Tuesday, October 10, 2017

Naik Kelas

Hancur. Jadi hancur itu sakit.
Rasanya pengen protes, bangkang, marah.

Tapi bejana perlu hancur untuk bisa dibentuk lagi.
Emas perlu dilebur untuk dimurnikan lagi.

Mungkin aku sedang proses dimurnikan.
Mungkin aku sedang dibentuk.

Rasa kecewa, sakit, sedih, hancur, itu proses hidup.
Anak SD gak selamanya belajar perkalian tiga supaya bisa mengerti aljabar.

Terima kasih ujiannya.
Aku siap naik kelas! ;)

Friday, September 15, 2017

30 Hari di Pengembaraan

Pengembaraan? Hahaha. Ada yang menyebut aku lagi kabur ke Tarsis. Layaknya Yunus yang mangkir dari panggilan Tuhan yang menyuruh dia ke Niniwe. Jadi, aku kabur dari 'panggilan' Tuhan dong? Well, walaupun aku sebel banget dibilang ke Tarsis, cause hey, yang bilang Yunus itu kabur kan Tuhan, bukannya temennya Yunus! Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, mungkin penilaian itu ga 100% salah. Sejujurnya, aku sendiri ga tau bagaimana harus menamai pengembaraan ini. Yang pasti, 50% ini adalah pencarian jawaban dan bentuk aku bergumul bersama Tuhan. 20% karena terdesak. 30% gabungan dari keduanya.

Pengembaraan ini adalah tentang langkah pertama keluar dari comfort zone. 
Pengembaraan ini adalah tentang menetapkan hati dengan lebih dulu membukanya.
Pengembaraan ini adalah tentang mendengar suara Tuhan lebih jelas.

Hari ini terhitung 30+4 hari aku keluar rumah. Tapi udah 3 kali pulang. HAHAHA. Pengembaraan macam apa itu?

Seminggu pertama berjalan dengan berat. Bukan soal adaptasi dengan lingkungan baru, it's been easy and smooth so far. Tapi lebih ke hati yang masih menancap erat di kota kembang. Friends, activities, environment, semuanya ngangenin! Ditambah lagi temen-temen yang ga bosen-bosennya ngirim whatsapp, "Kapan pulang?" "Kakdek di mana?" "Dek balik lagi lah!" "Dek ga bosen di sana?" dan sejenisnya. Ada beberapa yang kirim "Kakdek kangeeeen!" di hari kedua aku pergi. Bzzzzzzzzzzzzzzz.. lebay parah. Hahaha. Tapi rasanya pengen matiin whatsapp deeh. Tiap baca 1 pesan sejenis,  rasanya pengen langsung teleport ke Bandung.Ya, aku selemah itu. :(

Di hari kedua aku pergi, aku belajar soal kangen itu bukan soal jarak, tapi mindset. Kangen itu relatif. Aku dan beberapa teman memang gak bertemu tiap hari. Paling 2x atau 3x seminggu. Tapi ketika dalam pikiran orang itu udah pergi jauh, 1 hari rasanya lama banget dan jadinya kangen deh. Begitu juga sebaliknya. Kalau si orang itu ga bilang kalau dia pergi jauh, ga ketemu tiap hari juga biasa aja, toh dalam pikiran mereka masih mengira berada di kota yang sama.

Kayak kemaren misalnya, ada seorang teman yang memutuskan untuk lanjut kuliah ke tempat yang jauh. Keesokan harinya setelah nganter ke bandara rasanya sedih banget dia udah pergi jauh. Padahal kita masih chat seperti biasa lewat whatsapp dll. Setahun setelah itu dia balik ke indo, langsung semangat banget buat ketemuan. Sementara sebelum dia berangkat ke tempat jauh itu, kota kita cuma 3 jam perjalanan, setahun ga ketemu juga biasa aja toh mikirnya bisa janjian setiap saat padahal wacana itu ga pernah terealisasikan. HAHA

Ya begitulah kira-kira. Dan itulah alasan aku ga gembar-gembor aku bakal tinggalin Bandung. Biar masih berasa deket. Dan biar ga perlu farewell-farewell-an dan nangis-nangisan. Aku mah da apa atuh, cengeng banget orangnya. :(

Hari kedua ini emang penuh drama banget. Pagi-pagi conference call prayer, pada heboh banget nanyain aku di mana. Tebak-tebak berhadiah semua. Beberapa orang whatsapp ngasih-ngasih kutipan untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini. Hari H mau berangkat bahkan ada yang nelepon 2 jam mau interogasi aku ke mana dan bilang ga usah pergi. Drrraaaamaaa abissssss. Kalo sampe aku baper orang-orang ini HARUS TANGGUNG JAWAB! Dan aku emang baper. :(

Ah jadi ga mau nerusin.. 
HAHAHA.. Udah ah bye!





Tuesday, August 1, 2017

You Have My Heart



The people that fills my heart with joy since the beginning of this year. 2017 been so wonderful with them. To see them every Monday, Thursday and Sunday, sometimes on Tuesday, and often on Sabbath too. God never fails to amaze me in the way He gave me companions. Been blessed beyond measure! <3

Tuesday, February 14, 2017

Why?

Most vegetarians called as fanatic by posting vegetarian foods or vetarian advantages on social media. But everyone is fine with all non-vegie and I-eat-whatever-I-want-to-eat kinds of post on socmed. Why?

People who post religious songs or quotes on socmed, mostly called as sok alim while other people are fine with those non-religius posts on their social media. Sarcasms, mockeries, complaints, anything. Why?

Tuesday, October 25, 2016

Menikah. Ciyee..

Menikah. Satu kata yang sakral, tapi kayaknya udah jadi perbincangan receh untuk jaman sekarang. Apa nilainya udah berubah? Atau emang udah dari dulu begitu cuma aku aja yang berubah? Entahlah. 

Kenapa tiba-tiba pengen ngomongin nikah? Sebenernya nggak tiba-tiba sih, udah dari dulu cuma jadi benar-benar direalisasikan setelah kejadian 2 minggu lalu di Samosir.

Jadi 2 minggu yang lalu opung boru meninggal dan aku ikutan pulang kampung setelah terakhir ke sana 4 tahun yang lalu. Seneng sih, tapi sedih karena pulangnya dalam rangka kedukaan. Dan, sedihnya lagi aku satu-satunya cucu perempuan yang pulang dan ikut acara pemakaman sampai habis. Sebenernya ada cucu perempuan satu lagi yang pulang, tapi, nah ini dia topiknya, dia sudah menikah. Well, hampir semua sih cucu perempuan opung yang (katanya) cukup umur udah pada married. Tinggal aku lah yang tertua di antara para cucu perempuan yang belum menikah. Dan di sinilah topik itu dimulai.

Sebenarnya sejak aku menginjakkan kaki di rumah duka, itu udah jadi topik hangat.

"Kamu sendiri ke sini, Dek? Mana kawanmu?"
"Kawan-kawan ya di rumahnya, bou. Masa ikut-ikut ke sini? Hehehe.."

"Kapan kita pesta?"
"Kan besok kita pesta, nanguda."
"Pestamu lah.."
"Hehehe.." *melipir

"Marga apa calonnya Adek?"
"Masih dirahasiakan yang Maha Kuasa, nanguda."

"Adek, cepat-cepatlah ya biar namboru ke Bandung."
"Namboru ke Bandung aja sini main-main."
"Harus ada acara lah.."
"Tinggal dibikin acaranya, namboru. Isni bentar lagi wisuda."
"Acara kamu lah, menikah."
Dhuar. Skak mat. Kode-kodean berakhir.
"Hehehe sabar-sabar aja namboru, belum saatnya."
"Sudah saatnya dong, Adek kan udah 27. Udah harus menikah itu."
"Jangan dipaksa umur lah, namboru. Tunggu waktunya Tuhan aja."
"Makanya Adek jangan cuek-cuek lah. Jangan tinggi-tinggi standardnya. Lirik-lirik sedikit. Gak ganteng-ganteng banget juga nggak apa-apa lah, asal baik dan beriman."
"Amin, namboru. Doakanlah."
Penutup yang manis? Ternyata tidak.
"Iya, selalu namboru doakan kok. Tinggal Adeknya aja buka hati."
#eaaaaak skak mat lagi.

BEgitulah setiap hari selama di Samosir. Adaaa aja nyerempet-nyerempet ke sana. Hingga detik-detik menunggu travel menjemput. Gak tanggung-tanggung, dibicarakan di depan semua keluarga besar.

".... bla bla bla.. Adek, kamu adalah salah satu cucu opung yang cukup umur untuk menikah. Bapauda sarankan, segeralah. Doakan itu khusus, jangan sampai kelamaan. Wanita nggak bagus lama-lama, bisa jadi perbincangan orang. bla.. bla.. bla.. Oke, travelnya sudah mau datang, mari kita berdoa."

Fiuh, tinggal berdoa.

Tapi.

Di dalam doapun disebutkan lagi.


"... Anak kami Adek sudah cukup umur untuk menikah. Kiranya berikanlah Ia jodoh yang tepat untuk dapat melengkapi hidupnya, menemaninya dalam pelayanan.. dst.. dst.."

Sampe apal. Sepupu di sebelah udah nahan-nahan ketawa. Hmmmmmmm... Good job, bapauda.

*menangis di pojokan*

Mungkin kerinduan keluarga besar supaya aku menikah ini sudah membuncah ya, sampai-sampai pas bapauda datang ke Bandung seminggu kemudian, ini kembali menjadi topik. Di renungan pagi.

"Adek, boleh pimpin ya renungannya."
Waktu itu renungannya tentang Yesus disalibkan, di mana Yesus sudah menyelesaikan tugasnya di bumi ini, hingga akhirnya bisa mengatakan, "It is finished." 
"Jadi, sebagaimana Yesus di dunia ketika hidup mempunyai misi, yaitu melakukan kehendak Tuhan, begitu juga kita. Kita hidup bukan tanpa tujuan, ... mengabarkan injil.. bla bla bla.. Ada tambahan?"
"Oke, uda mau sedikit menambahkan."
Duh, perasaan saya tidak enak.
"Sebagaimana Yesus juga memiliki misi dalam hidupnya, kitapun demikian. Ada proses-proses yang harus kita jalani. Mulai dari lahir, sekolah, kuliah, bekerja, menikah.."

Ehmmmm...

Tidak usah diketik di sini lagi deh ya. Sama kayak di atas kok. Mungkin bapauda belajar teori media exposure ya. Harus diulang, diulang, diulang supaya akhirnya terhipnotis. Oke, saya menikah. Well, not yet, bapauda. Nice try.

Well, aku juga agak merasa bersalah sih. Aku adalah korban pertanyaan "Kapan wisuda?" yang akhirnya tanpa sadar ikut membalas dengan "Kapan nikah?" Untung kalau ada pemakaman aku masih bisa menahan diri untuk nggak bilang, "Kapan nyusul?"

Iya, itu nggak lucu. :(

Jadi, kapan aku menikah? Ya kalau sudah waktunya. Menikah itu keputusan sekali seumur hidup. Menyangkut kehidupan sekarang dan yang akan datang. (ciyeh gitu..) Kalau salah, ga bisa diundo. Ya kan?

Kemaren aku ketemu seorang temen. Kakak-kakak sih tepatnya.

"Kak, mau ke mana? PA yuk."
"Ga bisa euy, aku mau ke rumah si X. Aku biasanya sekali seminggu memang ke rumah dia."
"Ngapain kak?"
"Ya nemenin dia aja, kasihan sendirian."
Aku lupa bagaimana percakapan kami persisnya seperti apa (maafkan penyakit short-term memory aku please..), intinya sih dia bilang si X ini udah menikah.
"Oh udah menikah? Suaminya ke mana kak kok aku gak pernah lihat?"
"Entahlah udah sama cewek lain, gak jelas."
"Oh jadi mereka udah nggak tinggal bareng?"
"Ngga. Huhuhuu.. Aku kapan ya nikah?" (Fyi, usia kk ini kayaknya hampir 40)
"Tenang aja kak, ada waktunya."
"Dia udah nikah, aku belum. Huhuhuu.. Aku kan pengen juga."
"Ya sabar aja kak, mending belum menikah kan dari pada berakhir kayak gitu?"
"Tapi kan yang penting udah menikah, aku belum.."
"Kakak lebih memilih menikah tapi gak bahagia dan bahkan ditinggalkan dari pada single gini?"
"Enakan menikah lah.."

Well, aku nggak ngerti sama jalan pikirannya kk ini. Masih aja ngiri sama temennya yang menikah walaupun ditinggal dari pada mensyukuri ke-single-annya dan waktu yang masih dia punya untuk meminimalisir kegagalan di masa depan. Entahlah, mungkin dia sudah terlalu tertekan dengan teman-teman seumurannya yang udah pada menikah dan mungkin juga sudah bosan dengan pertanyaan "Kapan nikah?" dari orang-orang sampe-sampe berpikir lebih baik menikah dan gagal daripada tidak sama sekali. Ck. Ngeri uga.

Yes, menikah adalah keputusan seumur hidup, menyangkut kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Menikah bukan tanaman yang bisa dikarbit. Menikah gak semudah bikin vector di Adobe Illustrator yang kalau salah tinggal ctrl-Z sesuka hati. Aku sudah melihat terlalu banyak contoh pernikahan yang 'dipaksakan' dan gak sedikit berakhir dengan perceraian. Banyak juga contoh pernikahan tanpa perceraian tapi sangat terlihat 'mencoba bahagia'. Mencoba bahagia kan menguras energi juga yak. *ciyee pernah..*

Aku sih lebih memilih menikah 'terlambat' dari standard 'sosial' dari pada dikejar umur yang membuat sisa hidup penuh penyesalan. Aku tau maksud baik dari para orang tua yang terkesan mendesak anak-anaknya segera menikah setelah mencapai usia tertentu. Tapi, please sekali dua kali cukup lah. Percayalah, anakmu juga sedang mendoakan yang terbaik. Aku lebih gak mau orang tuaku malu karena pernikahan anaknya berantakan dari pada anaknya menikah lama. Tidur dengan lampu mati apa nyala aja bisa jadi masalah, belum lagi soal nanti nikahnya gimana, tinggalnya di mana, anaknya dibesarkan dengan cara gimana, duit siapa yang megang, ngatur duitnya gimana, ini masaknya gimana? HAHAHA. Dan gimana-gimana lainnya. Aku juga gak bisa menjamin pernikahanku nanti seperti apa, tapi berusaha meminimalisir kegagalan itu. Buat para orang tua, bersabarlah. Dan janganlah lelah mendoakan.

Untuk yang suka nanyain "Adek kapan nikah?", jika kalian becanda, bertobatlah. Iya aku juga suka nanyain gitu ke orang, aku juga mau tobaaat. :( Menikah itu bukan becandaan. Kalau benar-benar menginginkan teman segera menikah, bantulah. Kenalin sama yang baik-baik. Taulah ya, baik maksudnya gimana. Dan kalau bisa ganteng-ganteng. Hihihiii.. Kalau udah umur 25 ke atas, jangan lah dicengcengin gitu. Atau digosipin gitu. Dicengcengin bisa baper loh. :( Digosipin bikin hubungan rusak loh. :(
(haduh, aku jadi kelatahan pake emot Andre!)

Biarlah semua mengalir apa adanya. Walaupun sampai sekarang akupun masih belum ngerti bagaimana mengawali sebuah hubungan seperti itu. Tapi seiring berjalannya waktu, Tuhan pasti kasih pencerahan kan. Mungkin aku sudah berbeda dengan aku yang beberapa tahun lalu. Aku dulu masih berpikir menikah itu nggak begitu penting. Nggak menikah juga nggak apa-apa. Tapi aku sekarang aku tau, ini bukan hanya tentang aku. Ini tentang keluargaku, teman-temanku, pelayananku, yang nggak bisa selama-lamanya begini terus. Tuhan sudah menciptakan pasangan bagi Adam, menjadi penolong buat dia. Aku nggak bisa egois hanya menolong diriku sendiri. Aku harus jadi penolong buat orang lain. Yah, walau sampai sekarang aku masih berpikir, aku bisa nolong apaa? Ada juga nambahin kerjaan. 

Tapi aku sudah mulai melihat betapa indahnya Tuhan merancang pernikahan itu. Punya partner pelayanan yang bisa saling mengandalkan, ada temen doa bareng, temen belajar Alkitab bareng tiap hari, temen curhat, temen yang mau dengerin ide-ide konyol kamu, temen yang menerima kesalahan kamu dan sabar menunggu kamu belajar berubah, temen masak dan beres-beres rumah (please yang jago masak, please..), temen cuci piring, temen hiking (please banget, Tuhan...), dan yang terpenting, temen untuk sama-sama bertumbuh di dalam Tuhan. Aduh. indahnya pernikahan itu. *Tolong jangan ada yang ingetin soal bayar listrik dan sakitnya melahirkan, tolong*

Yes, I want to get married someday. But until the day comes, please stop asking and start praying. And helping. Hehehehehe... Oke, ini tulisannya udah kepanjangan. Mari kita akhiri segera dengan ikrar SAYA AKAN BERHENTI NANYA ADEK KAPAN KAWIN DAN BAKAL NGEDOAIN ADEK DAPET JODOH YANG SEPADAN. DAN SUKA MEMIMPIN SEKOLAH SABAT. DAN SUKA HIKING. HEHEHE... DAN SUKA MASAK. DAN BISA MELAHIRKAN. Eh itu ga bisa ya? Ya udah deh. YANG SUKA BANGUN PAGI. DAN SUKA PIZZA. Hihiw... Mantips.

AMIN YA ROBBALALAMIN...