Monday, July 18, 2011

the man who can't be moved (part 1)

Dia… alasan pertama atas setiap detak jantungku
yang berdetak diatas detak normalnya.
Dia… Bahagia pertamaku.

someday,
someone's gonna love me
The way, i want you to need me

Someday,
someone's gonna take your place
One day i'll forget about you
You'll see, i won't even miss you
Someday, someday
                                                Nina - Someday

Sudah setengah jam lebih aku duduk disini. Satu tangan diatas kemudi mobil, menahan kepalaku yang tertunduk menatap tangan satunya lagi yang sedang menggenggam sebuah surat undangan pernikahan. Disitu, namaku terukir indah dengan tinta emas dan font Mistral –sesuai permintaanku-, bersanding dengan satu nama, Satria Kusumaatmadja. Nama yang selalu membangkitkan rasa bersalahku yang paling dalam. Pria itu yang akan menambahkan nama belakangnya pada namaku dalam waktu kurang dari 30hari lagi. Satu helaan napas panjang.

Semestinya sudah sejak 30 menit lalu aku pergi dari sini, mengantarkan undangan itu kepada nama yang tertulis di kotak tujuannya, dan menyusul Satria ke tempat janjian kami. Tapi nyatanya,  aku masih terlalu ciut untuk mengantarkan sendiri undangan itu. Sekarang aku berpindah menatap gang itu. Tidak, aku tidak bisa disini terus. Aku hanya tinggal membuka mobil, keluar dan berjalan ke gang itu, menemukan rumahnya, berikan undangannya, dan pulang. Mudah. Seharusnya mudah.

Akhirnya tanganku menyentuh pintu mobil dan membukanya. Entah kenapa semuanya terasa berat. Beep. Klik. Aku melangkah dengan berat ke gang itu. Belum pernah sebelumnya melangkah demikian berat melalui jalan ini. Jalan yang sudah tidak asing lagi buatku. Sudah setahun lebih aku tidak kesini. Tidak banyak perubahan disini. Semua hampir sama seperti terakhir kali aku kesini, kecuali suasana hatiku.

Itu dia. Rumahnya. aku mendorong pagarnya dan mengetuk pintu.

“Permisi..”

Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdegup cepat. Tenaang.. Lakukan ini dengan cepat dan semuanya akan selesai. Aku menenangkan diriku sendiri.
Aku sudah mengetuk berkali-kali tapi tidak ada tanda-tanda ada orang di rumah. Aku menunggu selama beberapa menit, nihil.
Apa aku pulang dan mengirimkan lewat pos saja? Itu akan lebih mudah sepertinya. Tapi tiba-tiba bunyi suara kunci  diputar. Jantungku berdetak lebih kencang hingga aku rasa jantungku bisa melompat sewaktu-waktu. Pintu terbuka. Sesosok anak berumur 8tahun berdiri di hadapanku.

“Eh, Aunty Ginaaa!!”
“Eh, Tabithaa! Halooo..” aku memeluk anak itu. “Apa kabar Ginaaa? Aunty kangeennn..” aku mencubit pipinya.
“Aunty kok gak pernah main kesini lagi? Kemaren aku ulang tahun loh, aunty ga dateng..” dia bicara sambil memeluk tanganku.
“Iya, maaf. Aunty sekarang di Jakarta, jadi ga bisa dateng. Selamat ulang tahun ya Tabita cantiiiik.. Sini aunty cium dulu! Muah.”

Aku teringat lagi tujuan utamaku kesana.

“Tabita, Uncle Ardinya ada?” tanyaku kemudian.

“Unclenya pergi, aunty. Perginya tadi pagi, tapi ga tau kemana,” jawabnya manja.

“Oh, trus ada siapa lagi di rumah?”

“Aku sendiri.  Oma baru pergi ke rumah Tante Dara, mau kasih titipan katanya. Oma bilang sih uncle  sebentar lagi pulang. Tunggu aja, geura,” ujarnya dengan logat sunda khas.

“Oh gitu. Ngga usah deh. Aunty lagi buru-buru soalnya, sayang. Aunty titip aja ya ini buat uncle sama Oma. Bilangin aja aunty tadi kesini, okeh? Maaf yaaa..” aku berkata sambil membelai rambutnya.

“Ah aunty ga asik. Masa langsung pergi sih? Aku punya NDS baru, aunty! Main yuk!” dia protes manja.

“Iya. Buru-buru amat sih. Sombong yee sekarang.” 
Ada yang berkata dari belakangku. Suara yang sangat kukenal. Jantungku kembali berdetak kencang.


So won't you kill me, so I die happy
My heart is yours to fill or burst
                        Dashboard Confessional – Hands Down




No comments: