Wednesday, October 6, 2010

Becoming Kugy dan Pasukan Cilik

Minggu, 3 Oktober 2010

Pagi ini, follow the Bible di gereja jam 5pagi. Aku baru berangkat dari rumah jam6 dan sampai di gereja jam 7 kurang. Ternyata acaranya cukup panjang dan baru selesai jam9, sedangkan aku harus mengajar anak jalanan hari ini. Aku bersemangat, tapi aku baru menentukan aku mau mengajar apa, 2 jam lalu. Aku memutuskan untuk mengajar bahasa inggris.

Hey, hari Minggu! Hari ini aku akan menjadi Kugy. Kau tau Kugy kan? Kugy itu salah satu tokoh di buku Dee Lestari, Perahu Kertas. Kugy itu tomboy, tidak mengerti fashion, konyol tapi bersemangat. Seperti aku kan? :) Disitu diceritakan Kugy mengajar sebuah kelompok anak jalanan. Karena dia tidak mengerti tentang anak jalanan dan merasa tidak punya kelebihan apa-apa, dia memutuskan untuk membuat dongeng tentang anak-anak yang dia ajar. Oh iya, dia suka sekali menulis. Dan jenis cerita yang dia tulis adalah cerita dongeng. Dia membuat dongeng tentang Pasukan Pilik. Eh, kok aku jadi menceritakan tentang Kugy? Kembali ke topik. Hari ini aku diminta seorang teman untuk mengajar anak jalanan di Dago juga, SEPERTI KUGY.

Sejujurnya, aku mantap menerima ajakan mengajar ini adalah karena sebelumnya aku membaca buku Perahu Kertas. Disitu diceritakan bagaimana asiknya mengajar anak jalanan, dan aku penasaran bagaimana rasanya. Selain itu, aku berharap seperti di cerita itu, saat Kugy mengajar, pangerannya datang. Keenan. Aku juga berharap 'Keenan'ku datang.

Haha. Aku konyol, bukan? Tak apa, aku menikmati kekonyolanku sendiri.

Kekonyolan ini mengantarkanku ke tempat itu. Di simpang dago, aku menunggu Nanie, teman yang mengajak aku mengajar. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya dia datang. Waktu dia menyeberang, aku lihat dia tidak sendiri. Dia datang bersama beberapa orang anak yang aku bisa pastikan mereka adalah beberapa anak yang nanti juga akan kuajar. Aku deg-degan. Harus bagaimana nih? Sok kenal? Ah, aku putuskan untuk apa adanya.

Aku berkenalan dengan mereka. Mereka tampak sangat akrab dengan Nanie. Mereka asik membicarakan Kang charles, Kang Ayi dan sederet Kang-Kang lainnya. Nama yang asing di telingaku. Pasti itu pengajar-pengajar mereka sebelumnya.

Setelah menunggu satu teman lagi datang, kami berangkat ke lokasi. Lokasi yang aku maksud ternyata adalah sebuah rumah sederhana, tingkat 2 dan ternyata ini biasa menjadi tempat tinggal anak-anak ini.

Waktu aku sampai dan masuk ke rumah ini, beberapa anak sedang sibuk memasak mie instant dan ada seorang bapak yang sedang duduk disana dan menyambut kami dengan ramah khas Sunda.

"Saha ieu teh, Nan" dia bertanya pada Nanie.
"Adhe. Ieu anu bade ngajar barudak ayeuna, Bang" Nanie menjawab sambil memperkenalkan aku dan Oppie.

Menunggu mereka selesai makan dan memulai kelas, aku ngobrol-ngobrol dengan Gita, salah satu dari mereka yang sedang kesakitan. Dia mengeluh sakit perut dari tadi. Kemungkinan maag, atau juga dia akan mengalami haid pertamanya.

Aku menunggu di lantai atas. Aku perhatikan ada sebuah mading yang isinya "cara menggosok gigi yang benar". Di dindingnya ada tempelan dengan tulisan "Yang tinggal disini adalah manusia, bukan monyet! TOlong jaga kebersihan dan kebersihan rumah".

Di sebelah kanan ada sebuah ruangan, sepertinya kamar tidur. Disitu banyak buku-buku yang tertata rapi di sebuah lemari.

Aku penasaran dengan rumah ini.

Setelah aku tanya Nanie, dia jelaskan bahwa rumah ini rumah pribadi milik Teteh dan Abang tadi. Mereka suami istri. Si Teteh adalah lulusan STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) dan suami istri ini memang bercita-cita untuk membuat sebuah rumah yang dapat disinggahi oleh anak-anak jalanan. Si Teteh dan si Abang menyiapkan makanan untuk anak-anak ini dan semua itu dibiayai oleh kocek mereka sendiri. WOW.

Jam mengajar dimulai.
Yang terkumpul hari ini sekitar 12 orang. Kata Nanie, biasanya terkumpul sampai 40 orang. Tapi hari ini banyak yang pulang ke rumah mereka masing-masing dan hanya 12 orang ini yang tidak pulang. Dari ke12 orang ini, ternyata cukup banyak yang sekolah dan ada beberapa yang tidak sekolah dan rata-rata yang sekolah umur SMP dan yang tidak sekolah adalah umur setingkat SMA.

Yang SMP tadi sangat bersemangat belajar bahasa inggris, kalau yang tidak sekolah, malah malu-malu untuk bersuara. Bahkan mereka mencuri-curi kesempatan untuk kabur dari pelajaran ini.

Dengan usia mereka, mungkin mereka malu tidak lebih bisa dari anak yang lebih kecil dibanding mereka. Waktu aku suru spelling nama saja, Sahid yang kira-kira berusia 16tahun luar biasa nervous hanya untuk bilang 'es'. Aku semakin tertarik untuk mengenal mereka lebih dekat.

Anak-anak ini kebanyakan masi punya keluarga dan rumah. Kebanyakan mereka lahir dari keluarga yang sangat miskin sehingga mereka harus mengamen untuk dapat bertahan hidup. Ada juga yang memang tidak pernah dianggap oleh keluarga mereka sendiri sampai akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah.

Meskipun banyak yang memiliki rumah dan keluarga, anak-anak ini lebih senang tinggal di rumah Teteh dan Abang daripada pulang ke rumah mereka sendiri. Beberapa mengaku sering menjadi pelampiasan kekearasan dari orangtua mereka.

Dari ngobrol-ngobrol bersama Teteh dan Nanie, beberapa anak yang mengenyam pendidikan sekoah formal tadi ternyata bukan dibiayai oleh orangtua mereka, melainkan dibiayai oleh Teteh dan Abang bahkan kocek Naniepun baru aku tau, juga ikut membantu biaya sekolah mereka.

Sekolah gratis yang disediakan pemerintah tidak cukup membantu anak-anak yang lain untuk sekolah. Yang gratis kan hanya biaya SPP bulanan saja, tapi biaya seragam, buku, alat tulis dan seabrek perlengkapan lainnya jauh lebih besar dari SPP itu sendiri.

Teteh berkali-kali mengajukan proposal kepada pemerintah setempat untuk meminta bantuan bagi anak-anak ini, hasilnya nihil.

Aku penasaran bagaimana awalnya rumah Teteh menjadi rumah buat anak-anak ini, Teteh menjelaskan kalau tadinya dia hanya membuat perkumpulan Wanita Sartika, perkumpulan bagi ibu-ibu jalanan. Lama-lama, anak-anak mereka senang berkumpul di rumah Teteh dan setiap mereka datang mereka bawa teman mereka dan mereka sering menginap di sana sampai akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu mereka di rumah itu.

"Teteh juga bingung kenapa mereka betah disini. Kalo dibilang galak, Teteh galak kok. Teteh suka bilang kalo ngga mau diatur, silakan pergi dari tempat ini. Tapi gatau kenapa mereka suka balik lagi, balik lagi".

Mungkin mereka merasa tempat itu lebih seperti rumah daripada rumah mereka sendiri

Sehabis ngobrol-ngobrol dengan Teteh, kami masih sempat santai-santai di depan TV sedangkan anak-anak asik nyanyi-nyayi di lantai atas sampai akhirnya kami pamit pulang. Waktu kami mau pulang, anak-anak yang di atas dengan semangat mengucapkan sampai jumpa.

Di perjalanan dari sana, aku merasa tadi itu dunia yang berbeda. Ada kehidupan lain selain kehidupan aku dan diriku. Dunia kami sama, tapi bentuk kehidupan yang berbeda. Selama ini aku seperti menggunakan kacamata kuda dan hanya melihat orang-orang yang lebih beruntung dari aku dan sibuk merasa IRI dan TIDAK ADIL.

Sepulang dari sana, aku merasa sangat jahat untuk kembali menggunakan kacamata kudaku. Aku mungkin tidak bisa mencurahkan perhatian dan waktuku sebanyak yang Teteh dan Nanie bisa. Aku juga tidak punya materi yang cukup untuk membantu biaya sekolah mereka. Tapi aku tau aku bisa melakukan sesuatu sesuai kapasitas yang aku punya, entah hanya bisa mengajar bahasa inggris, matematika, atau sekedar berkunjung yang membuat mereka merasa aku adalah teman mereka.

Pulang dari sana, kami melewati Simpang Dago dan ternyata ketemu dengan beberapa dari mereka yang sudah stand by lagi di Simpang Dago. Begitu melihat kami, dari seberang sana mereka teriak sambil melambaikan tangan. Rasanya indah. Mungkin 'indah' bukan kata yang tepat, aku tidak tau apa kata yang lebih tepat, tapi rasanya sungguh menyenangkan disapa seperti itu seolah kami sudah berteman sejak lama.

Thanks Pasukan Pilikku.
Eh, itu punya Kugy. Aku harus cari nama lain.
Pasukan cilik.
Pasukan berbadan cilik, berjuang untuk hidup yang tidak cilik.
Thanks Pasukan Cilikku.
And anyway, I'm still waiting for my Keenan too.
:)

No comments: