Tuesday, January 29, 2013

Hari 8 - Surat Cinta untuk Gracia Yosaphat Mambrasar

Hai Kak Bill. Hehehe. Surat cinta selanjutnya, ku tujukan padamu. Ciyee ciyee dapet surat cinta dari Adek. Berbanggalah. Hahaha.


Kak Bill, tahukan dirimu aku sangat mengagumimu? Yes, I do. Bahkan bisa dibilang, kaulah yang membuatku pertama kali jatuh cinta pada IMAB dengan terlebih dahulu jatuh cinta padamu. Ahiww.. Aku lupa pernah cerita padamu apa belum, tapi biar aku ingetin lagi bagaimana Dia melakukannya.

Waktu itu, secara gak sengaja (tapi pasti rencana Tuhan) aku lagi di rumah Bella, dan Bella dapat SMS undangan dateng ke PA Selasa IMAB (sekarang Tuesday Meeting). Waktu itu aku masih nganggur, nunggu SPMB tahun berikutnya. Begitu Bella bilang dia dapet SMS itu, aku bilang ayok aja dan kami berangkat. 

Begitu sampai di Setiabudi, ada beberapa orang di sana. Sebagian aku kenal. Dan waktu itu lagi waktu kesaksian. Sampai di acara inti, dirimu yang ambil bagian. Aku inget banget di situ kau bawain tentang Kepemimpinan. Aku kagum sama public speakingmu yang keren banget. Bersemangat dan menggugah. Cocok banget buat pemimpin demo. Demo masak. Haaaa..

Trus di tengah-tengah bicara waktu itu, tiba-tiba.. jreeeeeng.. lampu mati. Yang kita lakukan waktu itu? Tetep lanjutin acara. Yak, di tengah kegelapan. Awalnya aku mikir "apaan sih ini, gelap masih aja dilanjutin. Mana seru gak keliatan." Tapi ternyata salah. Dengan keadaan gelap gitu malah feelnya lebih dapet. Bahkan kalimatmu masih terngiang-ngiang di kepalaku sampai sekarang. "Semua orang bisa jadi pemimpin. Minimal jadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Kita diciptakan di dunia ini bukan untuk jadi follower atau ekor, tapi untuk jadi leader. Jadi garam." Dengan keadaan yang gelap, ga ada distraksi. Bikin aku mikir dan merenung. 

Kemudian lampu nyala, kau lanjutin dikit, dan acara selesai. Sepulang acara itu, otakku resmi dicuci. Dan sejak acara itu aku berpikir IMAB adalah 'rumah'ku yang lain. Panggilanku di sini, sama temen-temen mahasiswa Bandung. Dan jadilah aku sekarang ini, saking cintanya sama IMAB, kuliahnya lama. Eh amit-amiiiiiiiit..

Sejak itu kak Bill, aku mengagumimu. Ditambah lagi kau yang excellent di hampir semua bidang. Dengan keterbatasan ekonomi, tetep semangat melayani. Aku ingat kau pernah cerita kau gak punya ongkos ke Setiabudi dan kau bela-belain jalan kaki tiap PA Selasa. Wow. Semangat macam apa itu kak Bill? Sementara kami anak-anak muda jaman sekarang, gerimis dikit, males pergi. Padahal kosan atau rumah deket. Lebih semangat kalau diajak makan-makan, jalan bareng, ngegosip.

Denger lagi cerita Bible Study yang salah satu pelopornya adalah dirimu, ngajakin orang bikin KPA bahkan sampe sembunyi-sembunyi di perpus ITB demi bisa belajar Alkitab. Astaga, aku rindu teman-teman seperti itu di jaman ini. Aku rindu puya semangat yang sama kayak kalian waktu itu. Aku rindu jadi orang sepertimu. Yang tetep asik diajak bicara soal apapun, kocak, tapi pelayanan tetep jalan, bisa ajak orang dekat sama Tuhan. Dengan segala keterbatasan. Dan sekarang kau membuktikannya. Kaupun sukses secara materi. 'Membalas dendam' atas keterbatasan di waktu dulu, kau tetap pakai itu untuk pekerjaan Tuhan. Puji Tuhan aku mengenalmu. Semua rencana Tuhan kan? 

Doakan aku dan teman-teman yang lain punya semangat yang sama kak. Dan doakan IMAB bisa melahirkan jiwa-jiwa yang sama sepertimu bahkan lebih loyal lagi sama Tuhan. Terima kasih udah jadi contoh yang baik. Semoga semakin hari hidup kita semakin seperti Yesus. Amin.



adik IMABmu yang mengagumimu,
Adek

(nb: Kayaknya boleh nih kali-kali acara TM pake matiin lampu. Hak hak hak. #digerebekFPI)

No comments: