Friday, June 7, 2013

Buah Kesabaran

Di acara Tuesday Meeting IMAB beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang kesaksian. Kesaksiannya bikin saya emosi pada awalnya, tapi kemudian terenyuh pada akhirnya. Sebut saja, R, Ralda. Eh kesebut. Ya udah sik, terlanjur. Oke, jadi dia kesaksian cerita waktu dia kelas 6 SD. Jadi R ini tinggal di daerah bawah Cihampelas. Buat yang pernah ke sana, tau kan kali panjang yang terbentang di sepanjang jalam Cihampelas bawah itu banyak pemukiman? Nah di daerah situ kejadiannya. 

Jadi, dulu, tiap kali pulang sekolah, R ini selalu lewat daerah kali itu. Dan di sana, ada sekelompok anak (sepertinya sebaya R dan semuanya cewek!) yang selaluuu aja ngejek-ngejekin R ini. Terutama setiap kali dia pulang gereja (dengan pakaian rapi) gitu. Mereka selalu teriak-teriak "Haleluuyaa.. Haleluyaa.." sambil cekikikan nunjuk-nunjuk ke arah R. Dan gak jarang, mereka ga cuma mengejek dengan kata-kata yang mencemooh, mereka juga suka menciprat air dari kali ke badan R. Rese? Banget. Saya aja yang denger ceritanya emosi. Jangan tahan saya, jangaaan. Oke, emang ga ada yang nahan saya juga sih. Lanjut. Gak puas sampai situ, ternyata anak-anak itu juga pernah beberapa kali meludahi R. Sekali lagi, sambil mencemooh dia. Kurang ajar? Bangeeeet. Saya kesel dan sedih dengernya. Diajarin apa mereka sama orang tuanya sampe sekurang ajar itu memperlakukan seseorang yang sama seperti mereka juga, manusia, dengan kurang ajar begitu dan bahkan dalam usia sebocah itu. Huft.

"Terus reaksi kamu gimana, R pas digituin?" kami penasaran. Aku berpikir, ya setidaknya sebagai bocah normal R bakal refleks dorong mereka, nangis, atau sekedar ngadu sama papanya. Terus papanya marah-marah ke orang tua anak-anak itu. Dan !$#^%^%(&^)(^&). Untungnya drama itu hanya ada di kepalaku yang isinya masih dihuni setan ini.

"Aku diem aja. Terus aku pulang, ganti baju."
Hah? Gitu doang? Buseeeet. Kami pada bingung. Terus dia lanjut cerita.

"Trus waktu itu aku ke warung, ketemu sama anak cewek yang ketua geng mereka." Ebuseet bocah-bocah ini udah kenal geng-gengan! "Terus aku datengin dia, terus ajak salaman. Aku bilang 'Maafin aku ya kalo aku punya salah sama kamu', anak itu kaget. Terus pergi."

"Huwoow. Kamu ngapain minta maaf?" Kami bertanya bingung. R cuma tersenyum kemudian melanjutkan.

"Terus waktu aku pulang, ternyata anak tadi ada di depan rumahku. Dia ngajak kenalan. Dan kami jadi temenan." Sejak saat itu, anak-anak itu gak pernah lagi ngejekin Ralda.

Seketika aku kagum dan salut. Dengan usia semuda itu, dia bisa bersikap sesabar itu. Seandainya aku di posisi dia, aku mungkin ambil tindakan kayak yang aku pikirkan di atas, dan pasti ceritanya jadi lain. Endingnya mungkin jadi berantem dan ga ada yang terubahkan. Yang ada, permusuhan makin besar, kebencian, pokonya ga ada bagus-bagusnya sama sekali.

Benar-benar kesabaran yang berbuah manis. Salute, R! Buat aku dan kita yang masih sering pake emosi ketimbang pakai hati, yuk berubah. Sedikit, sedikit, demi sedikit. Untuk pribadi yang lebih baik di masa depan. Kalo nggak orang lain yang terubahkan, kitalah yang diubahkan. Betul? :)

No comments: