Thursday, October 7, 2010

Pensieve - flashback memories



Morning, sunshine!

Pagi yang lain datang lagi. Seperti hari kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi dan kemarin kemarin kemarinnya lagi. Setiap hari kita dibangunkan oleh pagi. Pernahkah kamu bosan dengan pagi? Kalau aku nggak. Kenapa? Karena di setiap pagi yang sama aku punya satu harapan bahwa hari ini akan berbeda dengan hari kemarin. Mungkin polanya sama, bangun jam6 pagi, mandi, siap-siap keluar rumah, bla blab bla, pulang lagi, tidur, dan bangun lagi pagi harinya. Tapi setiap hari-hari yang aku lewatkan gak pernah sama.

Segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupanku gak ada yang kebetulan. Aku percaya semua rencana Tuhan. Bahkan pertemuan yang gak lebih dari 5 menitpun pasti ada pengaruhnya sama kehidupanku setelah 5 menit itu. Takdir? Bukan takdir yang kumaksud. Banyak definisi takdir yang aku dengar, kalau maksudmu takdir itu skenario yang dibuat Tuhan untuk kehidupan manusia tanpa manusia punya kesempatan memilih, bukan itu yang kumaksud. Tuhan tidak diktator pada umatNya. Setidaknya itu yang kusimpulkan dari Bible Meditation beberapa waktu lalu dan aku imani itu.

Sekali lagi, tidak ada sesuatu yang terjadi dengan sia-sia. Ini juga yang membuatku  membuat catatan ini. Judulnya, Pensieve. Buat yang udah baca Harpot yang terakhir pasti gak asing dengan istilah ini. Pensieve itu baskom berisi cairan keperakan tempat dimana Dumbledore menyimpan memorinya. Sekarang mari kita bermain dengan Pensieveku. Walau gak seakurat punya Dumbledore, aku akan membawamu ke masa laluku, mengenang semua yang masih menempel di kepalaku, mencoba kembali berempati kepada Adhe Fitriana pada saat itu, walau sebenarnya istilah empati kurang pas karena Aku yang dulu dan aku yang sekarang adalah sama, yang membedakan cuma ruang dan waktu. *GAYA!*


Sebagai permulaan, Aku mau bawa kalian ke masa aku berumur 5tahun. Tunggu, aku sedot dullu memoriku untuk dipindahin ke Pensieve.

Sekarang ayo kita masuk!
Kayaknya cukup banyak yang aku bisa ingat. Aku sedang berada di.. umm… ada plang bertuliskan TK ASAS. Oh iya, ini sekolahku. Kita lagi ada di kota kelahiranku, Bukittinggi, Sumatera Barat. Lihat, itu aku! Umurku masih 5 tahun. Aku bisa membaca dengan lancar. Iya, aku ingat, diantara teman-teman kelasku waktu itu, aku salah satu dari 2 orang yang udah bisa baca. BANGGA.

Eits, lonceng tanda waktunya istirahat.

Aku suka main kejar-kejaran. Aku semangat banget keuar kelas.
Eh, tunggu.. Siapa sih yang lagi aku intip? Haha. Ternyata Rendi. Aku ingat sekarang, ini pertama kalinya aku suka sama cowok. Biasalah, cinta monyet. Cinta bayi monyet sepertinya lebih cocok karena umurku waktu itu masih bau kencing eh kencur. Not literally of course melihat umurku waktu itu dan rasa suka macam apa yang aku rasakan. Rendi itu teman sekelasku. Aku lupa kenapa aku suka dia.

Aduh, kepalaku kena batu. Ternyata yang lempar si Randy. Aku nangis. Guru dan teman-teman ngerubutin aku. Kata Bu Guru, Rendi tadi kaget dan gak sengaja ngelempar batu.
Ah, besoknya dia gak pernah lagi ngomong sama aku. Sepertinya dia merasa bersalah.

LUCU

Aku juga ingat dulu TKku ini punya 2 jam istirahat. Jam pertama dikasih nasi goreng dan kami makan bareng sekelas. Jam kedua kami dikasih roti.

Setahun sebelum aku masuk TK ini abangku juga sekolah di sini. Mungkin dia salah satu siswa berprestasi di sekolahnya, soalnya seingatku ada foto abangku sama seorang anak perempuan guruku dan di foto itu mereka pakai kostum nikahan gitu. Abangku pakai jas hitam, anak perempuan itu pakai gaun putih plus penutup kepala yang biasa dipakai mempelai wanita. Melihat itu, selama bertahun-tahun aku percaya abangku udah menikah sejak kecil.

BODOH sekaligus LUCU

Aku yang kecowok-cowok’an ternyata terbentuk dari kecil. Aku ingat aku alergi sama seorang teman kelas yang pake payung renda-renda, samapi-sampai aku lebih memilih keujanan daripada pakai payungnya.

ANEH

Ah tiba-tiba berpindah ke.. Dimana nih?

Ada perempuan tinggi, kayaknya aku kenal dia. Tapi aku lupa. Dia ngasih sesuatu ke aku. Hah? ROKOK? Aku ingat. Ini pengalaman paling ekstrim yang aku alami di umur 5 tahun adalah pernah mencoba MEROKOK. Yap, anda tidak salah baca, saudara-saudara. MEROKOK. eM E eR O Ka O Ka. Haha.

Perempuan itu nawarin rokok ke aku dan teman-temanku. Merek rokoknya garpit, a.k.a Gudang Garam Filter. Waktu dikasih, aku coba jilat ujung rokok yang warnanya coklat itu dan ternyata rasanya manis. Setelah itu aku coba menghisapnya dan (puji Tuhan) aku langsung batuk-batuk. Sejak saat itu, aku janji gak akan pernah mau merokok lagi.

KAPOK

Ah. Dimana kita sekarang? Aku ingat jalan ini. Kalau gak salah… yap, ternyata bener. Ini sekolahku waktu kelas 1 SD, namanya SDN 08 Pagi Campago Ipuh. Sedikit yang aku ingat. Aku dapat peringkat 2 di kelas yang isinya 18 murid.

Aku juga sempat mudik bareng keluarga besar ke tempat Opung di Samosir selama hampir 1 bulan padahal seharusnya aku udah masuk sekolah. Alhasil, begitu masuk sekolah si Guru bilang: “Ibu kira kamu udah berhenti sekolah. Kok 1 bulan gak ada kabarnya?”. Haha. Memangnya si Mamah ga kasih surat toh. Ckckck.

ADA-ADA AJA

Aku juga inget tiap pagi berangkat sekolah sama Abang. Wah, liat! Aku lagi ngambek. Gara-gara apa ya? Aku lupa. Aku ngelempar sesuatu ke semak-semak! Ternyata uang logam Rp.25. Besoknya, aku nyesel dan berangkat lebih pagi Cuma untuk nyari uang itu. Rp.25 waktu itu cukup berharga soalnya. :)

LUCU

Dimana kita sekarang? Yak, aku inget banget tempat ini. Ini pasti Bandung. Aku Cuma 1 caturwulan sekolah di SD Bukittinggi.

Keluargaku memutuskan untuk pindah ke BANDUNG. Mari kita cari tau bagaimana tahun-tahunku di Bandung.

Aku sekarang kelas 2 SD. Bandung beda banget sama Bukittinggi. Orang-orangnya sombong.

Kelasku lebih banyak penghuninya dibanding kelasku di Bukittinggi dulu. Ketua kelasnya cakep. Hihii. Oh ya, aku suka jajan krip krip. Uang jajanku waktu itu Cuma Rp.100, si abang uang jajannya Rp.200. Licik.

Huaah.. capek juga jalan-jalan di Pensieve. Mari kita keluar! Besok aku janji kita akan jalan-jalan di Pensieve lagi. Dadah! :)

No comments: