Sunday, May 1, 2011

dia tidak sadar ada cinta di depannya

"Ninot!!" aah.. kau memanggilku. Sebenarnya aku sudah menduganya. Aku tau. Tapi, aku tidak tau harus bereaksi seperti apa dan disinilah aku sekarang, dengan respon linglung, tanda salah tingkah.

Ninot, itu panggilanmu untukku. Namaku, Anindya Serenity Soetami, katamu terlalu feminist untukku yang casing doang cewek.

Kita sudah kenal lama. Lamaa sekali. Cukup lama untuk tau kau benci dan bahkan takut dengan bunyi petir. Dan aku tau kau takut petir bukan karena punya pengalaman tidak mengenakkan tentang petir. Setidaknya begitu seingatmu. "Ga tau kenapa, gw takut aja", katamu waktu itu.

Aku masih disini untuk beberapa detik yang aneh hingga akhirnya memutuskan untuk berbalik ke arah suaramu memanggilku tadi dan berpura-pura kaget. Dan aku yakin kau pasti sadar aku berpura-pura. Aku memang tidak pandai berpura-pura kalau berhadapan denganmu.

"Ah sombong banget cuk gak nyapa-nyapa!", protesmu setelah akhirnya aku menghampiri tempatmu berdiri.

"Sori sori tadi gak denger. Lagian lagi riweuh ini ngurusin partisipan acara", ah aku menemukan alasan dan aku tau alasannya terlalu lemah.

"Gayaa yang seksi sibuk mah.."

"he he", entah kenapa tiba-tiba perbendaharaan kata-kata di kepalaku seolah-olah habis direset dan tak bersisa.

"Ntar gw duduk di depan ya. Kalo lo dah ga sibuk, biar kita bisa duduk bareng sambil ngobrol-ngobrol. Kan udah lama ga ketemu, cuy.." katamu sambil meninju lenganku pelan.

"Sipp.. kesana dulu ya, nyari orang dulu", tanpa menunggu responmu aku berbalik dan melesat menghilang ke bumi. Oh tidak, itu hanya khayalanku saat itu, melesat menghilang dari hadapanmu. Bukan karena aku tak mau bertemu denganmu, bukan. Malah saking besarnya kangenku padamu saat itu dan saat bertemu aku tidak tau harus bagaimana dan mungkin menghilang dari bumi bisa jadi ide terbaik saat itu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya itu bukan ide yang bagus.

Aku benci jadi seperti ini. Aku benci menjadi orang yang tak siap dengan kehadiranmu yang semestapun tau itu yang paling kuingini beberapa bulan sejak kita bertemu terakhir kali. Aku benci menjadi orang yang merasa asing denganmu padahal seperti yang kubilang tadi, aku sudah mengenalmu dalam waktu yang cukup lama.

Aku sudah tidak punya alasan menghindar lagi. Semua tugasku sudah selesai dan seharusnya aku sudah bisa duduk dan menikmati acara.
 Memandang ke ratusan tempat duduk yang berbaris, aku tidak memerlukan banyak waktu untuk dapat menangkap sosokmu yang duduk di bangku kedua, asik menikmati apa yang ditampilkan di latar. Musik memang selalu menarik perhatianmu.

"Heh not! Udah ga sibuk lagi, miss.superbusy?" godamu begitu menyadari sosokku yang tiba-tiba ada di sebelahmu.

"Udah. Tadi udah ada yang handle. Fiuh.. akhirnya bisa napas juga", jawabku tanpa menoleh padamu.


"Gaya laah yang sibuk. Heh apa kabar lo? Udah lama ya gak ketemu? Makin cewek aja lo sekarang? Udah tobat? Haha", sindirmu.

"Sial. Saya anggap itu pujian ya", balasku, pura-pura protes.

"Iya lah pujian. Negatif mulu nih pikirannya!", kau menunjuk pelipisku gemas.

"Asiik. Iya lah berubah biar jodoh gak lari. Haha." aku menyenggolmu.

Berlanjut dengan pertanyaan basa-basimu tentang kuliahku, kesibukanku dan sampai ke.. pacar.

"Sama siapa sekarang?", tanyamu.

"Sama kamu lah. Dan sama ratusan orang yang lagi dengerin angklung ensamble", jawabku cuek. Oke, pura-pura cuek. "Kau tuh sama siapa sekarang? Denger-denger udah deket sama yang lain lagi nih. Ckckck.. Laku bet daaah.." aku balas bertanya. Aku senang perhatianmu mulai beralih dari performance di latar. Aku menang darimu, musik! Haha. Aku tertawa puas dalam hati.

"Hehe. Iya nih not. Gw lagi bingung. ..." dan kau mulai menceritakan beberapa wanita yang kau rasa sedang mendekatimu, beberapa wanita lagi yang menarik perhatianmu, juga tentang mantan-mantanmu yang masih 'meneror'mu.

Aku mengenalmu, seorang Ariant Pramana yang ganteng, jago main gitar, ramah dan punya segudang trik pencair suasana yang membuat orang-orang di dekatmu betah. Tentu termasuk aku. Arya yang pertama kukenal cupu, sering diremehkan karena prestasi akademikmu yang tidak secemerlang teman-teman priamu yang lain, yang tergila-gila dengan basket tapi sering dijadikan bahan ledekan teman sekelas gara-gara badanmu yang pendek dan akhirnya dipanggil Abon, Arya Boncel.

Kamu yang sekarang, berubah drastis. Tapi masih dengan sikapmu yang sama terhadapku. Itu mungkin yang membuatku akhirnya ... menyukaimu bukan sebagai seorang sahabat.

Kau masih asik menceritakan tentang wanita-wanita tadi, dan sekarang kau sedang menceritakan teman seangkatanmu yang sepertinya punya perasaan padamu. Kau memaparkan dengan detail apa saja sms-sms dari wanita itu, apa saja sikap-sikap 'aneh' yang ditunjukkannya, telingaku mendengarkan dengan dengan sangat baik, kecuali mimik mukaku. Mimik seperti apa yang kau pikir akan ditunjukkan seseorang yang jatuh cinta dengan lawan bicaranya sementara dia sedang membicarakan wanita (-wanita) lain? Mendengarkan dengan seksama sementara otak dan hatimu, cemburu.

Aku ingin menghilang saat itu juga andai aku bisa. Dan aku pikir ini memang ide terbaik, setidaknya sampai saat ini. Kau bertanya bagaimana pendapatku. Kalau saja kau punya kelebihan membaca suara hatiku waktu itu, aku sedang berteriak "GAK. DARI MEREKA SEMUA GA ADA YANG COCOK SAMA KAMU. CEWEK YANG ITU, AH GA NYAMBUNG SAMA KAMU. YANG SATU LAGI, IH AMIT-AMIT DEH KAMU SAMA DIA. YANG SATU LAGI, PLIS DEH TUA BANGETTT!". Untungnya kau tidak mendengarnya.

Acara selesai. Ah aku puas bisa menarik perhatianmu dari musik bahkan sampai tanpa kita berdua sadari acaranya selesai. Dan aku senang acaranya selesai sehingga aku bisa menyudahi tampang bodohku efek dari berpura-pura antusias  mendengar ceritamu dan cemburu sekaligus.

Orang-orang sudah mulai bubar, keluar dari ruangan itu dan kita ... kau masih melanjutkan ceritamu. Sekarang kita jadi duduk berhadap-hadapan. Aku bisa melihat wajahmu dengan jelas. Betapa sulitnya mengendalikan ekspresi wajahku untuk berpura-pura dengan wajahmu yang hanya 25cm di depan mukaku?? Ujian Algoritma mungkin lebih mudah dibanding situasi seperti ini! Dan kau membuat Algoritma jauuuh lebih mudah dengan bertanya pendapatku tentang ceritamu.

Aah.. entah seperti apa mukaku sekarang. Dari antusiasmu terus bercerita, sepertinya kau tidak menyadari keanehan ini. Benarkah kau tidak menyadarinya? Atau kau sedang pura-pura tidak menyadarinya? Aku takut pada jawaban yang kedua, tapi jawaban pertama juga menyedihkan.

Kau masih saja terus asik bercerita tentang cintamu, tanpa menyadari ada cinta di depamnu.


"Adakalanya seseorang tidak sadar ada cinta di depannya"

No comments: