Monday, December 31, 2012

Welcoming 2013

Selamat datang, 2013! Mari masuk, cicipi kue buatan ibuku. Bagaimana perjalananmu sebelum ke sini? Ada oleh-oleh apa buat aku?

Monday, December 24, 2012

Twitter Header

Saya lagi keranjingan bikin header nih. Agak norak sih, tapi ini baru permulaan. Ntar kalo dapet ilham lagi ta' publish ah. Sekarang pamer-pamer dulu lah sikit.




"Design as I'm workless."

Sunday, December 23, 2012

Cinta Segi Banyak

A suka pada B. Kemudian datang C, A suka pada C. Ternyata D juga suka pada C. Padahal E terang-terangan mendekati C. Dan, A, D, dan E cerita pada F. F pun bingung.

Thursday, December 20, 2012

Delman

Pada hari Minggu ku turut ayah ke kota
Naik delman istimewa ku duduk di muka
Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja
Mengendarai kuda supaya baik jalannya

Beberapa analisis saya dari lagu ini:

  1. Si anak tinggal di desa atau mungkin pegunungan
  2. Kuda yang dia naiki pasti tipe kuda yang tabah dan tangguh. Ke kota naik delman! :'( *pukpuk kuda*
  3. Anak ini tidak diajar sopan santun oleh ayahnya. Masa duduknya di muka? Muka siapa? Kalo muka pak kusir, kasian jalannya ga keliatan. Kalo muka ayahnya, keterlaluan. Durhaka. Muka kudanya? Ciyan kuda..
  4. Sang kuda sebelumnya agak-agak kurang baik cara jalannya. Bagaimana maksudnya? Silakan pikir sendiri. Saya mau makan dulu.
Dadaaah..

Nyanyian adalah Doa

"Nanyian adalah Doa untuk mengangkat hati lebih dekat ke Tuhan."
Itu adalah sepenggal kalimat Kak Billy Mambrasar di Milis IMAB. Iya, ya. Nyanyian itu kan sakral, tapi kadang saya suka nyanyi di gereja sambil ketawa-ketawa, bahkan dipotong obrolan. Dan kalau ada lagu pujian, perlu diingat, itu bukan untuk MENGHIBUR pendengar, tapi untuk kemuliaan nama Tuhan. Hmm.. Ayo, berubah, Dek berubah..

Monday, December 17, 2012

Into That Feeling Again

God, I don't know where to bring this feeling.
I'm on my way forgetting then You brought me there, to that feeling again.
I thank You for that.
But then, what should I do?
Is it a sign to stay or what?
Please give me another clue.

Sunday, December 16, 2012

Most Played This Week


  1. Carrie Underwood - Jesus Take the Wheel
  2. Sari Simorangkir feat Daud JP - Bersamamu
  3. Nicole C Mullins - Redeemer
  4. Brian Littrell - In Christ Alone
  5. Unknown - When God Made You He Must've Been Thinking About Me
wah hampir semua lagu rohani. *cubit diri sendiri*


Cara Berpakaian

"Gereja ini mah rempong. Kalau rok pendek dikit langsung diomongin."
"Padahal kan yang penting hati."
"Iya. Daripada dia, ke gereja dandannya lebay."
"Iya, anaknya kerjaannya main HP mulu lagi di gereja."
#ppfftt Perbincangan yang sering saya temukan. Yang satu merasa terganggu dengan yang satu dan akhirnya mencari-cari ketidaksempurnaan di yang lain. Sadarkah kita, semuanya memang harus dibenahi? Ga ada satu hal yang lebih penting dari yang lainnya. Menyembah Tuhan kan ga cuma soal hati. Kalau tau cara berpakaian itu salah, kenapa gak benerin aja?

Soal pakaian ini memang sudah sering jadi perbincangan di gereja. Dan tentunya ini selalu berbenturan sama kaum wanita. Iya lah, pria pakaiannya macam-macam segimana sih. Kalau cewek, astaga jenisnya aja minta ampun. Kalau pria, palingan ada kemeja, t-shirt, jas. Kalau wanita, kemeja, bolero, cardigan, blazer, halterneck, tank top, kemben, dan sebagainya, dan sebagainya. Ribet yah.

Soal rok pendek, kalau saya pribadi sih emang gak nyaman pake rok pendek. Selain duduk gak nyaman, bergerak juga gak nyaman. Apalagi ditambah high heels. Pffft banget. Itu kerugian buat diri sendiri. Buat orang lain, bisa gak nyaman juga, terutama kaum pria. 

Emang bener juga, perbaktian itu masalah hati. Tapi kalau kita tau dengan berpakaian seperti itu kita jadi batu sandungan buat orang lain, atau membuat kita juga tidak dapat bergerak leluasa (misalnya koord SS yang harus bolak-balik dengan gesit), kita tentu bisa memilah mana yang lebih baik mana yang tidak.

Kalau ada yang menegur cara berpakaian kita, bersyukurlah orang itu peduli, supaya kita gak jadi bahan gunjingan di belakang. Sekali lagi, ini bukan soal ini tidak lebih penting dari yang lain. Ini penting, yang lain juga. Ketepatan waktu ke gereja, kekhusyukan di gereja, hati ingin melayani, kerendahan hati, semuanya sama-sama penting.

Dengan adanya tulisan ini, lagi-lagi, saya yakin banyak yang merasa tersinggung. Yah, ngasih tau yang bener itu memang gak selalu diterima. Mari sama-sama membenahi kekurangan di diri kita! :)

Thursday, December 13, 2012

How They Affected Me


Percaya nggak, kurang dari dua tahun yang lalu, aku anti banget sama yang namanya lagu rohani. Bukan anti gimana-gimana sih, cuma kalau masukin lagu gereja ke dalam Hape itu rasanya hal yang ga mungkin. Buat saya, dulu, lagu rohani itu hanya lagu yang dinyanyikan saat hari Sabat, saat lagu-lagu dunia gak boleh dimainkan. Dan sekarang, aku merasa sangat nista pernah bilang begitu.

Aku bukan habis denger seminar yang nyentuh banget atau apapun, hanya sebuah kesadaran kecil. Bermula dari suka nginep di tempat temen yang gak mau mendengar lagu sekular sebelum renungan pagi, kemudian berteman dengan orang-orang yang suka memperdengarkan lagu rohani dan tanpa sengaja masuk ke folderku, aku dengar, dan.. terjadi begitu saja. Aku suka. Bukan soal lagunya, tapi gimana aku merasa damai mendengar lagu-lagu itu. Ah, terdengar lebay mungkin, tapi begitulah kenyataannya. Kalau ngerjain sesuatu, yang aku mainkan sekarang bukan lagi lagu Green Day, Paramore, atau lagu-lagu dari band kesukaanku yang lain. Aku sekarang punya koleksi lagu rohani yang bahkan aku gak pernah bayangkan aku mau menyimpannya dan membuat memory laptopku tersita. Keajaiban sih menurutku.

Dan dengan kebiasaan yang masih terbilang baru ini, bukan deklarasi bahwa aku sekarang adalah aku yang rohaniawan, atau semacamnya. Itu harapanku. Aku hanya bersyukur atas orang-orang yang Tuhan kirim ke hidup aku dan memberi pengaruh yang lebih baik. Walau hanya sekedar kebiasaan mendengarkan musik. :)


Tuesday, December 11, 2012

TATA SURYA

Bisa aku pastikan TATA SURYA gada hubungan darah sama Tata Young, apalagi Tata Dado, tata boga dan tata-tata lainnya. *YAIYALAAAHH!!*

cukup bergaring-garingrianya..
kenapa aku tertarik membahas ini?

Berawal dari sms seorang temen yang aku tanya "berangkat kemana?"
dengan nyeleneh dia bales "ke mars"

oke, aku ditantangin nyeleneh.. aku bales "hebat. sampe ketemu di sana ya. tar kita jalan-jalan ke venus"

he replied "gak ah, venus kan panas. Makanya cewek emosian. hehe"

kebetulan sekali beberapa hari lalu aku ikut perkemahan pathfinder-adventurer dan ada kelas tata surya yang menurutku isinya kerenn.. bahannya kerenn.. jadi tertarik sama Tata Surya. Dan lumayan banyak pengetahuan baru yang aku dapet dari kelas Tata Surya itu. Yak, aku inget Venus itu emang panas gara-gara

5 cm



Ubek-ubek draft post, ternyata menemukan postingan yang batal dipublish, tentang quotes dari Novel 5 cm. Kebetulan juga besok filmnya tayang di bioskop. Ah, pertanda apa ini?

Udah hampir 4 bulan aku puasa nonton bioskop (setelah nonton the Raid), dan udah bolong dua kali sih waktu Perahu Kertas muncul. Dan 5 cm bukunya juga udah aku baca sejak lama, sekarang difilmkan. Jadi galau nih mau nonton. Nonton aja deh. Hahaha. Ada yang mau nonton juga? ;)

"Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa.

Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.

Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.. 

Keep our dreams alive, and we will survive.." 


5cm - Donny Dhirgantoro

Monday, December 10, 2012

Impian

Banyak orang sudah tau apa impian mereka dan ke mana mereka akan mengarahkan hidupnya. Ada yang ingin jadi penyanyi, pengusaha tekstil, arsitektur bangunan ibadah, penulis, dan sebagainya. Saya sendiri, saya tidak tau mau jadi apa nanti. Sejak dulu saya hanya menikmati apa yang saya jalani. Apa yang terjadi, terjadilah, mungkin itu moto hidup saya. Mungkin. Saya sendiri gak tau. Kamu sendiri, apa impianmu?

Takut

Seorang anak diminta ibunya untuk membeli telur ke warung dekat rumah. Anak itu mengiyakan dan segera menuju ke warung. Setelah dibelinya, kembalilah ia ke rumah. Di perjalanan pulang, tanpa sengaja ia menjatuhkan belanjaannya dan telur-telur itu pecah. Melihat itu, iapun menangis. Lama ia terjongkok menangis melihat telurnya yang sudah tidak berbentuk. Tetangganya melihat dan membujuknya pulang. Setelah dibujuk berkali-kali akhirnya ia menurut, masih tetap sesenggukan. Sampai di rumah, dia masih menangis, dan si tetangga menceritakan apa yang terjadi. Ibunya berusaha menenangkan dan meyakinkan anaknya itu bahwa ia tidak akan marah meski telurnya pecah. Anak itu tetap saja menangis.

Anak itu bukan menangis karena takut dipukul atau dimarahi ibunya. Ibunya bahkan tidak pernah memukulnya satu kalipun. Ia hanya menangis karena merasa telah mengecewakan ibunya. Rasa takut mengecewakan itulah yang membuatnya menangis.

Rasa takut seperti inilah yang Alkitab maksudkan. Bukan takut karena hukuman, balasan, atau hal lain yang menakutkan dan membuat yang melakukannya merasa dipaksa. Seharusnya ini rasa takut yang saya rasakan setiap kali saya melakukan hal-hal yang tidak disenangi Tuhan. Takut dia kecewa sama saya, yang dosanya buanyaaaaaaaaak sekali tapi diampuni setiap kali saya meminta.

Yeremia 32:40 
"Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku."

Amsal 1:7
"Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."

Sunday, December 9, 2012

Sad News of Yesterday


Merinding. Dua minggu terakhir ini saya sering banget merinding. Ada yang gara-gara cuaca yang dingin akhir-akhir ini (astaga hujannya..), gara-gara kejadian luar biasa yang Tuhan bikin (minggu ini datang bertubi-tubi), dan bahkan gara-gara hal yang menyeramkan. Dan sayangnya kali ini gara-gara hal yang ketiga.

Kemaren tiba-tiba mama ngasih tau anaknya tante sebelah rumah mati dibunuh. Zinggggg.. Selama ini cerita pembunuhan cuma aku denger dari berita kriminal ecek-ecek di TV, atau dari sinetron gak penting itu. Dan sekarang aku mendengarnya sendiri dari orang yang aku kenal.

"Siapa yang bunuh? Pencuri?"
"Suaminya." Zingggg.. Astagfirullah..

Aku ikut si mama ke rumah si tante itu, si tante lagi terbaring sambil meraung-raung. Sedih banget. Kebayang, udah ngegedein anaknya, sampe anaknya berkeluarga dan punya 4 anak, tapi kemudian mendengar anaknya mati, dibunuh pula, sama mantunya pula. 

Ternyata si anaknya ini dibunuh gara-gara suaminya menduga dia selingkuh, gara-gara udah enam bulanan gitu dia ga pulang. Kata sodaranya sih dia ga pulang karena gak kuat disiksa terus sama suaminya. Mereka emang udah sering berantem dan pernah hampir cerai.

Pertanyaan yang selanjutnya terlontar dari mulutku adalah "Ma, mereka Advent?"
"Iya. Jemaat x."

Duh, perih dengernya. Kok bisa? Mukul aja harusnya hal-hal tidak seharusnya dilakukan oleh seorang yang mengikut Tuhan, dan sekarang MEMBUNUH?

Satu hal yang bisa aku lihat, Advent atau ngga itu bukan jadi patokan orang itu baik atau ngga. Mahatma Gandhi once said: "If Christians would really live according to the teachings of Christ, as found in the Bible, all of India would be Christian today."

Yap, kalau semua orang memang melakukan apa yang dia tau benar, dunia ini udah damai. Tapi nubuat mengatakan sebalikya, di jaman-jaman akhir itu orang-orang bukannya bakal semakin baik, malah semakin jahat.

Dan aku kepikiran satu hal lagi, sekali lagi, carilah pasangan yang SEIMAN. Seiman itu bukan soal agama (saja), tapi juga benar-benar punya iman dan terwujud di perbuatannya setiap hari. Bukan hanya pasangan yang 'baik' di gereja atau di masa-masa PDKT, tapi pasangan yang takut akan Tuhan, salah satunya lewat kesaksian orang lain tentang dia. Aaah, makin susah aja nih nemuin jodoh. (._.)

Akhir kata, semoga keluarga yang berduka diberikan hiburan (bukan dari manusia saja), dihapuskan dari rasa dendam sebagaimana diajarkan Alkitab, dan tetap jadi berkat. Buat yang membunuh, semoga ini bagian dari perjalanan imannya, jatuh untuk bangkit lebih tinggi. Kasihan itu 4 anaknya gimana mamanya meninggal, papanya di penjara. :( May God bless them.


tambahan: Aku baru dapet informasi tambahan, sang Ayah membunuh isterinya di depan ketiga anak-anaknya. Jadi si Ayah ternyata sudah merencanakan pembunuhan ini dari jauh-jauh hari. Sang isteri udah 6 bulan kabur ke Jakarta, dan si Ayah nelpon bilang kalo anak-anaknya kangen. Dia diminta pulang dan masak buat anak-anak. Isterinya gak curiga, dan pulang. Dia masak, dan waktu lagi makan bareng, si Ayah datang dan langsung menikam isterinya di depan anak-anak yang lagi makan. Gila. :(((((( Semoga anak-anaknya gak trauma. God, heal them. :(((


Thursday, December 6, 2012

A Journey of Faith (part 2)

Kami menuju ke gereja, berbagi tugas. Ada yang cari penginapan, ada yang cari makan, ada yang latihan, ada yang mandi. Rencananya, kalaupun gak dapat penginapan, kami berbagi, ada yang mandi di gereja, di hotel kak Billy, di kosan Jeinzen. Sepakat, kami menyebar sesuai tugas msing-masing. Selagi latihan di gereja, Kak Billy telepon kalau harga hotel tempat dia menginap ternyata gak terlalu jauh dengan budget kami. Penginapan yang biasanya hanya boleh dihuni maksimal 4 orang, kami bisa pakai berenam bahkan bertujuh. PUJI TUHAN! Aku langsung telepon Adrian yang sedang cari penginapan dan bilang kalau kita sudah dapat penginapan. Kami semua ke penginapan (yang jaraknya gak jauh dari gereja), siap-siap dan sampai di gereja tepat waktu. Keajaiban kesekian. 

Sampai di gereja, pihak Timoho belum banyak yang datang. Kami kelabakan bersiap karena tidak ada yang mengarahkan. Video untuk pengganti berita misi tidak dapat ditayangkan. Panik lagi. Aku yang udah maju ke mimbar (jadi conductor) mulai gak tenang. Setelah akhirnya tiba giliran Billy, aku turun, mengoperasikan laptop dan PUJI TUHAN bisa. Billy mengulur waktu dengan apik, sampai video benar-benar bisa ditanyangkan. Aaaak Billyyyyyy.. Keajaiban kesekian lagi. 





Sekolah Sabat, Khotbah, berjalan lancar. Setelah makan siang kami ke penginapan untuk beristirahat. Gak terbiasa tiduran hari Sabat, kami para wanita akhirnya malah saling cerita, kesaksian, dan berbagi. What a wonderful Sabbath.



Sorenya kami kembali ke gereja, membawakan acara dan walaupun ada sedikit kesalahan waktu nyanyi, semua berjalan lancar. Setelah tutup Sabat, seksi acara masih galau (iya, galau) soal acara hari Minggu. Aku mengusulkan untuk membentuk acara sharing, dan ternyata disetujui. Selama acara sharing berlangsung, aku bersyukur sekali kami mengadakan acara ini. Banyak teman-teman dari IMAB maupun KMAY yang rindu untuk bersaksi. Ada yang ebrsaksi mengenai hari Sabat, pergaulan di kampus, pelayanan, dan sebagainya. Dan semuanya menguatkan. Kesaksian yang benar-benar luar biasa dan semoga sama menguatkannya buat teman-teman yang lain. 

Sisa malam Minggu, kami berencana untuk menyewa mobil. Samapi jam 10 malam kami belum juga menemukan tempat penyewaan mobil. Tim transportasi belum juga pulang. Kami yang tinggal di penginapan mengobrol, dan menemukan satu masalah juga yang belum juga kami temukan solusinya. 

Besoknya, teman-teman transportasi bercerita tentang perjuangan mereka mencari mobil yang akhirnya dengan keajaiban juga, Tuhan tunjukkan mobil yang dapat disewakan di daerah Bantul. Bahkan dengan harga yang lebih murah dari budget semula. 

Esoknya, kami mengadakan renungan pagi di ruangan para wanita, dan renungan pagi itu benar-benar menguatkan. Masing-masing memberikan ayat yang mereka pilih dari perikop yang diberikan, dan luar biasa, banyak pelajaran yang diambil pagi itu. 

Setelah itu kami berangkat, dan artinya, datanglah waktu untuk membayar penginapan. Kami deg-degan, sejak kemarin kami sudah diawasi dan kalau kami di-charge lebih dari harga seharusnyapun, kami tidak bisa mengelak. 

Aku dan kak Billy mendatangi kasir, dan setelah ditanya berapa totalnya, saya hamper gak percaya. Kami tidak di-charge lebih, bahkan jumlah yang dibebankan berkurang dari perkiran awal. Saya tidak tau ini keajaiban keberapa. Tuhan sudah mengatur semuanya. 

Tujuan pertama kami pagi itu adalah ke Prambanan. Budget kami untuk masuk Prambanan adalah 17,500. Kami kaget saat sampai di sana, ternyata harga tiket masuknya adalah 30,000. Hampir dua kali lipat dari budget. Kami membayar, dan kemudian masuk.



Setelah dari Prambanan, kami mengantar Arthur ke stasiun karena dia pulang ke Bandung duluan. Setelah ke stasiun, kami langsung menuju Pantai Baron, di Wonosari. Waktu tempuh diakumulasikan PP 4 jam lebih. Kami bermain-main di pantai, dan pulang kembali ke Yogya karena berencana untuk berbelanja di Malioboro. 

Kami sampai di Malioboro kira-kira pk.18.00 yang artinya ahrus mengembalikan mobil sewaan ke Bantul. Waktu Tanya ke Mas Yahya berapa lama perjalanan Yogya-Bantul, dia menjawab kira-kira 2 jam. “Tapi kalau hari Minggu gini sih, bisa sampai 2 jam.” Kami mulai was-was. Kami harus benar-benar ngebut supaya bisa mengejar kereta yaitu pk.20.30. Waktu itu hujan, kami semakin khawatir. 

Ternyata kami dapat mengembalikan mobil dalam waktu 1jam-an. Kemudian kami beserta barang diturunkan di Stasiun Lempuyangan, dan mobil setelah itu segera menjemput teman-teman di MAlioboro. “Mereka kan sedang belanja, pasti mereka terpisah-pisah,” pikirku. Jam 8 kurang, mulai deg-degan. Kami beli makanan di stasiun, begitu kembali ke loket, mobil baru saja parker di stasiun dengan selamat dan armada lengkap. Lagi-lagi keajaiban. 

Begitu turun, aku yang memegang tiket berniat membagikan tiket ke anak-anak. Aku cari di tas, ternyata tiketnya GAK ADA. Panik, panik, panik. Aku Tanya Tina dan Gerry, mereka ga tau. Aku gak ingat sama sekali di mana aku taruh tiketnya. Tiba-tiba aku menyuruh Gerry untuk periksa di belakang jok mobil yang kami tumpangi tadi. Untungnya, mas Yahya tidak langsung pulang dan ternyata tiketnya memang ada di kantong belakan jok. HAmpir saja kami semua tidak punya tiket dan aku gak bisa membayangkan apa jadinya kalau kami tidak bisa pulang malam itu. Tuhan kembali bekerja. 

Kami membagikan tiket, mengantri masuk stasiun, dan TEPAT kereta kami datang. Kami naik, cri tempat duduk, dan… keretapun bergerak jalan. Semua TEPAT pada batas waktunya. Entah keajaiban keberapa, aku ingin nangis rasanya. Tuhan benar-benar bekerja di setiap langkah kami. Kami saling bertukar cerita, rombongan yang berbelanja bercerita kalau mereka sempat terpencar, ada yang berlari-lari, ada yang naik becak, bahkan ada yang sampai naik taksi. Dan Tuhan sampaikan mereka semua tepat waktu di stasiun. Aku ga tau mau bersyukur dengan bagaimana lagi dengan semua keajaiban yang Tuhan kasih itu. Luar biasa dan tepat pada waktunya. 

Pulangnya, masih ada keajaiban yang Tuhan mau tunjukkan pada kami. Di perjalanan pulang, Tina SMS kalau dia sampai di kampusnya TANPA TERLAMBAT untuk ikut kuis, dan bahkan open book. Aku langsung merinding. Gak tau mau bilang apa selain “Terima kasih, Tuhan."





Matius 6:33 benar-benar nyata. Cari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua itu akan ditambahkan padamu. Jangan khawatir, lakukan pekerjaan Tuhan, dan Dia akan mengatur sisanya. AMIN!

Wednesday, December 5, 2012

A Journey of Faith (part 1)


This is the day. Gak deg-degan sih, tapi berbagai macam hal berkecamuk di kepala saya. Gimana ini? Transport nanti gimana? Terus, penginapannya gimana? Dana juga masih kurang. “God provides, and I believe it”, kataku dalam hati.

Beep.. beep.. SMS dari Ocha.
“Kak, penginapan gimana? Kita ga dapet yang murah.”
Tanpa piker panjang, aku balas, “Masih ada waktu untuk berdoa. J

Bagaimana aku bisa setenang itu membalas? Apa berdoa cukup? Bagian dari diriku yang lain masih ragu. Ah, tenang aja lah. Pasti ada jalan. Alter egoku yang lain ikut nimbrung.

Pukul 14.00. Beep beep. Hari ini handphoneku lagi laku keras. Ada yang nanya gimana keberangkatan, jam berapa, di mana, naik apa. Aku merasa seperti operator penerangan.

Hujan. “Tuhan, aku gak minta hujan berhenti. Aku hanya minta, jadilah kehendakMu.”

Aku sendiri gak ngerti bagaimana aku bisa seberserah ini. Ini bukan pasrah seperti sebelumnya. Aku sudah merasa berusaha sebisaku, dan sisanya aku kasih ke Tuhan. Aku terobos hujan dengan ransel padat di punggung, laptop berbalut softcase Mickey Mouse di tangan, yang ditumpuk dengan ikatan beberapa kaos IMAB yang masih di plastik. Hujan-hujanan, jalan, kemudian naik angkot. Gak perlu mengeluh, aku pasti bisa. Berkali-kali aku memotivasi diri.

Sampai di SEtiabudi, seperti dugaan, belum ada yang datang. Sabar, sabar, menunggu sambil ngeliatin Evan main hujan. Alasannya mau cuci sepeda, tapi badannya ikutan basah kuyup. Dasar anak-anak.

16.30. Akhirnya ada yang datang. “Maaf, macet”, kata mereka. Jalanan hari ini memang seadng cari perhatian. Macet di semua sudut kota. “Yuk, latihan.” Kami latihan sebentar di gereja, yang lain berdatangan satu persatu. Tapi belum lengkap. Janjian jam 4.30, 5.30 banyak yang belum datang. Kami memutuskan berangkat. Ke stasiun Hall, untuk kemudian naik kereta ke Stasiun Kiara Condong.

Kami membeli 14 tiket, tapi 3 orang belum terlihat batang hidungnya. “Ya Tuhan, jadilah kehendakMu”, aku berdoa lagi. SAtu teman SMS saya, bertanya kenapa di Setiabudi sudah tidak ada orang. Astaga, sepertinya SMSku gak sampai ke dia. Dengan cepat, aku balas supaya dia menyusul ke Stasiun Hall. Setelah aku bilang begitu, yang lain bilang sepertinya gak akan sempat dia menyusul ke stasiun Hall, suruh saja langsung ke Kiara Condong. Aku gak suka situasi ini. Situasi di mana aku harus cepat mengambil keputusan dan kemudian sepertinya keputusan itu salah. Apalagi aku sadar aku sulit sekali membuat keputusan.

Sampai di stasiun Hall, teman yang tadi belum datang juga. Akhirnya kereta kami harus berangkat. Tanpa dia. Aku kesal, menyesal, marah, ke diri sendiri. Sekali lagi aku mengambil keputusan yang salah. Kami memutuskan meminta si teman tadi menyusul ke Kiara Condong.

Sampai di Kiara Condong, 4 orang belum datang juga. Ada 2 orang yang bahkan bilang lebih baik gak ikut karena pasti gak terkejar. Aku mulai panik. Tapi muka harus tetap tenang. Aku pemimpin di kelompok ini. Kalau aku panik, yang lain akan ikutan panik. Puji Tuhan satu per satu yang 4 orang tadi mulai datang. Satu orang datang dengan muka marah. Teman yang tertinggal kereta tadi. Pasti gara-gara ketinggalan kereta tadi. Salahku. “Tuhan..” aku gak sanggup melanjutkan. Tetap tersenyum. Semuanya sudah lengkap, menuju kereta dan kereta berjalan. “Tuhan, kasih aku kekuatan. Ini baru dimulai. Amin.”

Sudah mulai malam, kereta sudah berjalan selama beberapa jam. Beberapa orang sudah tertidur. Ada juga yang masih sibuk mengobrol. Aku sendiri, masih berpikir-pikir bagaimana penginapan nanti, kalau kami sudah sampai di Jogja, kami ke mana? Aku gak mau mengecewakan mereka dengan tanggungjawabku yang gak aku lakukan dengan baik.

Paginya, (kira-kira pukul 3), cek handphone, belum ada balasan dari kak Billy yang aku minta tolong cari penginapan. Tiba-tiba terpikir untuk telepon Jeinzen, dan alternatif kalau-kalau kami memang tidak ada penginapan nantinya. Secercah cahaya datang.

(to be continued..)

Tuesday, November 27, 2012

Hari Anti Tembakau - 31 Mei

tugas Pidato lagi nih, ciyn.. :))


Selamat siang rekan-rekan Humas 3 sekalian! Puji syukur yang setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Maha Esa, pencipta semesta alam, yang pengasih dan penyayang, yang masih besar kasih setia-Nya pada kita, karena atas berkat, rahmat, anugerah dan lindungan dariNyalah kita dapat berkumpul di ruangan ini, dengan sukacita, dengan tanpa kekurangan sesuatu apapun.


Terima kasih kepada yang saya hormati, bapak Dosen Pembimbing mata kuliah Publik Speaking, yang berkenan hadir dan telah memberi kesempatan kepada saya untuk dapat berdiri di sini, berbicara kepada rekan-rekan sekalian. 

Pada kesempatan yang berharga ini, saya akan membawakan satu topik yang pastinya tidak semua orang menyukainya dan mungkin saat saya membawakan ini ada yang merasa tersinggung atau tidak senang. Sebelum saya membawakannya, saya minta maaf namun saya merasa ini memang harus saya lakukan. Baik, langsung saja, saya akan berbicara mengenai Hari Anti Tembakau Sedunia yang jatuh pada tanggal 31 Mei. 

Saat ini saya tidak akan berkoar-koar mengenai kandungan berbahaya atau efek berbahaya dari rokok. Siapa sih yang tidak tahu soal itu? Bahkan di bungkus rokok sendiri tertulis bahayanya, tapi orang-orang masih saja mau merokok. Ini merupakan satu hal yang ironis. Bayangkan rekan-rekan sekalian, ibarat kita ingin membeli sebuah mobil, sebelum membeli, di manual buku ditulis “Mobil ini menyebabkan kecelakaan. Kalau mengendarai mobil ini, roda akan lepas sendiri, kap mobil copot, setir tidak berfungsi dan sebagainya dan sebagainya.” Apakah kita akan tetap membeli mobil tersebut? Lalu apa bedanya dengan rokok? 

Mitos yang mengatakan merokok itu jantan hanyalah mitos ciptaan iklan. Perokok dikesankan seolah-olah maco, gagah, pemberani, dan kuat. Ini terbukti terbalik dengan kenyataan. Merokok jantan? dari mana rumusnya? Merokok menghisap karbon mono-oksida dan ribuan zat beracun lainnya. Ini menyebabkan suplai oksigen kurang, juga resiko kanker karena zat karsinogenik akibat kekurangan O2. 

Ada juga yang bilang kalau laki-laki yang tidak merokok itu seperti bencong. Ini satu statement ngaco lagi. Sejauh ini bencong-bencong yang saya pernah temui semuanya merokok. Lalu gimana ceritanya tidak merokok sama dengan bencong? Bukankah sebaliknya? 

Masalah kita sekarang bukanlah tidak tahu tentang bahaya rokok. Masalah sekarang adalah TIDAK MAU TAHU tentang masalah rokok. Ironisnya, sikap tidak mau tahu ini sadar tidak sadar. tidak hanya merugikan si perokok sendiri, tapi juga merugikan orang lain. 

Tadi ketika menuju tempat ini, seperti biasa di angkot, saya menemukan seorang bapak yang dengan santainya merokok. Ya, memang bukan pemandangan yang aneh lagi melihat orang merokok dan membayangkan bahwa Perda Kota Bandung tahun 2005 hanya hiasan buku undang-undang pemerintah. Yang membuat saya heran adalah, bapak itu merokok sambil menggendong anak. Ya, menggendong anak. Anaknya kira-kira berumur 2 tahun. 

Saya tidak mengerti apa yang ada di benak bapak tadi ketika merokok di depan anaknya. Asap rokok itu berbahaya bagi orang dewasa, dan jauh lebih berbahaya lagi tentunya untuk anak-anak. Dan itu anaknya sendiri. Sadar atau tidak, si bapak ‘membunuh’ anaknya perlahan-lahan. Tragis sekali. 

Merokok memang hak pribadi setiap orang, namun hak setiap orang juga untuk menghirup udara tanpa asap rokok. Melarang merokok memang dlematis di negara berkembang ini, karena ini sudah mencakup bermacam kepentingan. Kepentingan pemerintah atas cukai, petani tembakau, pekerja pabrik roko, salesman rokok, agen pembuat iklan rokok, sepak bola, TV, dan tentu saja perokok. Melarang apalagi membuat fatwa haram bukanlah solusi. Ini tak bisa dihentikan hanya dalam hitungan hari. Menghentikan tak mungkin, mengurangi mungkin. Kampanye persuasif dan terus-menerus yang bisa dilakukan. Pendapatan pemerintah dari cukai rokok memang banyak, tapi subsidi pemerintah untuk penyakit akibat rokok juga besar. 

Bagi teman-teman umat Kristen, di Alkitab sudah jelas tertulis bahwa tubuh kita adalah Bait Tuhan yang tidak boleh kita rusak dengan zat-zat berbahaya, termasuk rokok. Di keyakinan saya sendiri, rokok itu menjadi sesuatu yang haram. 
Bagi agama lain, saya sudah berusaha searching dan hasilnya sama, tidak ada ajaran agama yang mendukung merokok karena penelitian kesehatan di belahan dunia manapun sepakat, tidak ada manfaat lebih dari merokok. 

Tentu semua agama juga mengajarkan sesuatu yang menuju ke kebaikan, saya yakin itu. Tetapi semua pilihan kembali ke diri kita masing-masing. Apakah kita mau menutup mata kita akan bahaya-bahaya rokok itu dan pelan-pelan melakukan tindakan pembunuhan, tidak hanya bunuh diri, tetapi juga membunuh orang lain. Mari kita jawab dalam hati kita masing-masing. 

Dan pada akhir pidato saya ini, saya mau mengajak teman-teman perokok untuk mengurangi bahkan berhenti sama sekali merokok. Susah, memang, tapi pasti bisa. Ayah saya sendiri sudah membuktikannya. 

Kalau memang masih merokok, merokoklah dengan bijak. Merokoklah pada tempat yang disediakan. Bila tidak ada tempat untuk merokok, anggap saja itu terapi untuk mengurangi rokok. 

Sekian pidato yang dapat saya sampaikan, semoga tidak lewat begitu saja, tapi dapat menggugah kesadaran kita akan pentingnya udara bersih. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat siang.

Tuesday, November 13, 2012

Kemampuan Membaca Pikiran

Dulu, kalau ada yang tanya "Andai punya kesempatan buat punya kekuatan khusus, kamu mau minta apa?", aku jawab "pengen bisa baca pikiran orang." Aku pengen tau apa yang orang lain pikirkan tentang aku, bagaimana perasaan mereka sama aku, dan sebagainya, dan sebagainya.

Sampai akhirnya aku berpikir, gimana kalau ternyata yang mereka pikirkan adalah sesuatu yang gak ingin atau gak siap aku dengar?

Misalnya, aku bertanya gimana penampilanku hari itu, dan mereka jawab 'ok'. Dan ternyata aku dapati sebenarnya mereka tidak berpikir begitu. Dan andai aku bisa baca pikiran, apa yang terjadi? Aku sakit hati, dan menganggap semua orang tidak bisa dipercaya. Lalu apa? Ujung-ujungnya menyakitkan juga.

Kalau suatu saat aku suka sama seseorang, aku baca pikirannya ternyata dia suka sama orang lain, lagi-lagi menyakitkan. Aku memutuskan buat gak suka sama dia lagi, naksir orang lain lagi, begitu lagi, dst. Padahal ada kesempatan di mana kalau aku gak tau apa yang dia pikirkan aku memilih untuk tetap suka, menikmatinya dan perasaan dia terhadap aku pelan-pelan berubah. Bukannya itu bagus? 

Oh, berarti aku gak mau deh punya kemampuan baca pikiran. Gak semua harus aku tau dan ada hal-hal yang sebaiknya tetap menjadi misteri.Semua dijadikan dengan maksud tertentu. Bahkan sesuatu yang dianggap menyakitkan awalnya, itu ternyata membuat sesuatu yang lain lebih berharga.

Sakit dibuat supaya aku merasakan bertapa berharga dan nikmatnya menjadi sehat. Kehilangan ada supaya aku mensyukuri pernah memilikinya. Aku diciptakan gak bisa baca pikiran orang lain supaya ada motivasi di sana, tidak terpuruk sebelum mencoba, membuat aku cukup bersimpati pada posisi orang lain. Kalau aku jadi dia, apa ini menyinggung? Apa aku suka diperlakukan seperti ini? dan sebagainya dan sebagainya.

Terima kasih Tuhan buat keterbatasan yang aku punya..

Wednesday, November 7, 2012

Another Miracle

Entah ada apa antara aku dan ujian. Setiap kali jadwalnya ujian, selalu aja ada yang mengganggu. Dan itu terjadi lagi kali ini, entah keberapa kalinya. Jadwalnya Public Speaking, aku dengan santainya datang ke kampus jam 1 siang, sesuai dengan jadwal kuliah. BEgitu sampai kampus, eh kenapa orang-orang pada turun? Mulai deg-degan, aku langsung meluncur ke lantai 3 dan benarlah, ujian udah selesai. Temen-temen bilang ujiannya jam 12, bukan jam 1. Matik!

Harap-harap cemas, aku datengin Pak Manap dan menjelaskan duduk perkaranya. Jadi kemarin itu aku tanya Mila Public Speaking ujian jam berapa. Mila jawab "Palingan juga jam 1 kayak biasa, De." Aku menganggap itu sebagai satu kepastian dan beginilah aku, datang di waktu yang salah.

Setelah memohon-mohon ujian susulan, akhirnya diperbolehkan. Buru-buru, aku cek jadwal ujian. Oh, ada hari Jumat sama Selasa. Oke.

Datanglah hari Jumat, aku lagi di UNAI dan repot untuk turun ke Bandung. Lagian, gak bawa baju untuk ujian. "Selasa aja ah," kataku dalam hati. JEng jeng jengg.. Selasa datang. Dengan anggunnya aku ke kampus jam 7 soalnya aku juga lupa hari Selasa itu ujiannya jam berapa. Ke Sekjur ngurus kartu (ini juga masalah lain dalam hidupku. Kartu Ujian).

Setelah dapat kartu ujian, aku cari papan pengumuman dan liat jadwal ujian hari itu. Daaaan, DHUARRRR! Bumi gonjang-ganjing! Ki Joko Bodo jadi pinterrrr! HARI ITU GA ADA UJIAN PUBLIC SPEAKING! Yang waktu itu aku lihat ternyata jadwal untuk minggu pertama, bukan minggu ini. Dan ujian Public Speaking terakhir itu, KEMARIN! Gemeteran. Ah, pengen pingsan rasanya. Aku harus bermasalah lagi sama Pak Manap. Matik! Bangkit! Matik lagi!

Bingung, ketakutan, dan berusaha mencari alasan apa yang bisa aku pakai. Salah jadwal lagi? Makhluk sebodoh apa yang sampe salah jadwal berkali-kali? Ya Tuhan, I'm begging you a miracle again. Tapi kalo ga ada keajaiban juga gak apa-apa deh. Ini memang salah aku. (._.)

Deg-degan, masuk ke ruangan Pak Manap. Tok tok tok, permisi, Pak!
"Iya, kenapa, Dek?"
"Ehm.. Anu, saya mau ikut ujian susulan Public Speaking, Pak."
Aku sudah siap dengan jawaban ketus, "Loh, kenapa kemarin kamu tidak datang? Kan ada 2 hari kesempatan? Tidak, saya gak mau kasih susulan lagi. Cukup. Silakan keluar." Percakapan di kepalaku.
"Ya usah tunggu aja," kata Pak Manap.
Hah? Hah? Gak salah denger?
"Hari ini ada ujian Public Speaking, Pak?" Aku bertanya untuk memastikan kupingku belum perlu dibawa ke THT."
"Iya, ada."
"Jam berapa, Pak?"
"Sekarang."
"Oh ya udah, permisi, Pak."
Aku keluar ruangan dosen dengan tampang ga percaya. Beneran ini teh? Ah jangan-jangan si Bapak salah jadwal. Mata kuliah lain, kali. Mana mungkin? Aku masih ga percaya. Aku memilih untuk nunggu Pak Manap dan setengah jam kemudian dia keluar. Please jangan bilang ini bukan ujian Public Speaking. Please..

Sampailah di ruangan ujian, ada yang aku kenal. Aku masih was-was, aku tanya dia "Ini ujian apa?"
"Public Speaking," katanya.
"Jadi beneran? Bukannya harusnya kemaren?"
"Iya, jadwalnya diundur soalnya kemaren ada Sertijab kampus."

Rasanya ingin sujud sembah macam di acara Minta Tolong gitu. Ini keajaiban. AJAIB! Astaga Tuhan, jawaban doanya cepet banget. TERIMA KASIH TUHAN!

Untuk kesekian kalinya aku dibantu lagi. Aku bersyukur dan ah, speechlesss.. :x

Tuesday, October 30, 2012

Indonesia Youth for Christ (pre-event)


Apa yang bisa aku bilang selain, “Terima kasih, Tuhan”? Banyak banget berkat. Awalnya aku hampir batal ikut acara ini. Ceritanya bagini, 2 sabat lalu aku mengajukan diri jadi utusan gereja ke IYC dan diterima. Om Guntur bilang “Gereja setuju mengutus 1 orang, kamu ya, De.” Wah, aseli, seneng banget. Dibayarin gereja full, aku cuma tinggal berangkat. Aku langsung daftar secara online ke indonesiayouthforchrist.com dan sabat berikutnya tinggal minta duit ke bendahara, terus bayar deh. Tapi ceritanya berubah. Pas hari Sabat, aku bawa surat undangan IYC yang aku download dari situs tadi buat ditunjukin ke majelis bahwa acara ini memang benar-benar ada. Aku titip suratnya dibacain sama ketua PA, dan menunggu mereka kelar rapat majelis. Sesudah mereka selesai rapat, ketua PA dateng ke aku dan bilang, “Majelis bilang ga usah jadi pergi, Dek. Ini acara Kebangunan Rohani, katanya sama aja sama KKR dan kita nanti ada KKR Pendeta Missah bulan Desember.” Jeng jeng jeng..

Aku berusaha menjelaskan bahwa ‘Kebangunan Rohani’ di sini bukan maksudnya acara KKR di mana ada 1 orang khotbah dan yang lainnya Cuma duduk manis mendengarkan. Ini acara dengan workshop dan pelatihan-pelatihan, untuk menghasilkan kebangunan rohani. Kok jadi mikir ini KKR sih? Tapi sebagaimanapun aku menjelaskan, nihil. Katanya ini sudah jadi keputusan majelis. Sadly, I kneel and the pray. God, I want to be in this IYC soooo much. Thy will be done. Amen.

Pulang gereja, aku udah berserah deh sama Tuhan mau aku pergi atau ngga. Then God hears my prayer. Berkat datang melalui orang yang aku yakin Tuhan yang gerakkan hatinya. And here I am, writing a review of that experiences in IYC. Praise the Lord!

Hari Rabu datang, keberangkatan ke IYC bersama rombongan UNAI. Malam sebelumnya aku SMSan sama salah satu utusan dari UNAI nanyain tentang keberangkatan dan rombongan UNAI berangkat jam 3. Aku masih ada kelas hari Rabu mulai jam 7, dan siangnya aku masih presentasi dari 11.30 sampai jam 1. Aku minta buat nunggu di Bandung aja dengan asumsi aku pulang dulu, kira-kira sampe rumah jam 2, kemudian berangkat ke tempat di mana bis UNAInya lewat. Setelah berbincang lewat SMS dengan panjang lebar, keputusannya, aku harus ke UNAI, gak bisa nunggu di Cimahi or somewhere else. Awalnya aku sebel banget, apa susahnya janjian di bawah, dan akupun ga akan terlambat. Tapi buat apa banyak mengeluh toh aku juga ga tau mungkin memang ada kesulitan yang mereka sudah bayangkan yang aku tidak tau. Memikirkan kalo besok harus bawa ransel supergede ke kampus, kemudian masuk kelas entrepreneur, aku stress. MAU DITARO DI MANA TAS SUPERGEDE ITU? I pray again.

Besoknya, aku memutuskan untuk bolos Entrepreneur dan siap-siap secara matang buat presentasi. Tugasku baru selesai tepat 10.30 sedangkan info yang aku dapat kelasnya mulai 11.30. Belum lagi ngeprint, belum lagi ganti baju. Akhirnya aku memutuskan untuk gak bawa ransel dan di jalan mencoba menghubungi siapa tau ada yang mau direpotkan buat anter dan jemput aku secara kilat sampai di UNAI. DEg-degan nunggu balesan orang-orang. Banyak yang bales, ada yang udah punya janji, ada yang lagi di luar kota, dan sebagainya. I wish I had a boyfriend RIGHT NOW. Setidaknya kalau pacarku ga punya kendaraan, dia akan bias menenangkanku saat itu. Ga beberapa lama, akhirnya ada jawaban. Puji Tuhan Ocha dan Rahmat mau. Ah, terharuuu.. :’)

Masalah tidak selesai begitu saja. Setelah terburu-buru ngeprint ke DU dan kelas 11.40, aku ke kampus, mendapati kelas kosong. Ada apa lagi ini? Aku ke kantor dosen, melihat apa dosennya ada? Ternyata ada.

“Maaf, Bu aku mau Tanya kita ada kelas hari ini?”
“Ada, Dek. Jam 12.15 kan?”
“Loh, saya dapat infonya 11.30, Bu.”
"Ngga, Dek. 12.15 mulainya.”

Jeng jeng jeng jeng.. Kalau kelasnya mulai 12.15, selesainya berarti 13.45. Karena yang presentasi ada 3 kelompok, pait-paitnya kelas ini berakhir jam 2an. LALU AKU KE UNAINYA JAM BERAPA INI? Mana di ruang bawah tanah ga ada sinyal. Berdoa lagi. Thy will be done, Lord.

Bener aja, kelas selesai jam 2.10. RAHMAT MANA? RAHMAT MANA? Mulai panik. Rahmat SMS dia udah sampe, karena aku lama dia main game online dulu. Astagfirullah. JAntung saya aktif sekali di jam-jam ini.

Akhirnya berangkat dari Dipati Ukur jam 2.15. Tujuan pertama: Cimindi. Di perjalanan, ngebut banget. Superngebut. Sempet kepikiran kalau aku kenapa-kenapa selama perjalanan, aku ga tau harus gimana. Aku keluar rumah tadi pagi dengan keadaan berantem sama mama. Ya, Tuhan, kehendakMu yang jadi.

Akhirnya sampai di Cimindi jam 2.35. Napas makin terengah-engah. Belum amakn dan minum apapun sejak pagi. APAPUN. Packing cepat, langsung meluncur ke UNAI. 3.15 sampai di UNAI dan, masih nunggu orang. Jam 4 baru berangkat. Ingin nangis rasanya.

Di perjalanan, nahan lapar tingkat tinggi. Perutku jarang banget merasakan rasa lapar. Ini toh rasanya lapar. Gak enak juga. :/

Perjalanan ke Puncak supermacet. Asumsi samapi di lokasi jam 7 malam, nyatanya sampai abru jam 8.30. Auwooooo.. But thank God we arrived savely, happily, and hipirilllli..

How the day was? Wait for the next post! (ceritanya bikin penasaran, padahal males ngetik ;p)

Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Wah, udah lama nih ga nulis. Tapi saya juga bingun nih mau nulis apa. Kemaren ubek-ubek fil, ternyata aku masih nyimpen bahan pidato aku di mata kuliah Public Speaking. Mayan nih buat dishare. Hehehe. Cekidot. 



Selamat pagi, rekan-rekan Humas 3 sekalian!

Pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dosen Pembimbing Mata Kuliah Public Speaking, yang saya hormati, Bapak Manap Solihat. Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya untuk berdiri di depan sini untuk membawakan sesuatu yang semoga berguna bagi rekan-rekan sekalian. Terima kasih juga kepada rekan-rekan Humas 3 atas waktunya mau mendengarkan apa yang saya bawakan di depan sini.

Pada kesempatan kali ini, saya diberikan topik mengenai Pendidikan Karakter dan dengan subtopik yaitu Tantangan Hadirnya Budaya Baru di Rumah-rumah melalui Media. Saya rasa, ini merupakan topik yang dekat dengan masing-masing kita di sini.

Penelitian tahun 2005 yang dilakukan Kaiser Family Foundation di Amerika Serikat, anak-anak dan remaja ari usia 8-18 tahun rata-rata per harinya menghadapi serangan media selama 6.5 jam dan televisi memiliki porsi yang sangat besar. Mari kita berhitung sebentar. Masing-masing dari kita mempunyai jatah waktu sama setiap harinya, bukan? Siapa di sini yang mempunyai waktu 25 jam atau lebih? Nah, kalau begitu kita sepakat bahwa kita sama-sama memiliki 24 jam setiap harinya. Setiap harinya kita pukul rata saja, membutuhkan waktu untuk tidur selama 7 jam, pulang-pergi kuliah 2 jam, makan 3 dikali 15 menit menjadi 45 menit. Mandi 20 menit, kuliah 3 jam. Jika kita totalkan semuanya akan menghabiskan waktu selama 20 jam. Kita kurangkan dengan jatah waktu kita 24 jam, hanya menyisakan 4 jam saja. Apa yang dapat kita lakukan dengan 4 jam ini? Bagaimana dengan waktu kita bersama keluarga?

Masih ingatkah rekan-rekan sekalian, beberapa waktu yang lampau, saat kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ketika guru meminta kita untuk membuat kalimat, ada kalimat-kalimat klise yang sering digunakan. Selain ‘Ini ibu Budi’, tentunya. Dulu kalau guru meminta kita membuat kalimat, kita sering menuliskan ‘Ayah sedang membaca koran dan ibu sedang menjahit. Adik membantu kakak membersihkan rumah.’ Apakah keluarga saat ini memang masih melakukan aktifitas tersebut?

Sekarang ini tidak jarang kita temui rumah-rumah dengan fasilitas televisi di masing-masing kamar. Banyak orang tua berpikir bahwa itu merupakan bentuk perhatian mereka terhadap anak, padahal efeknya sebaliknya. Dengan adanya televisi di masing-masing kamar, meperbesar sekat antara setiap anggota keluarga. Anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Apakah orang tua tau apa yang dilakukan anaknya di kamar? Saya kira tidak.


Saat ini banyak meja-meja makan di rumah sudah tidak berfungsi sebagaimana biasanya. Meja makan, tempat di mana dulunya adalah wadah berkumpul dengan keluarga, makan bersama, saat ini sudah jarang dilakukan lagi. Makan sudah berpindah ke depan televisi, kamar, bahkan sering pula anggota keluarga makan di luar dengan kesibukannya masing-masing. Lagi-lagi berkuranglah wadah interaksi keluarga.

Terlalu naif rasanya kalau kita membicarakan media jika hanya membicarakan televisi saja. Masih banyak media-media lain yang lambat laun merubah budaya di masing-masing rumah. Contoh lainnya, gadget yang saat ini sedang banyak kita temui, yaitu Blackberry. Tahukah kita, sejak peluncuranya tahun 2004 lalu, Blackberry bagaikan virus yang menyebar, terutama di Indonesia. Dari tahun ke tahun, pengguna Blackberry berkembang pesat. Dari awalnya yang hanya 400.000 orang, sampai mencapai 2 juta pengguna pada akhir 2010. Dan saya yakin di penghujung 2011 ini angka tersebut pasti sudah jauh bertambah lagi. Dengan angka yang fantastis tersebut, Indonesia didaulat sebagai negara dengan pengguna Blackberry terbesar di dunia.

Tidak aneh, karena di mana-mana sudah menjadi pemandangan yang lazim kita menemukan banyak orang sibuk terpaku dengan gadget mereka. Bahkan, tidak sedikit gadget tersebut mengancam keselamatan kita. Ada bahkan saat menyeberang masih terpaku dengan layar handphone mereka, bawa kendaraan, dan lain-lain.

Ada yang masih ingat tagline Nokia? Ya, Get Connected. Bagaimana dengan Blackberry? Saya tidak tahu apa tagline dari Blackberry, namun saya rasa tagline yang lebih cocok dengan gadget-gadget ini adalah “Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Kenapa? Banyak dari kita merasakan manfaat dapat melakukan komunikasi dengan orang yang jaraknya jauhnya dengan kita. Jarak sudah bukan masalah lagi. Kalau ingin berbicara, kita tinggal memencet nomor telepon, dan kita dapat berkomunikasi satu sama lain. Bahkan sekarang teknologi semakin canggih, bukan hanya suara, ada video call. Lebih canggih lagi, dengan biaya yang jauh lebih hemat, sudah ada webcam, melalui skype, Yahoo Messenger, kita dapat berinteraksi dengan visual. Namun anehnya, saya sendiri merasakan, saya mempunyai teman yang sekarang sedang mengambil perkuliahan di Amerika Serikat dan Filipina. Kami sering berinteraksi melalui Skype, YM, tweet-tweet-an melalui Twitter, Facebook dan berbagai aplikasi yang menunjang. Sampai akhirnya mereka pulang ke Indonesia, kami janjian di suatu tempat, ironis sekali dengan reuni kecil tersebut kami sibuk dengan gadget masing-masing.

Begitu juga di rumah, kalaupun ada kumpul keluarga, secara fisik kita memang berkumpul, raga kita bersama-sama, namun jiwa kita sibuk dengan dunia masing-masing. Ayah sibuk berkomunikasi dengan rekan kerjanya melalui ponsel, ibu menonton acara TV (biasanya sinetron), kakak sibuk BB-an, adik bermain PSP, abang mendengarkan lagu melalui headphone.

Saya pernah berkunjung ke rumah salah satu teman. Begitu sampai, saya bertanya, “Ada siapa di rumah?” dan dia menjawab “gak tau, tadi pas balik ga liat siapa-siapa.” 

Sampai muncullah Sang Ibu dari kamar, berkata “Eh, mbak udah pulang toh?”.

Pernah juga saya melihat perbincangan kakak beradik di Twitter. Si kakak bertanya adiknya sedang di mana, dan si adik menjawab kalau dia sedang di kamar. Ironis sekali melihat berada di bawah satu atap, tapi tidak tahu keadaan satu sama lain, dan berinteraksi melalui social media. Padahal komunikasi yang paling efektif adalah komunikasi tatap muka.

Dengan semua yang sudah paparkan tadi, saya ingin menghimbau rekan-rekan Humas 3 sekalian untuk mempergunakan media dan teknologi yang ada dengan sebaik-baiknya. Janganlah kita diperbudak oleh media sehingga kita tidak dapat menemukan makna sesungguhnya dari interaksi itu sendiri. Gunakanlah waktu yang ada sebaik-baiknya dengan orang-orang yang secara nyata ada di sekitar kita karena mungkin kesempatan itu tidak selalu bisa kita gunakan..

Terima kasih atas perhatiannya. Tuhan memberkati

Thursday, August 30, 2012

Penghargaan

RENUNGAN Kamis, 30 Agustus 2012


Bacaan : Lukas 17:7-10

Nats: Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Lukas 17:10)

Cukup sering saya merasa gagal ketika menyelesaikan suatu tugas. Perasaan kecewa dan menyalahkan diri semakin kuat bila tugas yang saya kerjakan itu dilihat oleh banyak orang. Selidik punya selidik, perasaan gagal itu ternyata terkait dengan tanggapan orang lain. Ketika hasil kerja saya tampaknya kurang dihargai, saya merasa kecewa. Saya berharap pujian, tetapi justru kritiklah yang lebih banyak saya terima.

Keinginan mendapatkan penghargaan merupakan salah satu penghalang kita melayani Allah. Itu sebabnya Yesus mengingatkan murid-murid-Nya dengan mengutip tata krama seorang hamba terhadap tuannya sebagaimana kebiasaan pada zaman itu. Ketika melakukan tugas, kita bukanlah tuan yang berhak menerima pujian. Sebaliknya, kita adalah hamba. Bahkan, bukan hanya pujian yang tidak layak kita terima, sekadar ucapan terima kasih pun tidak boleh kita harapkan. Apakah dengan demikian Allah adalah Tuan yang kejam? Sama sekali tidak. Karena Yesus, Allah yang menjadi manusia itu memberikan teladan bagi kita. Yesus menggenapkan seluruh tugas yang dibebankan Allah, yaitu sampai mati di atas kayu salib dalam kehinaan tiada tara.

Apakah Anda merasa lesu melayani Tuhan? Anda bermaksud meninggalkan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan? Atau Anda tidak ingin melayani karena merasa pelayanan itu tidak ada gunanya? Bila keinginan itu muncul, cobalah selidiki, apakah hal itu terkait oleh tiadanya penghargaan atau pujian yang Anda terima. Lalu, pandanglah Kristus yang telah meninggalkan teladan dengan hidup sebagai hamba, sekalipun Dia adalah Tuan kita. --HEM

BERSYUKURLAH KEPADA KRISTUS YANG TELAH MELAYANI KITA.
BANGKITKAN KEMBALI SEMANGAT PELAYANAN DENGAN MENELADANI-NYA.

Lukas 17:7-10
7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

taken from milisIMAB

Wednesday, July 18, 2012

PANers goes to First Indonesian Camporee 2012


-- kalo bahasanya asa formal banget, maklum sebenernya ini laporan buat buletin gereja. Males nulis ulang. :)

Baliho di depan airport Tjilik Riwut yang ada foto KAMI! *bangga

Setelah melakukan pencarian dana sejak bulan Maret, Senin, 25 Juni kemarin 16 orang utusan dari Pathfinders dan Master Guides akhirnya berangkat dari Bandung menuju Jakarta dan terbang menuju Palangka Raya untuk mengikuti Pathfinder Camporee se-Indonesia yang diadakan di Bumi Perkemahan Nyaru Menteng, Palangka Raya. Rombongan berkumpul di Batununggal pukul 02.30 dini hari dan menaiki bis menuju Bandara. Keberangkatan dibagi menjadi 2 penerbangan, yaitu 11 orang terbang pukul 08.00 dan 5 orang lagi pukul 11.00. Asumsi awalnya, rombongan akan tiba pukul 5.30 atau paling tidak 06.00 sehingga dengan tenang bisa melakukan check in. Namun ternyata di luar dugaan, perjalanan Bandung-Jakarta sangat sangat macet. Kami sempat panik takut ketinggalan pesawat dan para orangtua yang tahu tentang keterlambatan ini sudah sibuk menelepon kami. Setelah berdoa dalam hati masing-masing, Puji Tuhan pihak Penerbangan mau menunggu. Pukul 7.45 kami baru menginjakkan kaki di Terminal B dan 11 orang tersebut dapat berangkat tepat waktu. Selanjutnya 5 orang sisanya menyusul dan pukul 14.00 kami sudah berkumpul di lokasi Perkemahan.

di depan tenda raksasa

Begitu sampai lokasi, kami dikejutkan dengan tenda yang sudah disiapkan untuk kami oleh bapak-bapak tentara yang diutus oleh salah satu anggota jemaat, yaitu Om Dedi Iswanto. (Terima kasih banyak, Om! Tendanya oke banget! Hehehe). Tendanya superbesarrr dan sudah siap dihuni. Dan kami masih punya waktu luang sampai besoknya baru diadakan upacara pembukaan.


setelah makan malam

sebelum angkat kaki ke Museum


selamat makan!
Ternyata peserta acara ini mencapai 3500 orang, dengan peserta terbanyak adalah dari Kontingen Papua yaitu leboh dari 700 orang. Kontingen Jawa Barat sendiri mengutus sebanyak 162 orang peserta. Hari pertama diisi dengan Parade dari semua kontingen, dihadiri oleh Wakil Gubernur Palangka Raya. Ada juga Drum Band dan tarian dari Papua.

Mojang jeung Jajaka Jabar



Hari kedua, diisi dengan mengikuti kelas kepahaman. Kedua kelompok dari jemaat Naripan mengikuti Pelayanan Masyarakat di mana kami mengunjungi Museum Budaya Kalimantan Tengah dan Bukit Doa Karmel. Malamnya (dan malam-malam berikutnya) diadakan Malam Ekspresi dan Malam Budaya yang menampilkan pertunjukan dari para peserta.


Danau Gaul

Hari ketiga, Kami mengikuti kelas kepahaman di Danau Gaul. Kepahaman tersebut di antaranya tentang Batu-batuan dan Pasir, Bantuan Hidup Dasar Advance, Sign Language, Morse, Radio, dan Penyelamatan Air. Hari keempat, kami diundang ke kantor Gubernur dan berpawai menuju Gereja Advent Palangka Raya. Sorenya, kami menyaksikan kebolehan dari beberapa kontingen dalam Fancy Drill, salah satunya adalah penampilan dari kontingen Jawa Barat. Dan sorenya, yang juga merupakan sesuatu yang unik dari Kampore kali ini, diadakan pemberkatan pernikahan dari pasangan Pembina dari Jawa Barat, yaitu MG. Randy Moal dan MG. Anita Theresia.

Fancy Drill Jabar

Hari kelima, yaitu hari Sabat, selain mengikuti kebaktian Sekolah Sabat dan Khotbah, juga diadakan baptisan kudus dan pelantikan kelas. Dan malamnya acara puncak yaitu Malam Budaya dan Penutupan. Malam itu, 4 orang dari utusan Naripan juga melakukan perjalanan pulang menuju Banjarmasin dan selanjutnya terbang menuju Jakarta. Sisanya, 12 orang menyusul keesokan harinya setelah semalam menginap di salah satu hotel di Palangka Raya.

Kami keenambelas untusan dari Jemaat Naripan sangat bersyukur bisa mengikuti acara ini dengan baik di mana acara ini juga semakin mendekatkan kami berenambelas. Kami sangat merasakan penyertaan Tuhan semenjak keberangkatan hingga kembali lagi ke Bandung dengan sukacita. Terima kasih untuk Jemaat Naripan yang sudah mendukung secara moril, materil, doa, tenaga, waktu dan semuanya. Semoga keberangkatan kami mengikuti acara ini tidak sia-sia, kami dapat melayani lebih lagi dengan apa yang kami dapat dari acara ini. Tuhan memberkati kita semua. PATHFINDER! Senyum aja.. :)

Wednesday, June 20, 2012

Dear No One



I like being independent
Not so much of an investment
No one to tell me what to do
I like being by myself
Don’t gotta entertain anybody else
No one to answer to

But sometimes, I just want somebody to hold
Someone to give me their jacket when its cold
Got that young love even when we’re old
Yeah sometimes, I want someone to grab my hand
Pick me up, pull me close, be my man
I will love you till the end

So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song

I don’t really like big crowds
I tend to shut people out
I like my space, yeah
But I’d love to have a soul mate
God will give him to me someday
& I know it’ll be worth the wait

So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song

But sometimes, I just want somebody to hold
Someone to give me their jacket when its cold
Got that young love even when we’re old
Yeah sometimes, I want someone to grab my hand
Pick me up, pull me close, be my man
I will love you till the end

So if you’re out there I swear to be good to you
But I’m done lookin’, for my future someone
Cause when the time is right
You’ll be here, but for now
Dear no one, this is your love song

Tori Kelly - Dear No One


fortunately, true. :|

Wednesday, June 6, 2012

Call me lame, whatever



Beberapa bulan lalu aku nonton bareng the Raid sama beberapa teman. Film ini cukup bikin penasaran, soalnya sering banget diomongin bahkan waktu film ini masih direncanakan. Salah satu alasan lagi kenapa aku penasaran sama film ini adalah, Mike Shinoda, yes Mike Shinona-nya Linkin Park ikutan kontribusi ngerjain film ini. Penasaran, banget. Maka jadilah kami berenam janjian nonton di Ciwalk.

Waktu nonton, di awal film udah langsung ada scene sekelompok polisi yang sedang bersiap mau menggerebek sebuah lokasi yang katanya sarang mafia or bandar narkoba or whatever. I don't really care. Dan mulailah aku gak tenang nonton film ini.

Pertama, aku memang gak suka sama film bergenre thriller, bunuh-bunuhan, kekerasan fisik dan semacamnya. Dan pas udah di dalam bioskop aku baru tau ini film semacam itu. Di awal udah langsung ada scene pukul-pukulan dan seterusnya, dan seterusnya aku cuma bisa tutup mata. Gak kuat. Beneran. Dan aku langsung menyesal nonton film ini.

Sepanjang film aku cuma bisa tutup mata dan menarik napas. Ada satu scene di mana Mad dog berantem sama Sersan Jaka dan Rama, scene berantemnya lama banget, dan menyakitkan banget. Puku-pukulan pake entahlah apa aja saking banyaknya dan yang aku inget, kapak. Astaga. Film macam apa sih ini? Lagi-lagi aku tutup mata. Scene berantem masih berlangsung dan setelah beberapa lama, sepertinya akhirnya ada yang kalah dan mati. Seisi bioskop tepuk tangan. Aku bengong.

Apa yang membahagiakan dari sebuah pertempuran? Seisi bioskop tepuk tangan. Aku semakin gak tenang. Salah banget aku nonton film ini. Sampe keluar bioskop aku masih mengkerutkan kening. Sepertinya aku satu-satunya yang gak menikmati film tadi.

Well, waktu aku mengutarakan pendapatku, aku merasa aneh sendiri. Pasti orang-orang ini berpikir aku kuno banget. Basi banget sih film doang dibawa serius. Kan berantemnya bohong-bohongan. Nonton aja sih buat hiburan doang.

Tapi aku gak merasa terhibur. Hiburan macam apa melihat kekerasan kayak gitu. Aku sedih film macam ini film buatan Indonesia. Walaupun sutradaranya memang bukan orang Indonesia, tapi pemain-pemainnya orang Indonesia. Settingnya negara Indonesia. Dan film ini banyak dielu-elukan di luar negeri dan dibanggakan karena dianggap sebagai film yang paling berhasil di tingkat dunia.

Entah terlalu berlebihan entah gimana, aku takut kalau semakin banyak orang nonton film semacam ini. Sekarang aja tingkat kriminalitas udah tinggi, kemana-mana udah gak aman, ditambahin lagi tontonan kekerasan semacam ini. Mau jadi apa mental orang Indonesia? Memang benar, penonton gak sebodoh itu meniru apa  yang mereka tonton, tapi kan efeknya sedikit banyak pasti ada. Mungkin gak meniru secara langsung membunuh pake kapak dan pedang, tapi kekerasan itu bisa diadaptasi dengan mukul kecil-kecilan. Melakukan kekerasan kecil akan dianggap lazim. Terbiasa menyelesaikan segala sesuatunya dengan kekerasanengan membalas dendam, balas dendam.

Aku memang bukan siapa-siapa sampe sok-sokan membahas moral segala. Moralku juga gak sempurna. Aku hanya menyampaikan keprihatinanku akan keadaan yang aku lihat dan berharap toleransi, sikap memaafkan, kelemahlembutan dan lain-lainnya itu bukan hanya jadi teori pelajaran Pkn, atau menjadi ayat hapalan atau quotation sebagai bahan tweet belaka.

Thank You


Happy birthday to me. Happy? Sure I am. I'm a happy girl with lovely ones around me. It was 2nd of June 2012. Woke up with nothing's new but my age, twenty something. It was Sabbath day and IMAB will have a service at Naripan. Thank God it all went well and everyone looked happy.

Nothing can be said but thank you. Thank God I was and remain blessed abundantly. Thank you for the outstretched hand on my every fall. Fallout that often I made ​​with my own selfishness. Shutted my ears to hear the warning, closed my eyes to see Your signs. Thank you Lord, for another open door when I've gone too far astray.

Thank you, thank you. Nothing but thank you.

Friday, June 1, 2012

Saturday, April 21, 2012

just a reminder

2nd of June is about to come. Me, wants these stuff! :3







oke, semakin tidak masuk akal. Tapi namanya juga ngarep, yah. :3 :3 AMIN!

time passes

Lessons learned. Keep on learning..

Thursday, March 1, 2012

This is HOLIDAY!

(lagi-lagi postingan tertunda. Harusnya diposting sejak Februari. ;p)

Tuhan membuatnya semua indah pada waktunya. Yak, aku percaya itu, terlebih selama liburan ini. Ini dimulai waktu kira-kira 1,5 tahun yang lalu, abang nemu tiket murah ke Medan. Dia langsung mengabari papa dan mama, mau gak pulang bulan Februari tahun depan? Sure, karena mampap tidak terikat pada pekerjaan, mereka mengiyakan. Dan begitu aku bilang aku pengen ikut, abang juga booking 1 tiket buatku, tapi di hari yang berbeda.

Awalnya, kami sama sekali tidak merencanakan pulang kampong rame-rame ini. Ditambah lagi dengan sepupuku, Sindy yang masih galau dengan skripsinya, belum tau kapan selesai, apalagi kapan wisuda. Dan tentu dia ga akan bisa pulang kampung dengan tenang sebelum semua beban perkuliahannya kelar.

Di balik kegalauan keluarga kami ini, secercah harapan datang. Mendekati bulan keberangkatan, ternyata sepupuku itu bilang dia bisa segera sidang dan bahkan wisuda 3 hari sebelum berangkat ke kampung! Bertepatan juga, waktu keberangkatan yang ditentukan, ternyata aku sedang libur kuliah! Pas juga sama waktu cuti abang, bang Chris kelar kuliah, opung sekalian dianter pulang, Ita resign dari tempat lama dan transisi ke tempat kerja yang baru, dan banyak kebetulan lainnya. Saya ralat, buka kebetulan, rencana indah. Semuanya serba pas! Jadilah kemarin kami mudik beramai-ramai. J













Dimulai dengan tanggal 11 Februari abang datang bersama sang pacar. Malam Minggunya kami merayakan ulang tahun pernikahan bapauda dan mamauda dengan makan bersama di Bumbu Dapur. Fun, yes it is. Abangku dan para sepupu bawa pacar mereka masing-masing. K Skip this part!
Tibalah saat keberangkatan, mampap berangkat duluan tanggal 12 Februari. Disusul Abang, Opung, Uda, Mamauda, Ita, Chris, Sindy, Mamauda Erik, 2 hari kemudian. Mereka menginap di Lubuk Pakam sambil menunggu aku menyusul besoknya.

Selasa malam, setelah seru-seruan merayakan Valentine bersama IMAbers dan sampai di rumah jam setengah 11, aku bur-buru packing. Puji Tuhan kebangun besoknya buat berangkat ke bandara bersama kak Juins. Bawa 2 tas supergede, cukup dapat respon sinis dari pramugari. And for your information, this is my first flight! Sempet deg-degan, takut ada prosedur yang terlewat. Check in, dan akhirnya berangkat!!
Penerbangan pertama, mana mungkin aku sia-siakan 2 jam ini dengan tidur? Aku puas-puasin diri melihat pemandangan di atas awan. Cantik! Nyobain toilet pesawat yang kalau bukan aku yang salah, toiletnya tidak ada flash? Jadi pakai tisu doang? Geeezz..

Dan sampailah saya di Bandara Polonia! Hmm.. Aaah.. Ini toh bau Medan. Pertama kalinya secara sadar ke kota ini. Dijemput travel, dengan mobil yang sebenarnya ber-AC, tapi tidak dinyalakan gara-gara pak supirnya mau merokok. Hih.

Kesan pertama, Medan itu panas dan gersang! Salah banget lah pakai kaos hitam ditambah dengan jaket. Fuh! Sampai di Lubuk Pakam, kami berangkat ke Samosir. Perjalanan 8 jam, dengan pemandangan yang menakjubkan. Baru sadar, ternyata Samosir itu indah. Perjalanan keliling gunung yang bikin pusing, terbayarkan dengan pemandangan Danau Toba nan rancak bana.

Di perjalanan masuk ke tempat opung, sempat terjadi kejadian horror. Pemandangan yang sudah gelap karena memang sudah jam 7 malam, kami naik jembatan yang ternyata hanya terdiri dari tumpukan kayu seadanya, dan supirnya salah menambil posisi sampai akhirnya mobil kami HAMPIR MASUK SUNGAI! Horor, yes it is. Deg-degan, dengan mobil yang sudah miring, kami turun pelan-pelan satu per satu. Puji Tuhan setelah meminta bantuan ke rumah opung yang sudah tidak jauh dari sana, mobilnya beserta penumpang selamat sentausa. J

Sampai di rumah, ternyata di sana sudah ramai dengan keluarga-keluarga yang berdatangan menyambut kami. Ahey, berasa tamu kebesaran. Anak-anaknya rame benerrrrrr. Bagaimana ngga, Uda Devi saja sudah menyumbang 9 orang keramaian di sana. Yap, beliau punya 9 anak yang masih kecil-kecil. Amazing!
Di rumah yang tidak terlalu besar itulah kami berkumpul, setelah belasan tahun gak ketemu. Keluarga Besar Simbolon, dengan keadaan sehat walafiat. Tidur pindang, bukan masalah!

(to be continued)
(udah tertunda, masih aja pending. HAHAHAHA)