Tuesday, August 2, 2011

the Man Who Can't Be Moved (part 2)

If I ain't got you with me babyNothing in this whole wide world don't mean a thing
Alicia Keys – If I Ain’t Got You
Aku menoleh, dengan senyuman jahilnya yang khas dia menatapku. Setelan olah raga itu, badan bidang itu, dan bau itu kembali membuatku kembali ke beberapa tahun yang lalu. Aku merasa tidak menjejak di tanah.

“Om Ardiii…” gadis cilik itu menghambur ke pangkuan omnya.

“Heh. Malah ngelamun lagi. Masuk yok. Skalian masakin gue, laper nih.” Dia berkata dengan santai dan melewatiku masuk ke rumah. Aku masih terdiam di depan pintu dengan entah mimik seperti apa.

“Ayo aunty!!” Tabitha menarik tanganku dan tanpa perlawanan aku melangkah ke dalam. Ini salah. Tidak seharusnya aku berada disini.

Beberapa menit berdiam di ruang tamu, akhirnya Ardi muncul. Dia sudah berganti baju.

“Lah Gin, kok lo masih bengong aje. Masakin sesuatu dong buat gue. Gue kangen masakan keasinan lo. Hahaha..”

Aku tidak tertawa. Sebelum dia melanjutkan kalimatnya, aku memotong, “Di.. Ardi.. Gue gak bisa lama-lama. Gue.. gue Cuma mau nganter ini.” aku menyodorkan undangan yang sejak tadi ada di tanganku, tanpa sadar sudah sedikit terlipat. “Maaf, rada kelipet tadi ga sengaja.”






“Daritadi gue liat, lo tegang banget. Apaan sih emangnya?” dia menerima undangan itu. Dia terdiam. “Lo mau merit??”

Aku mencoba menjawabnya dengan senyum.

But I can't spell it out for you,No it's never gonna be that simpleNo I cant spell it out for you
Colbie Caillat - Realize


“Parah loooo! Setaonan kagak nongol, tau-tau udah mau merit aja. Mana ague kagak pernah dikenalin, lagi. Paraaaaah!”

“Hehe. Iya, maap. Hmm.. gue buru-buru, Ar. Gue cabut ya.. Salam buat Tabitha”, aku bersiap memutar kenop pintu.

“Gue ga akan datang.” Tiba-tiba dia berkata setengah berteriak.

“Ha?” Aku tidak benar-benar bertanya. Aku mendengarnya, jelas sekali.

“Gue gak akan datang” dia mengulangi. “Maksud gue, kayanya gue gak bisa datang.”

“Oh, Gak apa-apa. Ga usah dipaksain kalo gak bisa. Gue ngerti.” Aku membuka pintu dan keluar. Menghilang. Yang kuinginkan saat itu adalah menghilang sejauh mungkin dari tatapannya. Tempat itu dan tatapan itu terlalu menyakitkan buatku. Aku bahkan tak dapat bernapas dan berkata-kata secara normal disana. Ada sihir yang menahan lidahku.

Dia tidak akan datang. Memang lebih baik seperti itu. Dia pikir mudah untukku melihatnya di pernikahanku dengan orang lain? Itu bisa membunuhku, andai dia tau.



I thought that you'd be here by now 
Theres nothing but the rain 
No footsteps on the ground 
I'm listening but theres no sound
I’m With You – Avril Lavigne



No comments: