Monday, June 6, 2011

percakapan siang itu

siang itu, jam istirahat.
Seperti biasanya aku akan keluar kelas dan duduk di bangku panjang di balkon lantai dua, kelas kita.
Kita berbeda kelas, tidak seperti 3 tahun sebelumnya.
Sekarang dengan putih abu-abu membalut tubuh kita masing-masing.

Siang itu kamu tiba-tiba duduk di sebelahku yang sedang menikmati angin lantai dua sambil memperhatikan sepasang adik kelas yang malu-malu, juga duduk berdampingan di lantai satu.

"Aku bingung, kok bisa sih orang betah pacaran ampe bertahun-tahun, padahal kerjaannya cuman duduk sebelahan dan ngga ngobrol apa-apa," aku memulai percakapan siang itu. Pertanyaan itu keluar begitu saja dan kamu langsung menangkap objek pertanyaanku dan ikut memperhatikan mereka.

"Ya kalo udah pacaran, ngobrolnya ga pake bahasa manusia lagi lah, dek. Dari hati ke hati. Hehehe," kamu menimpali setengah bercanda.

"Beneran deh. Apa aja sih yang mereka omongin kalopun ngobrol? Selera musik beda, sifatnya sama-sama pendiem, kalo jam istirahat cuman duduk-duduk sebelahan dan aku peratiin mereka cuma gitu doang ampe bel masuk," aku ngotot minta jawaban.

"Kalo udah pacaran, apa aja bisa jadi obrolan, dek. Liat semut, semut bisa jadi topik. Liat gentong, gentong juga bisa jadi topik. Bahkan ga ngomongin apa-apapun, cuma duduk sebelahan, rasanya beda lah. Deg degan gimana gitu.. hahaha," masih khas kamu, nimpalin semuanya dengan becanda.

"Ah, ga menjawab. Masih aneh. Masa pacaran cuman diem-dieman? Obrolannyapun ga penting. Gak meaning ah!" aku masih gak mau kalah.

"Yey, makanya cobain dulu dek baru ngerti.. Hahaha.." kamu berkata sambil menarik sejumput rambut panjangku.

"Ah males!" jawabku sambil balas menarik lengan kemejamu. "Pacaran masih belum terlihat penting buat aku. Bedanya apa sama jomblo? Pacaran palingan cuman pulang bareng, nonton, smsan, berantem, nangis. Gitu aja terus. Hih!"

"Makanya, coba dulu, baru ngomong, dudul!" sekarang kamu yang gemas dengan pertanyaan-pertanyaanku meletakkan telapak tanganmu menutupi seluruh wajahku. Kau selalu melakukannya kalau sedang ingin menggangguku. Kemudian aku membalas memukul lenganmu dan kita tertawa bersama.

"Gimana jadinya ya dek kalo kita pacaran? Hahaha" DEG! Kata-katamu sepersekian detik menghentikan detak jantungku. Tidak berlebihan, sepertinya terasa begitu saat itu. Untunglah otakku cepat bereaksi dan yang keluar dari mulutku tawa yang sama, sedikit dipaksakan, tapi aku harap kamu tidak sadar.

"Hahaha. Males banget! Bisa gonjang-ganjing dunia persilatan, nanti!" aku masih tertawa seolah-olah itu memang hal terlucu yang pernah kudengar.

"Iya. Masa cowok pacaran sama cowok ya? Hahaha," kamu membalas.

"Eh, sial. Saya wanita sejati, tauk!"
"Mana buktinya. Liatin buktinya dong dek!"
Jadilah kita berbalas ejekan siang itu sampai bel masuk berbunyi dan kau masuk kelas.

Aku masih belum beranjak. Menerawang, pertanyaan kamu seperti di replay berulang-ulang di kepalaku. "Gimana jadinya?"...

2 comments:

eankecil said...

hahahahhaa...

dirasakan dulu dek..
lebih seru dari jatuh cinta.. halah..
di taru=ik rambutnya aja udah degdekan apalagi kalo ditembak trus di ciumm..lho?
hahahha...

Adhe Fitriana Simbolon said...

nah lo.. udah ngomongin cium-cium aja ih..
aku masih di bawah umur, kakaaak..