Wednesday, December 5, 2012

A Journey of Faith (part 1)


This is the day. Gak deg-degan sih, tapi berbagai macam hal berkecamuk di kepala saya. Gimana ini? Transport nanti gimana? Terus, penginapannya gimana? Dana juga masih kurang. “God provides, and I believe it”, kataku dalam hati.

Beep.. beep.. SMS dari Ocha.
“Kak, penginapan gimana? Kita ga dapet yang murah.”
Tanpa piker panjang, aku balas, “Masih ada waktu untuk berdoa. J

Bagaimana aku bisa setenang itu membalas? Apa berdoa cukup? Bagian dari diriku yang lain masih ragu. Ah, tenang aja lah. Pasti ada jalan. Alter egoku yang lain ikut nimbrung.

Pukul 14.00. Beep beep. Hari ini handphoneku lagi laku keras. Ada yang nanya gimana keberangkatan, jam berapa, di mana, naik apa. Aku merasa seperti operator penerangan.

Hujan. “Tuhan, aku gak minta hujan berhenti. Aku hanya minta, jadilah kehendakMu.”

Aku sendiri gak ngerti bagaimana aku bisa seberserah ini. Ini bukan pasrah seperti sebelumnya. Aku sudah merasa berusaha sebisaku, dan sisanya aku kasih ke Tuhan. Aku terobos hujan dengan ransel padat di punggung, laptop berbalut softcase Mickey Mouse di tangan, yang ditumpuk dengan ikatan beberapa kaos IMAB yang masih di plastik. Hujan-hujanan, jalan, kemudian naik angkot. Gak perlu mengeluh, aku pasti bisa. Berkali-kali aku memotivasi diri.

Sampai di SEtiabudi, seperti dugaan, belum ada yang datang. Sabar, sabar, menunggu sambil ngeliatin Evan main hujan. Alasannya mau cuci sepeda, tapi badannya ikutan basah kuyup. Dasar anak-anak.

16.30. Akhirnya ada yang datang. “Maaf, macet”, kata mereka. Jalanan hari ini memang seadng cari perhatian. Macet di semua sudut kota. “Yuk, latihan.” Kami latihan sebentar di gereja, yang lain berdatangan satu persatu. Tapi belum lengkap. Janjian jam 4.30, 5.30 banyak yang belum datang. Kami memutuskan berangkat. Ke stasiun Hall, untuk kemudian naik kereta ke Stasiun Kiara Condong.

Kami membeli 14 tiket, tapi 3 orang belum terlihat batang hidungnya. “Ya Tuhan, jadilah kehendakMu”, aku berdoa lagi. SAtu teman SMS saya, bertanya kenapa di Setiabudi sudah tidak ada orang. Astaga, sepertinya SMSku gak sampai ke dia. Dengan cepat, aku balas supaya dia menyusul ke Stasiun Hall. Setelah aku bilang begitu, yang lain bilang sepertinya gak akan sempat dia menyusul ke stasiun Hall, suruh saja langsung ke Kiara Condong. Aku gak suka situasi ini. Situasi di mana aku harus cepat mengambil keputusan dan kemudian sepertinya keputusan itu salah. Apalagi aku sadar aku sulit sekali membuat keputusan.

Sampai di stasiun Hall, teman yang tadi belum datang juga. Akhirnya kereta kami harus berangkat. Tanpa dia. Aku kesal, menyesal, marah, ke diri sendiri. Sekali lagi aku mengambil keputusan yang salah. Kami memutuskan meminta si teman tadi menyusul ke Kiara Condong.

Sampai di Kiara Condong, 4 orang belum datang juga. Ada 2 orang yang bahkan bilang lebih baik gak ikut karena pasti gak terkejar. Aku mulai panik. Tapi muka harus tetap tenang. Aku pemimpin di kelompok ini. Kalau aku panik, yang lain akan ikutan panik. Puji Tuhan satu per satu yang 4 orang tadi mulai datang. Satu orang datang dengan muka marah. Teman yang tertinggal kereta tadi. Pasti gara-gara ketinggalan kereta tadi. Salahku. “Tuhan..” aku gak sanggup melanjutkan. Tetap tersenyum. Semuanya sudah lengkap, menuju kereta dan kereta berjalan. “Tuhan, kasih aku kekuatan. Ini baru dimulai. Amin.”

Sudah mulai malam, kereta sudah berjalan selama beberapa jam. Beberapa orang sudah tertidur. Ada juga yang masih sibuk mengobrol. Aku sendiri, masih berpikir-pikir bagaimana penginapan nanti, kalau kami sudah sampai di Jogja, kami ke mana? Aku gak mau mengecewakan mereka dengan tanggungjawabku yang gak aku lakukan dengan baik.

Paginya, (kira-kira pukul 3), cek handphone, belum ada balasan dari kak Billy yang aku minta tolong cari penginapan. Tiba-tiba terpikir untuk telepon Jeinzen, dan alternatif kalau-kalau kami memang tidak ada penginapan nantinya. Secercah cahaya datang.

(to be continued..)

No comments: