Wednesday, August 24, 2011

Berkhayal Itu Indah

Aku punya sahabat cewek. Kami kenal sejak SMP dan bersahabat sampai sekarang. Sahabat? Iya, entah apa definisi sahabat menurut kamu. Menurutku, dia sahabat. Dia ga sebegitu taunya tentang kehidupanku sekarang karena kami emang udah ga kontek2an sesering dulu. Dia memang tidak selalu ada waktu aku butuhkan. Tapi menurutku, dia sahabat.

Dia punya ayah seorang konsultan hak cipta. Sebenarnya dari dulu ampe sekarang aku gak begitu ngeh pekerjaan macam apa itu. Terutama waktu SMP, dia cerita tentang kerjaan ayahnya. Aku Cuma ngangguk, dan bilang “Oooh..” respon klise orang kalo dikasih tau sesuatu, males nanya lebih dalam karena pasti ga akan ngerti-ngerti juga. Yang pasti ada kata ‘hak cipta’nya. Aku tau sedikit tentang hak cipta. Hak yang dipunyai seseorang yang sudah menciptakan sesuatu. As simple as that, I thought. Ada pertanyaan-pertanyaan kecil yang ada di pikiranku waktu itu. Gimana orang tau kalo penemuannya belum pernah ditemukan sebelumnya? Dicatet dimana hak cipta itu? Gimana cara punya hak cipta? Gimana kalo ada yang mirip tapi itu murni kebetulan? Dan lain-lain, dan lain-lain.

Sempet aku utarakan ke dia, dan aku lupa dia jawab apa. Maklum, memori saya lemah and it’s been 10 years ago, man! (alaah, alesan doang.)

Dari situ tercetuslah satu ide dodol-sok-pinter dari aku. “K, gimana kalo kita bikin penemuan baru. Kan papa kamu konsultannya, jadi gampang kan dapat hak-nya. Abis itu, kita dapet duit deh. Hahaha.”
“Ayook.. tapi apa ya idenya?”
“Yaudah, cari-cari aja dulu, tar kalo dapet saling kasih tau aja.”
“Oke, oke”

Entah kenapa, aku terlalu serius mengenai hak cipta ini, dan besoknya aku udah punya ide penemuan macam apa yang akan kami usulkan.

“K, aku udah nemu temuannya!” kataku bersemangat pagi itu di sekolah.
“Oh ya? Apaa? Apaa?” dia terdengar sama bersemangatnya. Aku semakin bersemangat. Dia lebih bersemangat lagi, aku ga mau kalah semangat, begitulah seterusnya, the end.

Plak!

“Gini. Aku mau bikin air di dalam lilin. Belom pernah ada kan?”
“Air di dalam lilin? Gimana caranya?”
Si K ini termasuk anak paling pinter di kelasku yang isinya Cuma 15 ekor itu. Dia ranking 1 dari SD tanpa ada yang ngalahin sampe aku dateng dan menggantikan posisinya. *ketawa bangga*

Tau si K yang pinter aja ga kepikiran gimana caranya air bisa masuk ke dalem lilin, kepercayaan diriku langsung membuncah. Angin melambai-lambaikan rambutku. Halah.

“Gini, kan lilin bisa dilelehin tuh, nah pas setengah beku, kita masukin es batu ke dalemnya, trus kita tutup pake lilin lagi. Pas lilinnya udah beku, esnya pasti belum sepenuhnya jadi air. Jadi deh air di dalam lilin.”

Hening seketika. Aku udah waswas kalo ideku beneran tolol karena gak memperkirakan unsur fisika, kimia dan tetek bengeknya. Tiba-tiba..

“Ih, bagus idenya tuh! Hebat, hebat..” dia menepuk pundakku. Disitulah saat-saat hidungku melayang tertinggi. Rasanya jadi Einstein seketika. Dan.. keesokan harinya.. sampai sekarang, kami berdua ga pernah lagi ngomongin tentang penemuan-super-jenius itu. #antiklimaks. HAHAHA. Indahnya masa SMP.

Mungkin kalo sekarang dipikir-pikir, itu penemuan yang bodoh. Mungkin bikin air di dalem lilin ga sesimpel itu. Atau memang sesimpel itu dan sudah ada yang menemukan itu berates-ratus tahun sebelumnya. Who cares.

Aku dan teman-teman juga pernah berangan-angan, akan sekolah bareng di USA. Kami berempat, yang 2 orang beda satu tahu sama yang 2 orang lainnya. Kami bahkan sudah punya rencana, D dan C akan nunggu setahun sampe aku dan K lulus, baru kita sama-sama ke USA, sekolah bareng, menikah dengan pria disana, punya anak, dan kami akan saling menikahkan anak kami.

Silly? Menurutku sih tidak. Aku merasakan nikmatnya jadi anak ingusan (not literally, of course) yang berkhayal setinggi-tingginya, berangan-angan bisa merubah dunia berdua, dan menikmatinya. Ketawa bareng tentang kebodohan-kebodohan di masa lalu. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari menertawakan diri sendiri. Lain ceritanya kalo yang menertawakan diri kita adalah orang lain. Itu sih pengen nonjok rasanya.

Andai aku punya mesin waktu, aku ingin kembali ke masa SMP, ke masa itu. Masa dimana aku dan teman-teman berkhayal dan merancang masa depan, dimana saat itu semua sama sekali tidak bodoh dan terasa sangat realistis. Indah, bukan?





Bocah itu


Aku ingin seperti bocah
Bertengkar lalu berbaikan tidak lama setelahnya
Bermain lagi seolah tidak pernah terjadi apa-apa

Aku ingin seperti bocah
Bertanya apa saja yang ingin ku tahu
Tanpa “Masa itu aja ga tau?”

Aku ingin seperti bocah
Bahagia sesederhana dapat es krim dari mama

Aku ingin seperti bocah
Mencintai dengan setulusnya
Menjalani hari apa adanya
Tak ada khawatir akan hari esok

Aku ingin seperti bocah
Tersipu kala disanjung
Tertawa lepas kala bahagia
Menangis kala terluka

Aku ingin seperti bocah
Bercerita apa saja dari bibir kecilku
Seolah seluruh dunia tertarik dengan ceritaku
Hanya mengoceh mengoceh mengoceh      

Lakukan apa saja dan dunia akan berkata
“Namanya juga anak-anak..”

Kenapa anak kelinci suka lompat-lompat?
Namanya juga anak-anak..


Tuesday, August 2, 2011

the Man Who Can't Be Moved (part 2)

If I ain't got you with me babyNothing in this whole wide world don't mean a thing
Alicia Keys – If I Ain’t Got You
Aku menoleh, dengan senyuman jahilnya yang khas dia menatapku. Setelan olah raga itu, badan bidang itu, dan bau itu kembali membuatku kembali ke beberapa tahun yang lalu. Aku merasa tidak menjejak di tanah.

“Om Ardiii…” gadis cilik itu menghambur ke pangkuan omnya.

“Heh. Malah ngelamun lagi. Masuk yok. Skalian masakin gue, laper nih.” Dia berkata dengan santai dan melewatiku masuk ke rumah. Aku masih terdiam di depan pintu dengan entah mimik seperti apa.

“Ayo aunty!!” Tabitha menarik tanganku dan tanpa perlawanan aku melangkah ke dalam. Ini salah. Tidak seharusnya aku berada disini.

Beberapa menit berdiam di ruang tamu, akhirnya Ardi muncul. Dia sudah berganti baju.

“Lah Gin, kok lo masih bengong aje. Masakin sesuatu dong buat gue. Gue kangen masakan keasinan lo. Hahaha..”

Aku tidak tertawa. Sebelum dia melanjutkan kalimatnya, aku memotong, “Di.. Ardi.. Gue gak bisa lama-lama. Gue.. gue Cuma mau nganter ini.” aku menyodorkan undangan yang sejak tadi ada di tanganku, tanpa sadar sudah sedikit terlipat. “Maaf, rada kelipet tadi ga sengaja.”






“Daritadi gue liat, lo tegang banget. Apaan sih emangnya?” dia menerima undangan itu. Dia terdiam. “Lo mau merit??”

Aku mencoba menjawabnya dengan senyum.

But I can't spell it out for you,No it's never gonna be that simpleNo I cant spell it out for you
Colbie Caillat - Realize


“Parah loooo! Setaonan kagak nongol, tau-tau udah mau merit aja. Mana ague kagak pernah dikenalin, lagi. Paraaaaah!”

“Hehe. Iya, maap. Hmm.. gue buru-buru, Ar. Gue cabut ya.. Salam buat Tabitha”, aku bersiap memutar kenop pintu.

“Gue ga akan datang.” Tiba-tiba dia berkata setengah berteriak.

“Ha?” Aku tidak benar-benar bertanya. Aku mendengarnya, jelas sekali.

“Gue gak akan datang” dia mengulangi. “Maksud gue, kayanya gue gak bisa datang.”

“Oh, Gak apa-apa. Ga usah dipaksain kalo gak bisa. Gue ngerti.” Aku membuka pintu dan keluar. Menghilang. Yang kuinginkan saat itu adalah menghilang sejauh mungkin dari tatapannya. Tempat itu dan tatapan itu terlalu menyakitkan buatku. Aku bahkan tak dapat bernapas dan berkata-kata secara normal disana. Ada sihir yang menahan lidahku.

Dia tidak akan datang. Memang lebih baik seperti itu. Dia pikir mudah untukku melihatnya di pernikahanku dengan orang lain? Itu bisa membunuhku, andai dia tau.



I thought that you'd be here by now 
Theres nothing but the rain 
No footsteps on the ground 
I'm listening but theres no sound
I’m With You – Avril Lavigne