Monday, April 8, 2013

After All Those Times

Today, for the first time, after few month passed, I came back to this place. The place I hate (let say) the most. But the more I hate it, the more I have to stay. And today, again, it feels so ridiculous to be here. Looking at those people and bewailed.

Thursday, April 4, 2013

IMAB MERDEKA - Masa Kebodohan Itu

Entah kenapa saya lagi pengen ngepost soal kejadian-kejadian yang udah lama terjadi. Barusan keingetan waktu acara 17 Agustusan bareng IMAB. Sebuah keajaiban akhirnya aku bisa menikmati acara tanpa harus jadi panitia. Huray!

Jadi waktu itu kami janjian jam 7 pagi di tulisan D.A.G.O buat kumpul briefing. Jadi sejak 2 tahun terakhir ini IMAB selalu merayakan 17 Agustusan dengan hiking, jalan-jalan ke hutan atau Amzing Race. Dan kali ini si panitia IMAB Merdeka memilih buat bikin acara semacam Amzing Race atau sebut saja Balapan Hebat. Yak yang kayak di tipi-tipi itu, kita disuruh keliling kota Bandung, dengan dikasih clue tertentu sampai pada titik akhirnya. Dan setiap kelompok yang udah dibagi gak diperkenankan bawa uang selain yang udah dijatah oleh panitia. Dan kali ini kami dikasih jatah Rp.12.500 per kelompok, yaitu 3 orang. Hufft..

Saya beserta tim biru yaitu Jib dan Adrianpun memulai petualangan ini. Di awal, panitian nyuruh kita buat menjawab semua clue dengan jangan terlalu berpikir banyak. "Berpikirlah seolah-olah kalian anak kecil. Soal-soalnya gampang-gampang kok," kata mereka. Woke!

Pertanyaan pertama, kedua, ketiga terjawab dan kami laksanakan dengan tanpa susah payah. Seinget saya waktu itu tugasnya disuruh fotoan sama kuda. Tapi di kertas clue gak ditulis 'kuda' melainkan bahasa latin dari kuda. Yah itu sih tinggal googling beres lah. Thanks to Google!

Kemudian sampailah kami ke pertanyaan begini:

"Kembalilah ke masa di mana kalian tidak perlu repot memikirkan baju apa yang akan dipakai, ke waktu sebelum acara Spongebob ditayangkan."

lanjutannya.. aku lupa, pokoknya disuruh menengadah, dengan tangan ditekuk sebesar 45%.

Di clue awal kami cukup berdebat. "Maksudnya masa tidak repot memikirkan baju, masa sekolah, kali," entah Jib atau Adrian yang berpendapat.

"Masa sekolah kan kita tetep mikir mau pake baju apa. Anak-anak sekarang kan udah suka milih-milih baju. Pasti maksudnya masa bayi. Dan, kan di deket sini ada toko peralatan bayi!"

"Trus ini menengadah trus sikap hormat 45% gimana ceritanya. Bukannya maksudnya upacara bendera?"

"Oh itu pasti kita disuruh ngehormat ke gambar bayi! Di Lavie (toko peralatan bayi) itu kan ada gambar bayinya! Kita disuruh ngehormat ke situ trus difoto! Spongebob kan tayangnya jam 6, mana ada upacara sebelum jam 6!" aku bersemangat dengan analisisku. Mereka tampang ragu, tapi aku langsung mengambil keputusan bahwa kami harus segera ke Lavie. Amat yakin. Padahal si Amat juga gak yakin-yakin banget.

Sampe di Lavie, kami nyari gambar bayi dan.. gak ketemu. Setelah bingung ga ada gambar bayi, ahaaa..
"Mungkin kita harus pake bayi beneran. Yuk cari bayi yuk!" ide aneh si Adek muncul. Setelah celingak-celinguk nyari bayi, akhirnya aku nemu ibu-ibu yang lagi gendong bayi. Dengan pede bak sehabis memakai Rexona aku mendatangi si ibu.

"Permisi, Bu. Maaf ganggu. Saya lagi ada tugas buat fotoan sama bayi. Boleh kan numpang pinjem dedeknya buat fotoan?" si Ibu awalnya heran, tapi akhirnya ngangguk. "Iya aja deh daripada anak gue digigit," pikirnya, mungkin. Kami fotoan, dengan pose aku menghormat ke bayi itu dan selesai. Kami berterimakasih sama si Ibu dan suaminya yang masih dengan tampang heran.

Clue selanjutnya. "Temui 5 Sang Pencerah di institusi nonformal tempat kita berkumpul dan belajar bersama." Hmm.. Apa pulak ini. "Institusi nonformal, maksudnya tempat les gitu kan? Ada tempat les gak sih di daerah sini?" kami mulai berpikir.

"Kalo ga salah ada deket Famos gitu deh! Iya ada! Tempat Les Bahasa Inggris!" Adrian bersemangat.
"Beneran? Ayo ke sana kalo gitu!" Aku ikut bersemangat. Kemudian kami berjalan dan cukup jauh, tapi si tempat les gak ketemu juga. Wah udah gak beres nih. Masa sejauh itu sih?
"Gakpapa, jalan aja dulu, setauku emang ada di sini." Jib ikut bersuara. Akhirnya kami terusin jalan, daaaan ketemu deh tuh tempat les. Tapi, kok tutup ya? Trus siapa tuh Lima Sang Pencerah? Kami mulai bingung. 

"Eh, jangan-jangan itu gambar orang-orang yang di spanduk?"
"Tapi kan gak 5 orang, mereka banyakan."
"Ya udah kita fotoan sama 5 orang aja, sisanya jangan masuk foto."
"Oh iya, iya." DEngan polosnya kamipun fotoan sama spanduk itu. Tapi ternyata susah. Spanduknya tinggi banget, susah masuk kamera. Udah nyoba segala macam pose, gak bisa-bisa juga. Akhirnya kami mulai ragu ini tempat yang dimaksud dan kami memutuskan buat minta bantuan. Format SMS, "BIRU MINTA CLUE TAMBAHAN DONG!"

Dan panitia membalas
""Temui 5 Sang Pencerah di institusi nonformal 4 huruf, tempat kita berkumpul dan belajar bersama."

"Lah kok ada tambahan 4 huruf? Bukan ini dong? Terus apa dong?"
"ITHB mungkin!" Jib menebak.
"Tapi kan nonformal. ITHB kan formal."
"Atau mungkin mereka salah clue? Maksudnya formal, mungkin."
"Ah masa sih mereka salah clue?"
"Iya, kali aja mereka ga tau arti 'formal' itu apa. Kan formal juga ada badan hukumnya."
Kami mulai ngaco dan songong. 

"Ya udah deh kita ke ITHB!" Kamipun naik angkot dengan pedenya ke ITHB. Di angkot, kami ngobrol-ngobrol lagi dan ketawa-ketawa seandainya bener si panitia gak tau bedanya formal dan informal. Tiba-tibaa, Adrian nyeletuk, "AECS! AECS kan 4 huruf, dan itu informal, tempat kita Bible Study!"
"Howalaaaah iya ya! Kok ga kepikiran? Untung angkotnya masih sejurusan." Kemudian kami menertawakan diri sendiri yang songongnya mengira si panitia bodoh. HA HA HA.. menyedihkan.

Sampai di AECS, ternyata bener, kelompok lain udah banyak yang sampai lokasi. Ah, kami urutan ketiga. Gakpapa deh, siapatau yang kelompok lain ada yang salah menjalankan tugas. Kami masih pede. Setelah semua kelompok berkumpul, akhirnya diceklah tugasnya satu persatu dan.. tolong, kami malu semalu-malunya! Perlu diceritain ga ya? Hm.. Iya deh kami pasrah.

Jadi ternyata, yang clue 'masa tidak perlu repot memikirkan baju' itu maksudnya adalah, kami disuruh seolah-olah sedang upacara bendera di ahri Senin, menghormat ke arah bendera. PFFFFFFFFFFFFTT.. "Tapi kan Spongebob tayangnya jam 6, masa ada upacara jam 6?"

"Bukannya Spongebob itu jam 7?" si panitia jadi bertanya.
"JAM 6! AKU PENGGEMAR SPONGEBOB MANA MUNGKIN SALAH!" Aku ngotot. Setidaknya ada yang masih bisa didebatkan. Hahaha.
"Eh iya deh maap, harusnya sesudah Spongebob tayang."
"Tuh kan, kami harusnya bener tuh kalo cluenya ga salah mah."
"Tapi kan tetep aja gak nyambung ke ngehormat ke bayi." HAHAHAHAHAHAHAHA.. Mereka menertawakan kami. Tertawa puas sekali. Gak brenti-brenti. "Makanya jangan terlalu mumet mikirnya, berpikir seperti anak kecil.." lagi-lagi mereka menertawakan kami.

Dan jadilah itu jadi ejekan abadi. Menghormat ke bayi. Astagaaaa.. Entah dari mana ilham itu muncul. Astaga.. Jadi begitu ceritanya. Kami juara harapan. Ya karenapesertanya juga cuma segitu. Setidaknya bukan juara terakhir lah ya. Masih bagus lah ya. Iya'in kek.


Wednesday, April 3, 2013

Akhirnya Ketemu Copet Juga

Setelah bertahun-tahun hidup di kerasnya Kota Kembang, sering denger soal tindak kriminal yang dialami temen-temen, akhirnya aku punya kesempatan merasakannya juga. Ini bukan kalimat yang menunjukkan kebahagiaan, tapi yah ada kepuasaan juga akhirnya pernah mengalaminya dan bisa mengucap syukur bisa melewatinya. ;)

Jadi ceritanya begini. Waktu itu (Juli 2011) aku sedang di angkot menuju ke tempat mojok favorit, McDonalds Istana Plaza. Dengan peralatan perang seperangkat laptp beserta colokan dan terminal listriknya, aku siap nongkrong di McD seharian. 

Ngambil angkot Caringin-Sadang Serang, waktu itu isinya kira-kira 4 orang. Tiga orang di kursi panjang, satu orang di kursi pendek. Aku memilih duduk di kursi pendek. Gak lama setelah itu, kira-kira beberapa menit, secara bertahap beberapa penumpang lainnya naik satu persatu. Dan hampir penuhlah si angkot. Sebenernya gak penuh-penuh amat, soalnya di bangku panjang masih ada kira-kira space buat 2 orang lagi dan ada seorang penumpang pria yang malah maksa milih duduk di bangku pendek, padahal bangku pendek itu udah empat orang.

Dengan sebel, aku keukeuh gak mau geser, dan bilang ke dia. "Pak, di sana (nunjuk ke bangku panjang) masih kosong.". Dia ngeyel, pura-pura gak denger kayaknya, dan tetep duduk di sebelahku yang sebenernya udah penuh dan mepet banget duduknya, Hmm.. aku mulai mencium ketidakberesan di sini,

Aku mulai curiga sama gelagat mereka, yang mirip sama ciri-ciri pencopet di angkot yang sering aku denger ceritanya dari temen-temenku. Dengan segera aku mangku tas ranselku yang tadinya aku taro di sampingku, kemudian pindah ke bangku panjang dan nunjukin muka sebel. Terus aku meluk tas itu kenceng-kenceng. Pertunjukan dimulai. Bener aja, mereka mulai bertingkah. Tiba-tiba yang satu mengeluh kakinya sakit, terus ngeregangin kakinya ke arahku. Wah kebaca nih taktiknya. Aku belagak cuek, ga peduli. Si temennya masih mencoba mengalihkan perhatian dengan bilang ke aku kaki temennya sakit. Dengan tampang masa bodo, aku meluk tas semakin kenceng.

Sadar trik kaki sakitnya gak mempan, mereka pake cara lain. Mereka minta tolong aku bukain jendela angkot dengan alasan kepanasan. Masih meluk tas, aku cuekin mereka. Setelah beberapa kali mencoba segala cara dan ngeliat mukaku yang mulai mencurigai mereka, akhirnya mereka nyerah, SAtu per satu turun dari angkot dan tinggallah beberapa orang di angkot. Setelah mereka turun, aku menghembuskan napas lega, terus bilang ke pak supirnya "Pak, yang tadi itu copet semua!"

Akupun mulai curhatin kecurigaanku sama pak supir dan penumpang yang masih di angkot. Aku cerita juga sama bapak di depanku (yang duduk di bangku pendek dan tadinya ada di sebelah kananku). Aku bilang kalo aku udah curiga dari awal sama orang-orang tadi dan ternyata bener, mereka mau nyopet. Si bapak yang aku ajak cuma ngangguk-ngangguk, ga bilang apa-apa dan mimik mukanya aneh.. Dan kemudian si bapak itu ambil sesuatu dari bawah joknya. Aku kaget. Dia pegang batere laptopku! "Ini neng, saya nemu di bawah, saya kira pisau," katanya. Astaga. Kok bisa di situ? Aku langsung meriksa isi tasku takut-takut ada yang hilang. Dompet, handphone, aman. Gak lama, si bapak yang di depanku turun.

Beberapa menit mikir kenapa batere laptopku ada di bawah, akhirnya aku sadar. Si bapak tadi juga komplotan mereka! Hastagah! Dan aku malah nyurhatin dia! Tapi puji Tuhan banget tadi aku ga langsung turun di tengah jalan. Kalo ngga, apa kabar ini laptop baterenya ilang. :(

Masih deg-degan sama pengalaman barusan, aku tetep lanjut ke McD dan ngetweet. Yes, Twitter is my boyfriend. :| Aku ngetweet tentang kejadian itu, dan gak lama ada temen yang mention kalo temennya juga barusan hampir kecopetan, di angkot yang sejurusan sama angkotku tadi. PASTI KOMPLOTAN YANG SAMA! Astaga..

Bersyukur banget rasanya bisa ngalamin dan lepas dari pengalaman menyeramkan tadi.. DAn setelah sampai di McD sempet-sempetnya aku kultwit soal #tipssaatketemucopetdiangkot. Dan tentu saja versi ngaconya. Ini beberapa di antaranya.


Absurd emang. Temenku aja merinding waktu ceritain kejadian itu, sedangkan aku sendiri yang ngalamin bisa-bisanya ngultwit begituan pasca kejadian. Hahaha. But thank God itu ga bikin aku trauma. Sampe saat ini sih masih lebih takut ketemu ahntu daripada copet atau preman. ;p

That Feeling

How does it feel to be in love? I almost forgot. I found few people who are in love, recently. They do stupid and ridiculous things sometimes. Some stupidity that tingling me. Then it bothers me. I miss that feeling of falling in love. Yes, I miss it much. That feeling of having someone that always come to your thought no matter what are you doing or where are you at. That feeling when you find someone who knows how to treat you just as the way you want it without any clues. That feeling when you get (no matter how short) the text from him, that makes you smile, without any special reasons. Just because it comes from him/her. That’s it.