Wednesday, June 6, 2012

Call me lame, whatever



Beberapa bulan lalu aku nonton bareng the Raid sama beberapa teman. Film ini cukup bikin penasaran, soalnya sering banget diomongin bahkan waktu film ini masih direncanakan. Salah satu alasan lagi kenapa aku penasaran sama film ini adalah, Mike Shinoda, yes Mike Shinona-nya Linkin Park ikutan kontribusi ngerjain film ini. Penasaran, banget. Maka jadilah kami berenam janjian nonton di Ciwalk.

Waktu nonton, di awal film udah langsung ada scene sekelompok polisi yang sedang bersiap mau menggerebek sebuah lokasi yang katanya sarang mafia or bandar narkoba or whatever. I don't really care. Dan mulailah aku gak tenang nonton film ini.

Pertama, aku memang gak suka sama film bergenre thriller, bunuh-bunuhan, kekerasan fisik dan semacamnya. Dan pas udah di dalam bioskop aku baru tau ini film semacam itu. Di awal udah langsung ada scene pukul-pukulan dan seterusnya, dan seterusnya aku cuma bisa tutup mata. Gak kuat. Beneran. Dan aku langsung menyesal nonton film ini.

Sepanjang film aku cuma bisa tutup mata dan menarik napas. Ada satu scene di mana Mad dog berantem sama Sersan Jaka dan Rama, scene berantemnya lama banget, dan menyakitkan banget. Puku-pukulan pake entahlah apa aja saking banyaknya dan yang aku inget, kapak. Astaga. Film macam apa sih ini? Lagi-lagi aku tutup mata. Scene berantem masih berlangsung dan setelah beberapa lama, sepertinya akhirnya ada yang kalah dan mati. Seisi bioskop tepuk tangan. Aku bengong.

Apa yang membahagiakan dari sebuah pertempuran? Seisi bioskop tepuk tangan. Aku semakin gak tenang. Salah banget aku nonton film ini. Sampe keluar bioskop aku masih mengkerutkan kening. Sepertinya aku satu-satunya yang gak menikmati film tadi.

Well, waktu aku mengutarakan pendapatku, aku merasa aneh sendiri. Pasti orang-orang ini berpikir aku kuno banget. Basi banget sih film doang dibawa serius. Kan berantemnya bohong-bohongan. Nonton aja sih buat hiburan doang.

Tapi aku gak merasa terhibur. Hiburan macam apa melihat kekerasan kayak gitu. Aku sedih film macam ini film buatan Indonesia. Walaupun sutradaranya memang bukan orang Indonesia, tapi pemain-pemainnya orang Indonesia. Settingnya negara Indonesia. Dan film ini banyak dielu-elukan di luar negeri dan dibanggakan karena dianggap sebagai film yang paling berhasil di tingkat dunia.

Entah terlalu berlebihan entah gimana, aku takut kalau semakin banyak orang nonton film semacam ini. Sekarang aja tingkat kriminalitas udah tinggi, kemana-mana udah gak aman, ditambahin lagi tontonan kekerasan semacam ini. Mau jadi apa mental orang Indonesia? Memang benar, penonton gak sebodoh itu meniru apa  yang mereka tonton, tapi kan efeknya sedikit banyak pasti ada. Mungkin gak meniru secara langsung membunuh pake kapak dan pedang, tapi kekerasan itu bisa diadaptasi dengan mukul kecil-kecilan. Melakukan kekerasan kecil akan dianggap lazim. Terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya dengan kekerasanengan membalas dendam, balas dendam.

Aku memang bukan siapa-siapa sampe sok-sokan membahas moral segala. Moralku juga gak sempurna. Aku hanya menyampaikan keprihatinanku akan keadaan yang aku lihat dan berharap toleransi, sikap memaafkan, kelemahlembutan dan lain-lainnya itu bukan hanya jadi teori pelajaran Pkn, atau menjadi ayat hapalan atau quotation sebagai bahan tweet belaka.

No comments: