat Batak yang pernah aku datangi. Penuh asap rokok, minuman Alkohol, tata cara yang bertele-tele, musik yang kencang, dan penuh hura-hura. Yang punya hajat malah gak bisa menikmati acara yang seharusnya sakral ini.

Iya, ini dilema. Di satu sisi, ingin menjalin hubungan baik dengan saudara-saudara sesuku, tapi di sisi lain, menyadari bahwa ini salah. Salah banget. Gak sesuai dengan apa yang Tuhan suruh.

Ikut Tuhan memang harus total ya. Ngikut yang Tuhan bilang, efeknya bisa diomongin sama keluarga yang lain, dicibir tetangga, dan macem-macem efek lain. Tapi harus siap. Toh semua juga buat kebaikan diri sendiri. Semoga keluarga dapat solusi yang terbaik deh. Mohon doanya. Soalnya ini berhubungan sama pernikahanku nantinya juga. Hihihii..

No comments: