Tuesday, October 12, 2010

Lepas MPK

di suatu sore, 2 minggu sebelum tulisan ini di publikasikan.

Selamat sore, mister tidak nyata.
Ah, kau tau tidak. Aku sedang pusing.
Sepertinya kuliahku tidak akan selesai tepat waktu. Banyak yang harus aku ulang. Iya, iya, ini salahku, kau tak perlu memberi tahu lagi. Tadi aku masuk kuliah Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Kata Bu Eka, yang boleh ambil mata kuliah ini hanya yang sudah lulus Mata Kuliah Teori Komunikasi saja. Kau tau, aku tidak lulus mata kuliah itu! Kau mau tau  bagaimana ceritanya? Ah aku malu menceritakannya.

Emm.. Waktu semester 3 mata kuliah ini bertepatan dengan hari sabat, jadi aku harus pindah kelas. Kalau seumpama game, sebenarnya Tuhan sudah memberikan banyak sekali hint buatku. Saat dapat jadwal hari sabat, aku diberi pilihan lain kelas ini yang tidak berkuliah di hari sabat. Dosennya berbeda, tapi Tuhan memberi hintku yang kedua dengan memudahkan perijinan dan aku boleh ambil perkuliahan ini di hari lain. Hint selanjutnya, bahkan dosennya lebih menyenangkan dan baik dibanding dosen yang seharusnya aku dapat. Tapi, hint-hint itu aku buang percuma dan aku tidak  lolos ke level berikutnya ahnya karena aku tidak mengerjakan tugas UASnya yang sebenarnya sangat MUDAH tapi tak kukerjakan karena alasan bodoh, yaitu malas dan kebiasaan buruk menunda-nunda pekerjaan. Tuh kan, ekspresimu begitu. Memang benar, seharusnya aku tidak usah bercerita saja tadi. :(.

Tadi waktu Ibu Eka bertanya siapa yang belum lulus Teori Komunikasi, aku tidak berani angkat tangan. Aku tau adegan apa yang selanjutnya akan terjadi kalau aku mengangkat tangan dan mengatakan aku belum lulus mata kuliah itu. Bu Eka akan bertanya alasan aku tidak lulus, dan aku akan bingung harus menjawab apa. Kalau aku menjawab karena aku tidak ikut UAS, dia akan bertanya lagi kenapa aku tidak lulus UAS. Kemudian aku harus menjawab apa? Malas? :(( Iyaa.. ini salahku. Jadi tadi aku diam saja dan mengikuti perkuliahan itu sampai habis. Aku berniat untuk konsultasi setelah perkuliahan ini berkahir saja. Tapi ternyata Bu Eka sedang terburu-buru, jadi tentu saja aku tidak sempat  lagi berbincang-bincang dengannya.

Langkah selanjutnya yang mungkin bisa aku ambil adalah, mengecek jadwal Teori Komunikasi, berdoa tidak lagi berbenturan dengan hari sabat. Puji Tuhan, ada Teori Komunikasi hari ini, dan mulai sebentar lagi. Tanpa pikir panjang aku tunggu saja kelasnya. Setelah kelas Terkom sebelumnya bubar, aku mendatangi dosennya hendak minta ijin dan ternyata diperbolehkan. Sayangnya, hari itu tidak ada kelas Terkom lagi. Kelasnya dipindah ke hari sabat. Mau tidak mau, aku baru bisa bergabung minggu depan. Tak apalah. Aku harus baca-baca sendiri. Iya, aku berjanji padamu. Semester ini aku akan memberikanmu hadiah nilaiku yang terbaik. Bagaimana, kau senang? Iya, aku akan berusaha menepati janjiku. Sini, kaitkan kelingkingmu dan kelingkingku, tanda aku benar-benar berjanji. Baik, apa sekarang kau mau tersenyum untukku? Terima kasih. Doakan aku ya, mister tidak nyata. Kamu juga semangat ya, kuliahnya! SEMANGAT!!

No comments: