Monday, December 31, 2012

Welcoming 2013

Selamat datang, 2013! Mari masuk, cicipi kue buatan ibuku. Bagaimana perjalananmu sebelum ke sini? Ada oleh-oleh apa buat aku?

Monday, December 24, 2012

Twitter Header

Saya lagi keranjingan bikin header nih. Agak norak sih, tapi ini baru permulaan. Ntar kalo dapet ilham lagi ta' publish ah. Sekarang pamer-pamer dulu lah sikit.




"Design as I'm workless."

Sunday, December 23, 2012

Cinta Segi Banyak

A suka pada B. Kemudian datang C, A suka pada C. Ternyata D juga suka pada C. Padahal E terang-terangan mendekati C. Dan, A, D, dan E cerita pada F. F pun bingung.

Thursday, December 20, 2012

Delman

Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota
Naik delman istimewa ku duduk di muka
Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya

Beberapa analisis saya dari lagu ini:

  1. Si anak tinggal di desa atau mungkin pegunungan
  2. Kuda yang dia naiki pasti tipe kuda yang tabah dan tangguh. Ke kota naik delman! :'( *pukpuk kuda*
  3. Anak ini tidak diajar sopan santun oleh ayahnya. Masa duduknya di muka? Muka siapa? Kalo muka pak kusir, kasian jalannya ga keliatan. Kalo muka ayahnya, keterlaluan. Durhaka. Muka kudanya? Ciyan kuda..
  4. Sang kuda sebelumnya agak-agak kurang baik cara jalannya. Bagaimana maksudnya? Silakan pikir sendiri. Saya mau makan dulu.
Dadaaah..

Nyanyian adalah Doa

"Nanyian adalah Doa untuk mengangkat hati lebih dekat ke Tuhan."
Itu adalah sepenggal kalimat Kak Billy Mambrasar di Milis IMAB. Iya, ya. Nyanyian itu kan sakral, tapi kadang saya suka nyanyi di gereja sambil ketawa-ketawa, bahkan dipotong obrolan. Dan kalau ada lagu pujian, perlu diingat, itu bukan untuk MENGHIBUR pendengar, tapi untuk kemuliaan nama Tuhan. Hmm.. Ayo, berubah, Dek berubah..

Monday, December 17, 2012

Into That Feeling Again

God, I don't know where to bring this feeling.
I'm on my way forgetting then You brought me there, to that feeling again.
I thank You for that.
But then, what should I do?
Is it a sign to stay or what?
Please give me another clue.

Sunday, December 16, 2012

Most Played This Week


  1. Carrie Underwood - Jesus Take the Wheel
  2. Sari Simorangkir feat Daud JP - Bersamamu
  3. Nicole C Mullins - Redeemer
  4. Brian Littrell - In Christ Alone
  5. Unknown - When God Made You He Must've Been Thinking About Me
wah hampir semua lagu rohani. *cubit diri sendiri*


Cara Berpakaian

"Gereja ini mah rempong. Kalau rok pendek dikit langsung diomongin."
"Padahal kan yang penting hati."
"Iya. Daripada dia, ke gereja dandannya lebay."
"Iya, anaknya kerjaannya main HP mulu lagi di gereja."
#ppfftt Perbincangan yang sering saya temukan. Yang satu merasa terganggu dengan yang satu dan akhirnya mencari-cari ketidaksempurnaan di yang lain. Sadarkah kita, semuanya memang harus dibenahi? Ga ada satu hal yang lebih penting dari yang lainnya. Menyembah Tuhan kan ga cuma soal hati. Kalau tau cara berpakaian itu salah, kenapa gak benerin aja?

Soal pakaian ini memang sudah sering jadi perbincangan di gereja. Dan tentunya ini selalu berbenturan sama kaum wanita. Iya lah, pria pakaiannya macam-macam segimana sih. Kalau cewek, astaga jenisnya aja minta ampun. Kalau pria, palingan ada kemeja, t-shirt, jas. Kalau wanita, kemeja, bolero, cardigan, blazer, halterneck, tank top, kemben, dan sebagainya, dan sebagainya. Ribet yah.

Soal rok pendek, kalau saya pribadi sih emang gak nyaman pake rok pendek. Selain duduk gak nyaman, bergerak juga gak nyaman. Apalagi ditambah high heels. Pffft banget. Itu kerugian buat diri sendiri. Buat orang lain, bisa gak nyaman juga, terutama kaum pria. 

Emang bener juga, perbaktian itu masalah hati. Tapi kalau kita tau dengan berpakaian seperti itu kita jadi batu sandungan buat orang lain, atau membuat kita juga tidak dapat bergerak leluasa (misalnya koord SS yang harus bolak-balik dengan gesit), kita tentu bisa memilah mana yang lebih baik mana yang tidak.

Kalau ada yang menegur cara berpakaian kita, bersyukurlah orang itu peduli, supaya kita gak jadi bahan gunjingan di belakang. Sekali lagi, ini bukan soal ini tidak lebih penting dari yang lain. Ini penting, yang lain juga. Ketepatan waktu ke gereja, kekhusyukan di gereja, hati ingin melayani, kerendahan hati, semuanya sama-sama penting.

Dengan adanya tulisan ini, lagi-lagi, saya yakin banyak yang merasa tersinggung. Yah, ngasih tau yang bener itu memang gak selalu diterima. Mari sama-sama membenahi kekurangan di diri kita! :)

Thursday, December 13, 2012

How They Affected Me


Percaya nggak, kurang dari dua tahun yang lalu, aku anti banget sama yang namanya lagu rohani. Bukan anti gimana-gimana sih, cuma kalau masukin lagu gereja ke dalam Hape itu rasanya hal yang ga mungkin. Buat saya, dulu, lagu rohani itu hanya lagu yang dinyanyikan saat hari Sabat, saat lagu-lagu dunia gak boleh dimainkan. Dan sekarang, aku merasa sangat nista pernah bilang begitu.

Aku bukan habis denger seminar yang nyentuh banget atau apapun, hanya sebuah kesadaran kecil. Bermula dari suka nginep di tempat temen yang gak mau mendengar lagu sekular sebelum renungan pagi, kemudian berteman dengan orang-orang yang suka memperdengarkan lagu rohani dan tanpa sengaja masuk ke folderku, aku dengar, dan.. terjadi begitu saja. Aku suka. Bukan soal lagunya, tapi gimana aku merasa damai mendengar lagu-lagu itu. Ah, terdengar lebay mungkin, tapi begitulah kenyataannya. Kalau ngerjain sesuatu, yang aku mainkan sekarang bukan lagi lagu Green Day, Paramore, atau lagu-lagu dari band kesukaanku yang lain. Aku sekarang punya koleksi lagu rohani yang bahkan aku gak pernah bayangkan aku mau menyimpannya dan membuat memory laptopku tersita. Keajaiban sih menurutku.

Dan dengan kebiasaan yang masih terbilang baru ini, bukan deklarasi bahwa aku sekarang adalah aku yang rohaniawan, atau semacamnya. Itu harapanku. Aku hanya bersyukur atas orang-orang yang Tuhan kirim ke hidup aku dan memberi pengaruh yang lebih baik. Walau hanya sekedar kebiasaan mendengarkan musik. :)


Tuesday, December 11, 2012

TATA SURYA

Bisa aku pastikan TATA SURYA gada hubungan darah sama Tata Young, apalagi Tata Dado, tata boga dan tata-tata lainnya. *YAIYALAAAHH!!*

cukup bergaring-garingrianya..
kenapa aku tertarik membahas ini?

Berawal dari sms seorang temen yang aku tanya "berangkat kemana?"
dengan nyeleneh dia bales "ke mars"

oke, aku ditantangin nyeleneh.. aku bales "hebat. sampe ketemu di sana ya. tar kita jalan-jalan ke venus"

he replied "gak ah, venus kan panas. Makanya cewek emosian. hehe"

kebetulan sekali beberapa hari lalu aku ikut perkemahan pathfinder-adventurer dan ada kelas tata surya yang menurutku isinya kerenn.. bahannya kerenn.. jadi tertarik sama Tata Surya. Dan lumayan banyak pengetahuan baru yang aku dapet dari kelas Tata Surya itu. Yak, aku inget Venus itu emang panas gara-gara

5 cm



Ubek-ubek draft post, ternyata menemukan postingan yang batal dipublish, tentang quotes dari Novel 5 cm. Kebetulan juga besok filmnya tayang di bioskop. Ah, pertanda apa ini?

Udah hampir 4 bulan aku puasa nonton bioskop (setelah nonton the Raid), dan udah bolong dua kali sih waktu Perahu Kertas muncul. Dan 5 cm bukunya juga udah aku baca sejak lama, sekarang difilmkan. Jadi galau nih mau nonton. Nonton aja deh. Hahaha. Ada yang mau nonton juga? ;)

"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa.

Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.. 

Keep our dreams alive, and we will survive.." 


5cm - Donny Dhirgantoro

Monday, December 10, 2012

Impian

Banyak orang sudah tau apa impian mereka dan ke mana mereka akan mengarahkan hidupnya. Ada yang ingin jadi penyanyi, pengusaha tekstil, arsitektur bangunan ibadah, penulis, dan sebagainya. Saya sendiri, saya tidak tau mau jadi apa nanti. Sejak dulu saya hanya menikmati apa yang saya jalani. Apa yang terjadi, terjadilah, mungkin itu moto hidup saya. Mungkin. Saya sendiri gak tau. Kamu sendiri, apa impianmu?

Takut

Seorang anak diminta ibunya untuk membeli telur ke warung dekat rumah. Anak itu mengiyakan dan segera menuju ke warung. Setelah dibelinya, kembalilah ia ke rumah. Di perjalanan pulang, tanpa sengaja ia menjatuhkan belanjaannya dan telur-telur itu pecah. Melihat itu, iapun menangis. Lama ia terjongkok menangis melihat telurnya yang sudah tidak berbentuk. Tetangganya melihat dan membujuknya pulang. Setelah dibujuk berkali-kali akhirnya ia menurut, masih tetap sesenggukan. Sampai di rumah, dia masih menangis, dan si tetangga menceritakan apa yang terjadi. Ibunya berusaha menenangkan dan meyakinkan anaknya itu bahwa ia tidak akan marah meski telurnya pecah. Anak itu tetap saja menangis.

Anak itu bukan menangis karena takut dipukul atau dimarahi ibunya. Ibunya bahkan tidak pernah memukulnya satu kalipun. Ia hanya menangis karena merasa telah mengecewakan ibunya. Rasa takut mengecewakan itulah yang membuatnya menangis.

Rasa takut seperti inilah yang Alkitab maksudkan. Bukan takut karena hukuman, balasan, atau hal lain yang menakutkan dan membuat yang melakukannya merasa dipaksa. Seharusnya ini rasa takut yang saya rasakan setiap kali saya melakukan hal-hal yang tidak disenangi Tuhan. Takut dia kecewa sama saya, yang dosanya buanyaaaaaaaaak sekali tapi diampuni setiap kali saya meminta.

Yeremia 32:40 
"Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku."

Amsal 1:7
"Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."

Sunday, December 9, 2012

Sad News of Yesterday


Merinding. Dua minggu terakhir ini saya sering banget merinding. Ada yang gara-gara cuaca yang dingin akhir-akhir ini (astaga hujannya..), gara-gara kejadian luar biasa yang Tuhan bikin (minggu ini datang bertubi-tubi), dan bahkan gara-gara hal yang menyeramkan. Dan sayangnya kali ini gara-gara hal yang ketiga.

Kemaren tiba-tiba mama ngasih tau anaknya tante sebelah rumah mati dibunuh. Zinggggg.. Selama ini cerita pembunuhan cuma aku denger dari berita kriminal ecek-ecek di TV, atau dari sinetron gak penting itu. Dan sekarang aku mendengarnya sendiri dari orang yang aku kenal.

"Siapa yang bunuh? Pencuri?"
"Suaminya." Zingggg.. Astagfirullah..

Aku ikut si mama ke rumah si tante itu, si tante lagi terbaring sambil meraung-raung. Sedih banget. Kebayang, udah ngegedein anaknya, sampe anaknya berkeluarga dan punya 4 anak, tapi kemudian mendengar anaknya mati, dibunuh pula, sama mantunya pula. 

Ternyata si anaknya ini dibunuh gara-gara suaminya menduga dia selingkuh, gara-gara udah enam bulanan gitu dia ga pulang. Kata sodaranya sih dia ga pulang karena gak kuat disiksa terus sama suaminya. Mereka emang udah sering berantem dan pernah hampir cerai.

Pertanyaan yang selanjutnya terlontar dari mulutku adalah "Ma, mereka Advent?"
"Iya. Jemaat x."

Duh, perih dengernya. Kok bisa? Mukul aja harusnya hal-hal tidak seharusnya dilakukan oleh seorang yang mengikut Tuhan, dan sekarang MEMBUNUH?

Satu hal yang bisa aku lihat, Advent atau ngga itu bukan jadi patokan orang itu baik atau ngga. Mahatma Gandhi once said: "If Christians would really live according to the teachings of Christ, as found in the Bible, all of India would be Christian today."

Yap, kalau semua orang memang melakukan apa yang dia tau benar, dunia ini udah damai. Tapi nubuat mengatakan sebalikya, di jaman-jaman akhir itu orang-orang bukannya bakal semakin baik, malah semakin jahat.

Dan aku kepikiran satu hal lagi, sekali lagi, carilah pasangan yang SEIMAN. Seiman itu bukan soal agama (saja), tapi juga benar-benar punya iman dan terwujud di perbuatannya setiap hari. Bukan hanya pasangan yang 'baik' di gereja atau di masa-masa PDKT, tapi pasangan yang takut akan Tuhan, salah satunya lewat kesaksian orang lain tentang dia. Aaah, makin susah aja nih nemuin jodoh. (._.)

Akhir kata, semoga keluarga yang berduka diberikan hiburan (bukan dari manusia saja), dihapuskan dari rasa dendam sebagaimana diajarkan Alkitab, dan tetap jadi berkat. Buat yang membunuh, semoga ini bagian dari perjalanan imannya, jatuh untuk bangkit lebih tinggi. Kasihan itu 4 anaknya gimana mamanya meninggal, papanya di penjara. :( May God bless them.


tambahan: Aku baru dapet informasi tambahan, sang Ayah membunuh isterinya di depan ketiga anak-anaknya. Jadi si Ayah ternyata sudah merencanakan pembunuhan ini dari jauh-jauh hari. Sang isteri udah 6 bulan kabur ke Jakarta, dan si Ayah nelpon bilang kalo anak-anaknya kangen. Dia diminta pulang dan masak buat anak-anak. Isterinya gak curiga, dan pulang. Dia masak, dan waktu lagi makan bareng, si Ayah datang dan langsung menikam isterinya di depan anak-anak yang lagi makan. Gila. :(((((( Semoga anak-anaknya gak trauma. God, heal them. :(((


Thursday, December 6, 2012

A Journey of Faith (part 2)

Kami menuju ke gereja, berbagi tugas. Ada yang cari penginapan, ada yang cari makan, ada yang latihan, ada yang mandi. Rencananya, kalaupun gak dapat penginapan, kami berbagi, ada yang mandi di gereja, di hotel kak Billy, di kosan Jeinzen. Sepakat, kami menyebar sesuai tugas msing-masing. Selagi latihan di gereja, Kak Billy telepon kalau harga hotel tempat dia menginap ternyata gak terlalu jauh dengan budget kami. Penginapan yang biasanya hanya boleh dihuni maksimal 4 orang, kami bisa pakai berenam bahkan bertujuh. PUJI TUHAN! Aku langsung telepon Adrian yang sedang cari penginapan dan bilang kalau kita sudah dapat penginapan. Kami semua ke penginapan (yang jaraknya gak jauh dari gereja), siap-siap dan sampai di gereja tepat waktu. Keajaiban kesekian. 

Sampai di gereja, pihak Timoho belum banyak yang datang. Kami kelabakan bersiap karena tidak ada yang mengarahkan. Video untuk pengganti berita misi tidak dapat ditayangkan. Panik lagi. Aku yang udah maju ke mimbar (jadi conductor) mulai gak tenang. Setelah akhirnya tiba giliran Billy, aku turun, mengoperasikan laptop dan PUJI TUHAN bisa. Billy mengulur waktu dengan apik, sampai video benar-benar bisa ditanyangkan. Aaaak Billyyyyyy.. Keajaiban kesekian lagi. 





Sekolah Sabat, Khotbah, berjalan lancar. Setelah makan siang kami ke penginapan untuk beristirahat. Gak terbiasa tiduran hari Sabat, kami para wanita akhirnya malah saling cerita, kesaksian, dan berbagi. What a wonderful Sabbath.



Sorenya kami kembali ke gereja, membawakan acara dan walaupun ada sedikit kesalahan waktu nyanyi, semua berjalan lancar. Setelah tutup Sabat, seksi acara masih galau (iya, galau) soal acara hari Minggu. Aku mengusulkan untuk membentuk acara sharing, dan ternyata disetujui. Selama acara sharing berlangsung, aku bersyukur sekali kami mengadakan acara ini. Banyak teman-teman dari IMAB maupun KMAY yang rindu untuk bersaksi. Ada yang ebrsaksi mengenai hari Sabat, pergaulan di kampus, pelayanan, dan sebagainya. Dan semuanya menguatkan. Kesaksian yang benar-benar luar biasa dan semoga sama menguatkannya buat teman-teman yang lain. 

Sisa malam Minggu, kami berencana untuk menyewa mobil. Samapi jam 10 malam kami belum juga menemukan tempat penyewaan mobil. Tim transportasi belum juga pulang. Kami yang tinggal di penginapan mengobrol, dan menemukan satu masalah juga yang belum juga kami temukan solusinya. 

Besoknya, teman-teman transportasi bercerita tentang perjuangan mereka mencari mobil yang akhirnya dengan keajaiban juga, Tuhan tunjukkan mobil yang dapat disewakan di daerah Bantul. Bahkan dengan harga yang lebih murah dari budget semula. 

Esoknya, kami mengadakan renungan pagi di ruangan para wanita, dan renungan pagi itu benar-benar menguatkan. Masing-masing memberikan ayat yang mereka pilih dari perikop yang diberikan, dan luar biasa, banyak pelajaran yang diambil pagi itu. 

Setelah itu kami berangkat, dan artinya, datanglah waktu untuk membayar penginapan. Kami deg-degan, sejak kemarin kami sudah diawasi dan kalau kami di-charge lebih dari harga seharusnyapun, kami tidak bisa mengelak. 

Aku dan kak Billy mendatangi kasir, dan setelah ditanya berapa totalnya, saya hamper gak percaya. Kami tidak di-charge lebih, bahkan jumlah yang dibebankan berkurang dari perkiran awal. Saya tidak tau ini keajaiban keberapa. Tuhan sudah mengatur semuanya. 

Tujuan pertama kami pagi itu adalah ke Prambanan. Budget kami untuk masuk Prambanan adalah 17,500. Kami kaget saat sampai di sana, ternyata harga tiket masuknya adalah 30,000. Hampir dua kali lipat dari budget. Kami membayar, dan kemudian masuk.



Setelah dari Prambanan, kami mengantar Arthur ke stasiun karena dia pulang ke Bandung duluan. Setelah ke stasiun, kami langsung menuju Pantai Baron, di Wonosari. Waktu tempuh diakumulasikan PP 4 jam lebih. Kami bermain-main di pantai, dan pulang kembali ke Yogya karena berencana untuk berbelanja di Malioboro. 

Kami sampai di Malioboro kira-kira pk.18.00 yang artinya ahrus mengembalikan mobil sewaan ke Bantul. Waktu Tanya ke Mas Yahya berapa lama perjalanan Yogya-Bantul, dia menjawab kira-kira 2 jam. “Tapi kalau hari Minggu gini sih, bisa sampai 2 jam.” Kami mulai was-was. Kami harus benar-benar ngebut supaya bisa mengejar kereta yaitu pk.20.30. Waktu itu hujan, kami semakin khawatir. 

Ternyata kami dapat mengembalikan mobil dalam waktu 1jam-an. Kemudian kami beserta barang diturunkan di Stasiun Lempuyangan, dan mobil setelah itu segera menjemput teman-teman di MAlioboro. “Mereka kan sedang belanja, pasti mereka terpisah-pisah,” pikirku. Jam 8 kurang, mulai deg-degan. Kami beli makanan di stasiun, begitu kembali ke loket, mobil baru saja parker di stasiun dengan selamat dan armada lengkap. Lagi-lagi keajaiban. 

Begitu turun, aku yang memegang tiket berniat membagikan tiket ke anak-anak. Aku cari di tas, ternyata tiketnya GAK ADA. Panik, panik, panik. Aku Tanya Tina dan Gerry, mereka ga tau. Aku gak ingat sama sekali di mana aku taruh tiketnya. Tiba-tiba aku menyuruh Gerry untuk periksa di belakang jok mobil yang kami tumpangi tadi. Untungnya, mas Yahya tidak langsung pulang dan ternyata tiketnya memang ada di kantong belakan jok. HAmpir saja kami semua tidak punya tiket dan aku gak bisa membayangkan apa jadinya kalau kami tidak bisa pulang malam itu. Tuhan kembali bekerja. 

Kami membagikan tiket, mengantri masuk stasiun, dan TEPAT kereta kami datang. Kami naik, cri tempat duduk, dan… keretapun bergerak jalan. Semua TEPAT pada batas waktunya. Entah keajaiban keberapa, aku ingin nangis rasanya. Tuhan benar-benar bekerja di setiap langkah kami. Kami saling bertukar cerita, rombongan yang berbelanja bercerita kalau mereka sempat terpencar, ada yang berlari-lari, ada yang naik becak, bahkan ada yang sampai naik taksi. Dan Tuhan sampaikan mereka semua tepat waktu di stasiun. Aku ga tau mau bersyukur dengan bagaimana lagi dengan semua keajaiban yang Tuhan kasih itu. Luar biasa dan tepat pada waktunya. 

Pulangnya, masih ada keajaiban yang Tuhan mau tunjukkan pada kami. Di perjalanan pulang, Tina SMS kalau dia sampai di kampusnya TANPA TERLAMBAT untuk ikut kuis, dan bahkan open book. Aku langsung merinding. Gak tau mau bilang apa selain “Terima kasih, Tuhan."





Matius 6:33 benar-benar nyata. Cari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua itu akan ditambahkan padamu. Jangan khawatir, lakukan pekerjaan Tuhan, dan Dia akan mengatur sisanya. AMIN!

Wednesday, December 5, 2012

A Journey of Faith (part 1)


This is the day. Gak deg-degan sih, tapi berbagai macam hal berkecamuk di kepala saya. Gimana ini? Transport nanti gimana? Terus, penginapannya gimana? Dana juga masih kurang. “God provides, and I believe it”, kataku dalam hati.

Beep.. beep.. SMS dari Ocha.
“Kak, penginapan gimana? Kita ga dapet yang murah.”
Tanpa piker panjang, aku balas, “Masih ada waktu untuk berdoa. J

Bagaimana aku bisa setenang itu membalas? Apa berdoa cukup? Bagian dari diriku yang lain masih ragu. Ah, tenang aja lah. Pasti ada jalan. Alter egoku yang lain ikut nimbrung.

Pukul 14.00. Beep beep. Hari ini handphoneku lagi laku keras. Ada yang nanya gimana keberangkatan, jam berapa, di mana, naik apa. Aku merasa seperti operator penerangan.

Hujan. “Tuhan, aku gak minta hujan berhenti. Aku hanya minta, jadilah kehendakMu.”

Aku sendiri gak ngerti bagaimana aku bisa seberserah ini. Ini bukan pasrah seperti sebelumnya. Aku sudah merasa berusaha sebisaku, dan sisanya aku kasih ke Tuhan. Aku terobos hujan dengan ransel padat di punggung, laptop berbalut softcase Mickey Mouse di tangan, yang ditumpuk dengan ikatan beberapa kaos IMAB yang masih di plastik. Hujan-hujanan, jalan, kemudian naik angkot. Gak perlu mengeluh, aku pasti bisa. Berkali-kali aku memotivasi diri.

Sampai di SEtiabudi, seperti dugaan, belum ada yang datang. Sabar, sabar, menunggu sambil ngeliatin Evan main hujan. Alasannya mau cuci sepeda, tapi badannya ikutan basah kuyup. Dasar anak-anak.

16.30. Akhirnya ada yang datang. “Maaf, macet”, kata mereka. Jalanan hari ini memang seadng cari perhatian. Macet di semua sudut kota. “Yuk, latihan.” Kami latihan sebentar di gereja, yang lain berdatangan satu persatu. Tapi belum lengkap. Janjian jam 4.30, 5.30 banyak yang belum datang. Kami memutuskan berangkat. Ke stasiun Hall, untuk kemudian naik kereta ke Stasiun Kiara Condong.

Kami membeli 14 tiket, tapi 3 orang belum terlihat batang hidungnya. “Ya Tuhan, jadilah kehendakMu”, aku berdoa lagi. SAtu teman SMS saya, bertanya kenapa di Setiabudi sudah tidak ada orang. Astaga, sepertinya SMSku gak sampai ke dia. Dengan cepat, aku balas supaya dia menyusul ke Stasiun Hall. Setelah aku bilang begitu, yang lain bilang sepertinya gak akan sempat dia menyusul ke stasiun Hall, suruh saja langsung ke Kiara Condong. Aku gak suka situasi ini. Situasi di mana aku harus cepat mengambil keputusan dan kemudian sepertinya keputusan itu salah. Apalagi aku sadar aku sulit sekali membuat keputusan.

Sampai di stasiun Hall, teman yang tadi belum datang juga. Akhirnya kereta kami harus berangkat. Tanpa dia. Aku kesal, menyesal, marah, ke diri sendiri. Sekali lagi aku mengambil keputusan yang salah. Kami memutuskan meminta si teman tadi menyusul ke Kiara Condong.

Sampai di Kiara Condong, 4 orang belum datang juga. Ada 2 orang yang bahkan bilang lebih baik gak ikut karena pasti gak terkejar. Aku mulai panik. Tapi muka harus tetap tenang. Aku pemimpin di kelompok ini. Kalau aku panik, yang lain akan ikutan panik. Puji Tuhan satu per satu yang 4 orang tadi mulai datang. Satu orang datang dengan muka marah. Teman yang tertinggal kereta tadi. Pasti gara-gara ketinggalan kereta tadi. Salahku. “Tuhan..” aku gak sanggup melanjutkan. Tetap tersenyum. Semuanya sudah lengkap, menuju kereta dan kereta berjalan. “Tuhan, kasih aku kekuatan. Ini baru dimulai. Amin.”

Sudah mulai malam, kereta sudah berjalan selama beberapa jam. Beberapa orang sudah tertidur. Ada juga yang masih sibuk mengobrol. Aku sendiri, masih berpikir-pikir bagaimana penginapan nanti, kalau kami sudah sampai di Jogja, kami ke mana? Aku gak mau mengecewakan mereka dengan tanggungjawabku yang gak aku lakukan dengan baik.

Paginya, (kira-kira pukul 3), cek handphone, belum ada balasan dari kak Billy yang aku minta tolong cari penginapan. Tiba-tiba terpikir untuk telepon Jeinzen, dan alternatif kalau-kalau kami memang tidak ada penginapan nantinya. Secercah cahaya datang.

(to be continued..)