Friday, June 17, 2011

DIA




Kamu tampan sekali hari ini. Kemeja itu, dasi itu. Ah tidak, tidak.. kamu memang selalu tampan. Kemarin juga kamu tampan dengan kaos hijau dan celana basketmu. Kamu memang selalu tampan. Pakai apapun. 

Parfummu tercium olehku. Hmm.. Wangi yang sangat kuhapal lebih dari apapun. Wangi yang sepertinya aku dapat menciumnya meskipun itu tidak nyata tercium oleh hidungku. Ingatanku tentangmu bahkan dapat membuat semuanya terasa nyata.

“Gimana penampilan gue?” kamu akhirnya meminta pendapatku.

“Keren. Ganteng.” Banget, malah! Lanjutku dalam hati.

“Doh, jadi malu gw,” katamu dengan gaya sok cool yang kau buat-buat. Dan kitapun tertawa bersama-sama.

“Gimana, bunganya bagus ga? Pilihan gw tuuh.. hehe”

“Bagus. Cantik,” entah kenapa hari ini aku sangat irit dalam berbicara. Aku lebih banyak tersenyum.

“Bagus deh. Semoga dia juga suka. Doain gw ya, Nat. Thanks banget udah mau jadi penasehat gw. Kalo gw diterima, lo orang pertama yang bakal gw kasih tau. Dan gw pasti traktir lo makan dimana aja lo mau. Thank you soooo much!” kamu tiba-tiba memelukku. Tanpa siap aku sudah dalam dekapanmu. Wangimu semakin tercium. Tidak. Jantungku berdetak semakin kencang. Jangan sampai kau menyadarinya. Buru-buru aku melepas pelukanmu.

“Heh. Tuh baju lo kusut ntar. Gimana siiih.. Enak aja peluk-peluk orang sembarangan. Bayar!” aku mepraktekkan gaya jutekku.

“Haha. Dasar lo tuh yee. Wanita bayaran!” kau berkata sambil mengacak rambutku. “Udah jam 7 nih, gue pergi dulu ya. DOAIN GUE! Daah Nataa!”

Aku melambai, memperhatikanmu menyalakan motor merah kesayanganmu itu sampai sosokmu mulai hilang dari pandanganku. Aku pasti mendoakanmu. Aku merasa terlalu bodoh untuk tidak menginginkanmu bahagia. Walaupun itu membuatku sakit.

No comments: