Tuesday, October 30, 2012

Indonesia Youth for Christ (pre-event)


Apa yang bisa aku bilang selain, “Terima kasih, Tuhan”? Banyak banget berkat. Awalnya aku hampir batal ikut acara ini. Ceritanya bagini, 2 sabat lalu aku mengajukan diri jadi utusan gereja ke IYC dan diterima. Om Guntur bilang “Gereja setuju mengutus 1 orang, kamu ya, De.” Wah, aseli, seneng banget. Dibayarin gereja full, aku cuma tinggal berangkat. Aku langsung daftar secara online ke indonesiayouthforchrist.com dan sabat berikutnya tinggal minta duit ke bendahara, terus bayar deh. Tapi ceritanya berubah. Pas hari Sabat, aku bawa surat undangan IYC yang aku download dari situs tadi buat ditunjukin ke majelis bahwa acara ini memang benar-benar ada. Aku titip suratnya dibacain sama ketua PA, dan menunggu mereka kelar rapat majelis. Sesudah mereka selesai rapat, ketua PA dateng ke aku dan bilang, “Majelis bilang ga usah jadi pergi, Dek. Ini acara Kebangunan Rohani, katanya sama aja sama KKR dan kita nanti ada KKR Pendeta Missah bulan Desember.” Jeng jeng jeng..

Aku berusaha menjelaskan bahwa ‘Kebangunan Rohani’ di sini bukan maksudnya acara KKR di mana ada 1 orang khotbah dan yang lainnya Cuma duduk manis mendengarkan. Ini acara dengan workshop dan pelatihan-pelatihan, untuk menghasilkan kebangunan rohani. Kok jadi mikir ini KKR sih? Tapi sebagaimanapun aku menjelaskan, nihil. Katanya ini sudah jadi keputusan majelis. Sadly, I kneel and the pray. God, I want to be in this IYC soooo much. Thy will be done. Amen.

Pulang gereja, aku udah berserah deh sama Tuhan mau aku pergi atau ngga. Then God hears my prayer. Berkat datang melalui orang yang aku yakin Tuhan yang gerakkan hatinya. And here I am, writing a review of that experiences in IYC. Praise the Lord!

Hari Rabu datang, keberangkatan ke IYC bersama rombongan UNAI. Malam sebelumnya aku SMSan sama salah satu utusan dari UNAI nanyain tentang keberangkatan dan rombongan UNAI berangkat jam 3. Aku masih ada kelas hari Rabu mulai jam 7, dan siangnya aku masih presentasi dari 11.30 sampai jam 1. Aku minta buat nunggu di Bandung aja dengan asumsi aku pulang dulu, kira-kira sampe rumah jam 2, kemudian berangkat ke tempat di mana bis UNAInya lewat. Setelah berbincang lewat SMS dengan panjang lebar, keputusannya, aku harus ke UNAI, gak bisa nunggu di Cimahi or somewhere else. Awalnya aku sebel banget, apa susahnya janjian di bawah, dan akupun ga akan terlambat. Tapi buat apa banyak mengeluh toh aku juga ga tau mungkin memang ada kesulitan yang mereka sudah bayangkan yang aku tidak tau. Memikirkan kalo besok harus bawa ransel supergede ke kampus, kemudian masuk kelas entrepreneur, aku stress. MAU DITARO DI MANA TAS SUPERGEDE ITU? I pray again.

Besoknya, aku memutuskan untuk bolos Entrepreneur dan siap-siap secara matang buat presentasi. Tugasku baru selesai tepat 10.30 sedangkan info yang aku dapat kelasnya mulai 11.30. Belum lagi ngeprint, belum lagi ganti baju. Akhirnya aku memutuskan untuk gak bawa ransel dan di jalan mencoba menghubungi siapa tau ada yang mau direpotkan buat anter dan jemput aku secara kilat sampai di UNAI. DEg-degan nunggu balesan orang-orang. Banyak yang bales, ada yang udah punya janji, ada yang lagi di luar kota, dan sebagainya. I wish I had a boyfriend RIGHT NOW. Setidaknya kalau pacarku ga punya kendaraan, dia akan bias menenangkanku saat itu. Ga beberapa lama, akhirnya ada jawaban. Puji Tuhan Ocha dan Rahmat mau. Ah, terharuuu.. :’)

Masalah tidak selesai begitu saja. Setelah terburu-buru ngeprint ke DU dan kelas 11.40, aku ke kampus, mendapati kelas kosong. Ada apa lagi ini? Aku ke kantor dosen, melihat apa dosennya ada? Ternyata ada.

“Maaf, Bu aku mau Tanya kita ada kelas hari ini?”
“Ada, Dek. Jam 12.15 kan?”
“Loh, saya dapat infonya 11.30, Bu.”
"Ngga, Dek. 12.15 mulainya.”

Jeng jeng jeng jeng.. Kalau kelasnya mulai 12.15, selesainya berarti 13.45. Karena yang presentasi ada 3 kelompok, pait-paitnya kelas ini berakhir jam 2an. LALU AKU KE UNAINYA JAM BERAPA INI? Mana di ruang bawah tanah ga ada sinyal. Berdoa lagi. Thy will be done, Lord.

Bener aja, kelas selesai jam 2.10. RAHMAT MANA? RAHMAT MANA? Mulai panik. Rahmat SMS dia udah sampe, karena aku lama dia main game online dulu. Astagfirullah. JAntung saya aktif sekali di jam-jam ini.

Akhirnya berangkat dari Dipati Ukur jam 2.15. Tujuan pertama: Cimindi. Di perjalanan, ngebut banget. Superngebut. Sempet kepikiran kalau aku kenapa-kenapa selama perjalanan, aku ga tau harus gimana. Aku keluar rumah tadi pagi dengan keadaan berantem sama mama. Ya, Tuhan, kehendakMu yang jadi.

Akhirnya sampai di Cimindi jam 2.35. Napas makin terengah-engah. Belum amakn dan minum apapun sejak pagi. APAPUN. Packing cepat, langsung meluncur ke UNAI. 3.15 sampai di UNAI dan, masih nunggu orang. Jam 4 baru berangkat. Ingin nangis rasanya.

Di perjalanan, nahan lapar tingkat tinggi. Perutku jarang banget merasakan rasa lapar. Ini toh rasanya lapar. Gak enak juga. :/

Perjalanan ke Puncak supermacet. Asumsi samapi di lokasi jam 7 malam, nyatanya sampai abru jam 8.30. Auwooooo.. But thank God we arrived savely, happily, and hipirilllli..

How the day was? Wait for the next post! (ceritanya bikin penasaran, padahal males ngetik ;p)

No comments: