Wednesday, December 1, 2010

kebutuhan terbesar manusia adalah PERHATIAN

Setelah ngajar Pasukan Cilik (Anak-anak Jalanan Dago) hari minggu kemarin, pulangnya aku ngobrol-ngobrol sama Nanie. Pas lagi di angkot, dia nunjukkin sebuah Diary.

- Jadi, sebelumnya kami bikin 'diary' buat mereka dari kertas-kertas bekas yang masih ada bagian kosong yang bisa ditulisi. Kami satuin dan jadilah diary kecil-kecilan dimana kami minta anak-anak itu buat nulis apa saja yang mereka alami dan rasakan. -

Nah, diary yang ditunjukkin Nanie itu punya salah seorang Pasukan Cilik yang sekarang entah dimana. Dia seorang cewek umur 16 tahun, namanya Novietha. Aku belum pernah ketemu sama anak yang satu ini karena tiap aku ngajar, dia selalu lagi ga ada. Setelah aku baca, isi diary itu semuanya tentang seorang cowok bernama Dery. Kangennya dia sama Dery, keselnya dia sama Dery, puisinya buat Dery, semuanya Dery.

Trus Nanie cerita kalo dia pernah ngobrol-ngobrol sama Novietha ini. Disitu Novietha curhatin semuanya, termasuk kalau dia pernah hamil dan menggugurkan kandungannya. Nanie juga ceritain keadaan Novietha yang udah 'kacau balau', badannya yang udah 'ga jelas', keluarganya yang udah ga peduli lagi sama dia dan betapa CINTAnya si Novietha ini sama cowoknya dan tentu cowoknya itu sama ga jelasnya.
"Kebutuhan terbesar manusia adalah kebutuhan akan PERHATIAN"

Aku banyak menemukan kasus yang sejenis seperti ini dan aku menemukan benang merah dari semuanya adalah kurangnya perhatian yang seharusnya mereka terima dari sekitarnya.

Waktu SD, SMP, SMA, kuliah, kita pasti pernah punya teman yang 'invisible'. Kata 'teman' saja mungkin kurang cocok dikasih ke orang ini karena bahkan kita gak tau apa-apa tentang dia, hanya KEBETULAN ditakdirkan sekelas. Dia yang mungkin kita sebut 'ansos' kerjanya cuma mojok sendiri di kelas, kemana-mana sendiri, ga termasuk 'geng' manapun di kelas. Ada gak ada dia gak ada bedanya buat teman-temannya yang lain.

Aku pernah punya adek kelas semacam itu. Dia pendiam, gak populer di kalangan teman-temannya, hanya ada. Itu saja. Begitu dia kuliah, yang aku dengar satu semester kemudian adalah, dia kabur sama cowoknya. WHAT THE ... ! Semuanya kaget, termasuk aku. Anak pendiem gitu KABUR SAMA COWOK?

Sebenarnya kita gak usah kaget dengan hal seperti itu. Seharusnya malah kita bisa menebak kalo kemungkinan untuk 'orang-orang-kurang-perhatian' seperti ini memang ke arah sana. Saat dimana dia rasa gak ada yang mau dengar dia, dia gak punya teman yang bisa dicurhatin, dia dapati dirinya cuma jadi lelucon buat orang lain, begitu dia ketemu sama orang yang baik sama dia, dia akan dengarkan orang itu SEPENUHNYA. Ya, sepenuhnya.

Bersyukurlah dia kalau orang yang dia rasa baik sama dia itu beneran baik. Kalo ngga, kejadian seperti di ataslah yang terjadi. Dia dipermainkan, dimanfaatkan dan akhirnya rusak oleh orang yang salah disaat yang tepat.
 Kalo udah kayak gini, siapa yang mau disalahkan? Pacarnya yang BRENGSEK gak baik itu? Orangtuanya? Tuhan? Atau kita yang melihat itu tapi diam saja? Aku rasa sih jawabannya yang terakhir. Mempersalahkan hanya akan buang-buang energi tanpa solusi.

Menurutku, yang bisa kita lakukan sekarang sebagai makhluk yang gak ANSOS, punya kemampuan untuk bergaul dengan orang lain, kalau kita menemukan orang kurang-perhatian kayak gini, jangan ikut-ikutan MENGUCILKAN dia. Bersyukurlah kita tau cara berteman dengan orang lain. Kalau ketemu orang kayak gini, berikan perhatian yang bisa kamu beri. Gak dituntut harus akrab kok (karena mungkin banyak dari mereka suka gak nyambung diajak ngomong bahkan mungkin terkesan gak asik). Cukup buat dia merasa kalau dia gak sendiri. Dia bagian dari komunitas. Sekali-sekali dengarkan ceritanya dia (walau mungkin membosankan). Setidaknya itu memperkecil kemungkinan dia mengenal 'perhatian-yang-salah'. Jadilah orang yang tepat disaat yang tepat.

Aku yakin tu bagian dari rencana Tuhan kita bisa kenal sama dia. Membuka mata kita bahwa perhatian itu penting. Dimulai dari diri sendiri. Beri perhatian kita kepada orang lain 'secukupnya'. Jangan berlebihan, bisa berabe nanti. Hehehe.

Kalau kita merasa gak dapat perhatian yang cukup dari orangtua, kelak kita jadi orangtua, kita tau kan harus bagaimana? Itulah yang namanya belajar diri pengalaman. (SOK BIJAK BANGET YAK GUE?? Gpp lah mumpung lagi waras. hehehe)

No comments: