Sunday, February 3, 2013

Hari 11 - Surat Cinta untuk IMAB

Hai, IMAB(ers)!

Gak kerasa udah hampir 5 tahun kita bersama. Atau lebih tepatnya aku terjebak bersama kalian. Such a blessed trap if I can say. Entah sudah berapa generasi yang aku kenal dari IMAB. Mulai dari aku masih merasa onion's daughter alias anak bawang, sampai aku sekarang udah dianggap sebagai sesepuh IMAB yang hingga detik ini, masih mejeng di berbagai kegiatan bersama kalian. Entah harus berbangga hati atau merasa tersindir. But yes sure, I feel blessed.

Di sepanjang sejarah kalian, mungkin aku satu-satunya yang pernah di-OPP sampe dua kali ya. Hebat kan? Hahaha. Dan mungkin gara-gara jiwa ngeksis aku juga yang terlalu tinggi, selama 5 tahun berturut-turut aku juga menang kategori 'tereksis'  di acara OPP IMAB. Sekali lagi aku bingung, harus berbangga atau tersindir. :/

Di surat buat kak Billy, aku udah menjelaskan kan ya bagaimana aku jatuh cinta pertama kali sama kalian. Dan aku masih cinta sama kalian. Tiap kali aku denger kisah-kisah dari alumni mengenai masa-masa mereka dulu, aku selalu tertarik. Kenapa? Karena aku juga merasakan kecintaan itu. Kecintaan di mana aku merasa ini adalah 'rumah'ku yang lain. Kecintaan yang bikin aku bahkan kadang melupakan prioritas aku. Oh how I love you. I mean it.

Bertahun-tahun di sini, aku belajar banyaaaaaaaaaak sekali hal tentang hidup. Mau senang, sedih, semuanya punya pembelajaran tersendiri. Aku belajar gimana kebaktian itu merupakan suatu kerinduan. Dari orang-orang yang bahkan mau jalan kaki jauh buat kebaktian gara-gara emang ga punya duit buat ongkos. 

Aku belajar pentingnya buat peduli sama orang lain. Aku masih selalu ingat gimana kak Vanie kesaksian sampe nangis waktu kalian bantuin dia dan masalah uang kuliahnya. Waktu itu, dia terancam cuti gara-gara gak punya uang buat bayar kuliah. Kemudian kalian memutuskan buat ngamen bareng buat ngumpulin duit buat uang kuliahnya. Kalian gak bilang ngamennya buat apa, setelah ngamen baru kalian ceritain ke dia kalo hasil ngamen itu buat nambah-nambahin bayar kuliahnya. That's just too sweet!

Aku belajar menghadapi orang-orang dengan berbagai karakter. Semua yang kenal aku tau pasti aku gampang pundung dulu. Gak nyangka kan kalian IMABers jaman sekarang? Hehehe. Di IMAB aku belajar buat lebih mengendalikan emosi. Gak boleh gampang sakit hati walaupun SMS jarkom gak pernah dibales, belajar rendah hati sama orang yang cenderung angkuh, belajar gak langsung nangis kalau merasa diperlakukan tidak adil, belajar mengerjakan segala sesuatu tanpa bergantung sepenuhnya sama orang lain, dan pembelajaran-pembelajaran lainnya.

Waktu jadi wakil ketua IMAB lebih banyak lagi pelajaran yang aku dapat. Pengalaman kerjasama sama orang yang berbeda-beda karakter, pengalaman ditinggalkan orang-orang yang dulunya sangat aku andalkan, bikin aku mengalami rasanya berserah sepenuhnya sama Tuhan. Dan pengalaman ini juga yang bikin aku gak boleh tega ninggalin 'ketua'ku nantinya di organisasi manapun. Betapa menyedihkan rasanya seolah mengerjakan semuanya sendiri. Dan sejak saat itu aku rasa Tuhan memang ngasih aku posisi bukan sebagai ketua, tapi sebagai pendamping ketua, dan memastikan dia tidak bekerja sendiri. Entah lewat kehadiranku, bantuanku, atau bahkan hanya semangat dan doa.

Kalau mau ngenang masa-masa kita duluuu, wah gak cukup nih kayaknya halamannya. Masa-masa OPP IMAB, ATBT, KKR Pangandaran, Ulang Tahun IMAB, Ulang tahun anak-anak IMAB, Temu-temu Mahasiswa, GAthering Alumni, BAksos, Valentine-an, aaaaaaaaaah masih banyak banget dan semuanya berkesan! Makasih buat kenangan-kenangan itu. Aku pengen banget ngasih kenangan-kenangan yang sama ke IMAB generasi sekarang. Pengen banget mereka merasakan berkat yang sama seperti yang aku rasakan.

Di tahunku yang ke-6 ini, banyak banget dilema yang aku hadapi. Rasa cinta sama IMAB tentu masih ada, masih sebesar dulu. Tapi, kadang apa yang aku anggap baik ga selalu baik ya. Dengan keterlibatanku di setiap event IMAB, aku rasa bukannya bikin IMAB ini makin bertumbuh. Mungkin caraku yang salah. Tapi aku masih bingung bagaimana cara yang seharusnya. Aku masih ingin melayani di organisasi ini, tapi bikin mereka juga mandiri dan merasakan berkat-berkat Tuhan di sini, lebih dari sekedar dapat teman jalan-jalan, temen ngobrol dan temen ngegosip. Aku rindu banget bikin mereka merasakan pengalaman berserah sama Tuhan sepenuhnya, dengan teman-teman yang menguatkan, jadi teman di susah dan senang, merasakan berkorban buat yang lain, merasakan bahwa ini adalah rumah mereka yang lain. Di sini adalh keluarga mereka yang lain. Di sini mereka bisa ketemu Tuhan. Aku ga tau caranya gimana. >.<

Aku juga kadang dilemahkan sama tanggapan orang "Loh, masih IMAB dek?" "Kakak kan angkatan senior" dan sebagainya. Becanda sih, tapi kok sekarang rasanya jleb ya? Aku nyesel pernah melakukan yang sama dulu sama kakak-kakak IMAB. Gini toh rasanya kuliah lama. Karma does exist. Hahaha. Ya di balik semua itu, kerinduan aku untuk ada buat organisasi ini masih kuat. Sangat kuat. Hal-hal sepele yang melemahkan itu pasti cara setan buat bikin aku menyerah. I will not give up!

Doaku buat kalian IMAB sekarang, semoga kalian merasakan indahnya persekutuan di organisasi ini. Mari sama-sama aware sama kebutuhan orang lain. Yang dunia butuhkan itu buka perhatian sama temen-temen yang temennya banyak, perhatikanlah mereka yang sering disisihkan teman-temannya. Pengalaman-pengalaman gila tuh kudu dirasain, mumpung masih muda, mumpung masih ada saatnya. Kalo kerjanya kuliah belajar doang dan dapet IP oke sih ga ada luar biasanya. Ya emang normalnya begitu. Tapi kalo kuliah oke, belajar, pelayanan jalan, kehidupan sosial oke, melewati pengalaman-pengalaman seru semasa muda, itu baru luar biasa. No, I'm not talking bout me. Aku belom mencapai itu. Aku bicara soal alumni kita, yang walaupun aktif di berbagai organisasi pelayanan, tapi tetap berprestasi. Mari tiru mereka!

Mari belajar melakukan semuanya untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Jadilah berkat di setiap segi kehupan kita. Tetap semangat, tetap kreatif, tetap 'gila', tetap berserah sama Tuhan. I love you, IMAB. 




yang cinta padamu tiga perempat mati,
Adek

No comments: