Tuesday, November 27, 2012

Hari Anti Tembakau - 31 Mei

tugas Pidato lagi nih, ciyn.. :))


Selamat siang rekan-rekan Humas 3 sekalian! Puji syukur yang setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Maha Esa, pencipta semesta alam, yang pengasih dan penyayang, yang masih besar kasih setia-Nya pada kita, karena atas berkat, rahmat, anugerah dan lindungan dariNyalah kita dapat berkumpul di ruangan ini, dengan sukacita, dengan tanpa kekurangan sesuatu apapun.


Terima kasih kepada yang saya hormati, bapak Dosen Pembimbing mata kuliah Publik Speaking, yang berkenan hadir dan telah memberi kesempatan kepada saya untuk dapat berdiri di sini, berbicara kepada rekan-rekan sekalian. 

Pada kesempatan yang berharga ini, saya akan membawakan satu topik yang pastinya tidak semua orang menyukainya dan mungkin saat saya membawakan ini ada yang merasa tersinggung atau tidak senang. Sebelum saya membawakannya, saya minta maaf namun saya merasa ini memang harus saya lakukan. Baik, langsung saja, saya akan berbicara mengenai Hari Anti Tembakau Sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei. 

Saat ini saya tidak akan berkoar-koar mengenai kandungan berbahaya atau efek berbahaya dari rokok. Siapa sih yang tidak tahu soal itu? Bahkan di bungkus rokok sendiri tertulis bahayanya, tapi orang-orang masih saja mau merokok. Ini merupakan satu hal yang ironis. Bayangkan rekan-rekan sekalian, ibarat kita ingin membeli sebuah mobil, sebelum membeli, di manual buku ditulis “Mobil ini menyebabkan kecelakaan. Kalau mengendarai mobil ini, roda akan lepas sendiri, kap mobil copot, setir tidak berfungsi dan sebagainya dan sebagainya.” Apakah kita akan tetap membeli mobil tersebut? Lalu apa bedanya dengan rokok? 

Mitos yang mengatakan merokok itu jantan hanyalah mitos ciptaan iklan. Perokok dikesankan seolah-olah maco, gagah, pemberani, dan kuat. Ini terbukti terbalik dengan kenyataan. Merokok jantan? dari mana rumusnya? Merokok menghisap karbon mono-oksida dan ribuan zat beracun lainnya. Ini menyebabkan suplai oksigen kurang, juga resiko kanker karena zat karsinogenik akibat kekurangan O2. 

Ada juga yang bilang kalau laki-laki yang tidak merokok itu seperti bencong. Ini satu statement ngaco lagi. Sejauh ini bencong-bencong yang saya pernah temui semuanya merokok. Lalu gimana ceritanya tidak merokok sama dengan bencong? Bukankah sebaliknya? 

Masalah kita sekarang bukanlah tidak tahu tentang bahaya rokok. Masalah sekarang adalah TIDAK MAU TAHU tentang masalah rokok. Ironisnya, sikap tidak mau tahu ini sadar tidak sadar. tidak hanya merugikan si perokok sendiri, tapi juga merugikan orang lain. 

Tadi ketika menuju tempat ini, seperti biasa di angkot, saya menemukan seorang bapak yang dengan santainya merokok. Ya, memang bukan pemandangan yang aneh lagi melihat orang merokok dan membayangkan bahwa Perda Kota Bandung tahun 2005 hanya hiasan buku undang-undang pemerintah. Yang membuat saya heran adalah, bapak itu merokok sambil menggendong anak. Ya, menggendong anak. Anaknya kira-kira berumur 2 tahun. 

Saya tidak mengerti apa yang ada di benak bapak tadi ketika merokok di depan anaknya. Asap rokok itu berbahaya bagi orang dewasa, dan jauh lebih berbahaya lagi tentunya untuk anak-anak. Dan itu anaknya sendiri. Sadar atau tidak, si bapak ‘membunuh’ anaknya perlahan-lahan. Tragis sekali. 

Merokok memang hak pribadi setiap orang, namun hak setiap orang juga untuk menghirup udara tanpa asap rokok. Melarang merokok memang dlematis di negara berkembang ini, karena ini sudah mencakup bermacam kepentingan. Kepentingan pemerintah atas cukai, petani tembakau, pekerja pabrik roko, salesman rokok, agen pembuat iklan rokok, sepak bola, TV, dan tentu saja perokok. Melarang apalagi membuat fatwa haram bukanlah solusi. Ini tak bisa dihentikan hanya dalam hitungan hari. Menghentikan tak mungkin, mengurangi mungkin. Kampanye persuasif dan terus-menerus yang bisa dilakukan. Pendapatan pemerintah dari cukai rokok memang banyak, tapi subsidi pemerintah untuk penyakit akibat rokok juga besar. 

Bagi teman-teman umat Kristen, di Alkitab sudah jelas tertulis bahwa tubuh kita adalah Bait Tuhan yang tidak boleh kita rusak dengan zat-zat berbahaya, termasuk rokok. Di keyakinan saya sendiri, rokok itu menjadi sesuatu yang haram. 
Bagi agama lain, saya sudah berusaha searching dan hasilnya sama, tidak ada ajaran agama yang mendukung merokok karena penelitian kesehatan di belahan dunia manapun sepakat, tidak ada manfaat lebih dari merokok. 

Tentu semua agama juga mengajarkan sesuatu yang menuju ke kebaikan, saya yakin itu. Tetapi semua pilihan kembali ke diri kita masing-masing. Apakah kita mau menutup mata kita akan bahaya-bahaya rokok itu dan pelan-pelan melakukan tindakan pembunuhan, tidak hanya bunuh diri, tetapi juga membunuh orang lain. Mari kita jawab dalam hati kita masing-masing. 

Dan pada akhir pidato saya ini, saya mau mengajak teman-teman perokok untuk mengurangi bahkan berhenti sama sekali merokok. Susah, memang, tapi pasti bisa. Ayah saya sendiri sudah membuktikannya. 

Kalau memang masih merokok, merokoklah dengan bijak. Merokoklah pada tempat yang disediakan. Bila tidak ada tempat untuk merokok, anggap saja itu terapi untuk mengurangi rokok. 

Sekian pidato yang dapat saya sampaikan, semoga tidak lewat begitu saja, tapi dapat menggugah kesadaran kita akan pentingnya udara bersih. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat siang.

Tuesday, November 13, 2012

Kemampuan Membaca Pikiran

Dulu, kalau ada yang tanya "Andai punya kesempatan buat punya kekuatan khusus, kamu mau minta apa?", aku jawab "pengen bisa baca pikiran orang." Aku pengen tau apa yang orang lain pikirkan tentang aku, bagaimana perasaan mereka sama aku, dan sebagainya, dan sebagainya.

Sampai akhirnya aku berpikir, gimana kalau ternyata yang mereka pikirkan adalah sesuatu yang gak ingin atau gak siap aku dengar?

Misalnya, aku bertanya gimana penampilanku hari itu, dan mereka jawab 'ok'. Dan ternyata aku dapati sebenarnya mereka tidak berpikir begitu. Dan andai aku bisa baca pikiran, apa yang terjadi? Aku sakit hati, dan menganggap semua orang tidak bisa dipercaya. Lalu apa? Ujung-ujungnya menyakitkan juga.

Kalau suatu saat aku suka sama seseorang, aku baca pikirannya ternyata dia suka sama orang lain, lagi-lagi menyakitkan. Aku memutuskan buat gak suka sama dia lagi, naksir orang lain lagi, begitu lagi, dst. Padahal ada kesempatan di mana kalau aku gak tau apa yang dia pikirkan aku memilih untuk tetap suka, menikmatinya dan perasaan dia terhadap aku pelan-pelan berubah. Bukannya itu bagus? 

Oh, berarti aku gak mau deh punya kemampuan baca pikiran. Gak semua harus aku tau dan ada hal-hal yang sebaiknya tetap menjadi misteri.Semua dijadikan dengan maksud tertentu. Bahkan sesuatu yang dianggap menyakitkan awalnya, itu ternyata membuat sesuatu yang lain lebih berharga.

Sakit dibuat supaya aku merasakan bertapa berharga dan nikmatnya menjadi sehat. Kehilangan ada supaya aku mensyukuri pernah memilikinya. Aku diciptakan gak bisa baca pikiran orang lain supaya ada motivasi di sana, tidak terpuruk sebelum mencoba, membuat aku cukup bersimpati pada posisi orang lain. Kalau aku jadi dia, apa ini menyinggung? Apa aku suka diperlakukan seperti ini? dan sebagainya dan sebagainya.

Terima kasih Tuhan buat keterbatasan yang aku punya..

Wednesday, November 7, 2012

Another Miracle

Entah ada apa antara aku dan ujian. Setiap kali jadwalnya ujian, selalu aja ada yang mengganggu. Dan itu terjadi lagi kali ini, entah keberapa kalinya. Jadwalnya Public Speaking, aku dengan santainya datang ke kampus jam 1 siang, sesuai dengan jadwal kuliah. BEgitu sampai kampus, eh kenapa orang-orang pada turun? Mulai deg-degan, aku langsung meluncur ke lantai 3 dan benarlah, ujian udah selesai. Temen-temen bilang ujiannya jam 12, bukan jam 1. Matik!

Harap-harap cemas, aku datengin Pak Manap dan menjelaskan duduk perkaranya. Jadi kemarin itu aku tanya Mila Public Speaking ujian jam berapa. Mila jawab "Palingan juga jam 1 kayak biasa, De." Aku menganggap itu sebagai satu kepastian dan beginilah aku, datang di waktu yang salah.

Setelah memohon-mohon ujian susulan, akhirnya diperbolehkan. Buru-buru, aku cek jadwal ujian. Oh, ada hari Jumat sama Selasa. Oke.

Datanglah hari Jumat, aku lagi di UNAI dan repot untuk turun ke Bandung. Lagian, gak bawa baju untuk ujian. "Selasa aja ah," kataku dalam hati. JEng jeng jengg.. Selasa datang. Dengan anggunnya aku ke kampus jam 7 soalnya aku juga lupa hari Selasa itu ujiannya jam berapa. Ke Sekjur ngurus kartu (ini juga masalah lain dalam hidupku. Kartu Ujian).

Setelah dapat kartu ujian, aku cari papan pengumuman dan liat jadwal ujian hari itu. Daaaan, DHUARRRR! Bumi gonjang-ganjing! Ki Joko Bodo jadi pinterrrr! HARI ITU GA ADA UJIAN PUBLIC SPEAKING! Yang waktu itu aku lihat ternyata jadwal untuk minggu pertama, bukan minggu ini. Dan ujian Public Speaking terakhir itu, KEMARIN! Gemeteran. Ah, pengen pingsan rasanya. Aku harus bermasalah lagi sama Pak Manap. Matik! Bangkit! Matik lagi!

Bingung, ketakutan, dan berusaha mencari alasan apa yang bisa aku pakai. Salah jadwal lagi? Makhluk sebodoh apa yang sampe salah jadwal berkali-kali? Ya Tuhan, I'm begging you a miracle again. Tapi kalo ga ada keajaiban juga gak apa-apa deh. Ini memang salah aku. (._.)

Deg-degan, masuk ke ruangan Pak Manap. Tok tok tok, permisi, Pak!
"Iya, kenapa, Dek?"
"Ehm.. Anu, saya mau ikut ujian susulan Public Speaking, Pak."
Aku sudah siap dengan jawaban ketus, "Loh, kenapa kemarin kamu tidak datang? Kan ada 2 hari kesempatan? Tidak, saya gak mau kasih susulan lagi. Cukup. Silakan keluar." Percakapan di kepalaku.
"Ya usah tunggu aja," kata Pak Manap.
Hah? Hah? Gak salah denger?
"Hari ini ada ujian Public Speaking, Pak?" Aku bertanya untuk memastikan kupingku belum perlu dibawa ke THT."
"Iya, ada."
"Jam berapa, Pak?"
"Sekarang."
"Oh ya udah, permisi, Pak."
Aku keluar ruangan dosen dengan tampang ga percaya. Beneran ini teh? Ah jangan-jangan si Bapak salah jadwal. Mata kuliah lain, kali. Mana mungkin? Aku masih ga percaya. Aku memilih untuk nunggu Pak Manap dan setengah jam kemudian dia keluar. Please jangan bilang ini bukan ujian Public Speaking. Please..

Sampailah di ruangan ujian, ada yang aku kenal. Aku masih was-was, aku tanya dia "Ini ujian apa?"
"Public Speaking," katanya.
"Jadi beneran? Bukannya harusnya kemaren?"
"Iya, jadwalnya diundur soalnya kemaren ada Sertijab kampus."

Rasanya ingin sujud sembah macam di acara Minta Tolong gitu. Ini keajaiban. AJAIB! Astaga Tuhan, jawaban doanya cepet banget. TERIMA KASIH TUHAN!

Untuk kesekian kalinya aku dibantu lagi. Aku bersyukur dan ah, speechlesss.. :x